sdks/OneSignalSDK.js'/> Inilah 2 Jenis Wisata Yang Tidak Syari di Yogyakarta - Tribun Islam

Inilah 2 Jenis Wisata Yang Tidak Syari di Yogyakarta


Yogyakarta merupakan salah satu provinsi dengan banyak obyek wisata menarik. Jenis wisata yang ada di Jogja pun amat beragam, mulai dari wisata pantai, gunung, budaya, sejarah hingga wisata pendidikan. Maka tak heran ada banyak wisatawan, baik lokal maupun asing yang mengunjungi Yogyakarta sehingga provinsi ini menjadi salah satu destinasi favorit wisata terbaik ke 2 di Indonesia setelah Bali.



Disatu sisi adanya banyak obyek wisata menjadi peluang bagi para penyedia jasa paket wisata di Jogja, namun sebagai seorang muslim kita juga perlu memperhatikan aspek syari saat berwisata. Karena kehidupan yang bernuansa kapitalisme saat ini, tak jarang ada obyek wisata yang sangat vulgar bertentangan dengan syariat. Berikut ini beberapa spot wisata Jogja yang tidak syari yang perlu kita ketahui bersama.

Pasar Kembang

Manusia memang diciptakan memiliki naluri untuk melestarikan jenis. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa manusia memiliki syahwat. Namun hal itu tidak memaksa orang untuk berbuat zina, semua adalah pilihan individu tersebut. Dalam kehidupan saat ini yang pengaturan tentang zina sangat kendor, peluang tersebut dimanfaatkan untuk menawarkan jasa prostitusi. Pasar kembang merupakan salah satu tempat dimana banyak terdapat jasa prostitusi disana. Agaknya kita perlu ingat kembali hadist terkait zina dibawah ini untuk bahan instropeksi kita bersama.

“Tidaklah (suatu kaum) menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan,” (HR. Ibnu Majah)

“Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan adzab secara merata kepada mereka,” (HR. Abu Dawud)

Diskotek

Adanya jumlah mahasiswa yang masuk dalam jumlah besar di Yogyakarta merupakan peluang bagi siapapun, termasuk bagi orang yang menjajakan minuman keras. Untuk generasi milenial hal tersebut dikemas dengan entertain Disk Jockey atau DJ. Sehingga menjamurnya diskotek di Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri untuk mahasiswa dan wisatawan yang hadir. Apakah miras itu halal? Tentu tidak, semoga hadist seputar dosa miras ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua.

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada meja makan yang di situ dihidangkan khamer (minuman keras)”. (HR. Ahmad 1/20, Irwaaul-Ghalil 7/6-8 no. 1949)

“Duduk dengan mereka (jamuan yang ada khamer) akan menjadi wasilah/sarana bergabung dan ikut-ikutan dengan mereka melakukan perbuatan yang sangat jelek atau ini adalah bentuk ridha pada mereka.” (http://www.binbaz.org.sa/fatawa/3214)

Sikap Seorang Muslim

Selain dua contoh jenis wisata diatas, ada juga jenis yang lain seperti sesajian di gunung ataupun laut. Bagi kita sebagai seorang muslim, selayaknya tidak mengunjungi dua jenis wisata tersebut karen takut akan siksa Nya. Kemudian tidak cukup dengan itu, kita juga bisa memberikan nasehat kepada orang2 yang kita kenal akan pentingnya hidup dalam naungan sistem Islam. Yang mana jika dalam kacamata sistem Islam, zina dan miras tidak menjadi hal yang bisa dijadikan obyek wisata. Wallahu alam bishowab

Suryono (warga Jogja pemerhati masalah sosial)[www.tribunislam.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel