Soal Dahnil, Jokowi Sedang “Berjudi“


Tebang pilih adalah kebijakan rezim untuk mematahkan lawan. Soal sorotan keadilan menjadi sangat terabaikan. Yang penting kartu lemparkan. Judi memang berharap untung dari main untung untungan.



Kartu yang Jokowi lempar saat ini adalah Dahniel Simanjutak, kader muda Muhammadiyah. Oh itu masalah hukum, bukan urusan saya. Rakyat tertawa, ah lu ngeles aja, kodok pun tahu sekarang ini hukum lagi jadi mainan politik.

Ada dua persoalan dari krimimalisasi ini. Pertama uang 2 M adalah biaya kegiatan Kemenpora. Periksa awal ya Menteri yang buat program dengan alokasinya. Kedua, dana 3,5 M untuk Ansor, nah lempar dong kartu Yaqout. Tapi ya begitu, karena ini persoalan politik, hukum juga kini sangat cerdas memilah dan memilih. Disini aparat memang sedang tidak menjadi alat negara, melainkan tukang pukul penguasa.

Dahniel sebagai tokoh muda umat yang tak berpihak pada rezim pantas untuk disasar, ia kritis dan punya karakter. Harapan untuk menarik ke lingkaran penguat kekuasaan tak berhasil. Jalan yang diambil berbeda dan dinilai berseberangan. Ia tentu meyakini rezim tak pantas dibantu karena penambahan periode hanya menambah beban bagi rakyat. Tak ada cercah kebahagiaan yang diharapkan ke depan.

Dahniel menjadi satu dari jutaan rakyat yang berpandangan sama dan bersikap skeptis pada kepemimpinan yang ada.

Tidak seperti yang lain, Dahniel bukan si maju tak gentar membela yang bayar, Pemuda Muhammadiyah kembalikan ke Menpora uang kegiatan. Baguslah, ternyata ada fitnah di balik program. Skenario atau kebetulan. Yang jelas Dahniel telah dijadikan kartu yang seolah olah ditemukan.

Tapi tunggu dulu, kegembiraan bisa sesaat. Akan ada blunder blunder lanjutan dari si gambler. Yaqouts yang tak disentuh adalah kartu mati. Menpora Nahrowi jika diduga ikut bermain akan menjadi pemati kartu. Lalu apakah Jokowi sedang bunuh diri, atau ada yang sedang memain-mainkan..?

Biarlah Dahniel membentuk kapasitas diri lewat ini. Anggap sebagai bagian dari tempaan kepemimpinan. Sabar dan lewati. Sepanjang jujur kita melangkah, orang tak percaya pada fitnah. Ketidak adilan dalam sejarah terbukti berujung azab Allah.

Sementara sang penjudi, biarlah tak tidur memikirkan segala cara untuk menang. Pilihan hanya dua, menang dengan curang atau pulang pucat dan kusam. Pening banyak hutang...Laa salaam walaa kalam. Bungkam.

Oleh: M. Rizal Fadillah [www.tribunislam.com]

Sumber : voa-islam.com

Sebarkan...