Siap Mubahalah, Ahmad Dhani Pastikan Cuitannya Bukan ke Ahok

Siap Mubahalah, Ahmad Dhani Pastikan Cuitannya Bukan ke Ahok

Musisi Ahmad Dhani menjalani sidang pemeriksaan terdakwa kasus ujaran kebencian. Ahmad Dhani mengakui salah satu Tweetnya soal penista agama dia yang buat, tak merujuk pada Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, Dhani pun siap sumpah mubahalah atas pengakuannya di persidangan.


Awalnya persidangan sedianya akan memeriksa keterangan ahli yang meringankan dari pihak Dhani, tetapi karena Fadli Zon yang akan dihadirkan tak hadir maka persidangan langsung memeriksa terdakwa. JPU Sarwoto menanyai Dhani mengenai cuitannya yang berbunyi 'siapa saja dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya'.

"Ya itu buatan saya menurut sesuai BAP, dari HP saya kirim ke Bimo," kata Dhani, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018).

Dhani menjelaskan terkait cuitan itu, menurutnya pelaku penista agama merupakan penjahat sehingga pendukung penista agama juga dimaknai penjahat. Ia mengumpamakan bila ada pelaku kejahatan seksual, ada pendukungnya maka dia juga termasuk penjahat.

"Maksudnya bajingan yang perlu diludahi mukanya apa?" tanya jaksa.

"Ya karena penista agama itu bajingan. Pendukungnya ya bajingan juga. Misalnya ada pelaku pelecehan seks itu pendukungnya bajingan juga. Pelaku pengedar narkoba yang mendukung siapapun itu bajingan juga," kata Dhani.

Namun Dhani mengatakan maksud kata penista agama dalam cuitan itu tidak merujuk pada siapapun termasuk Ahok, melainkan pada siapa saja pelaku penista agama. Dalam persidangan itu Dhani juga mengaku berani bersumpah di atas Alquran.

"Sebenarnya dalam bahasa saya jelas, siapa saja. Jadi siapa saja itu ya siapa saja. Tidak harus pendukungnya Ahok. Siapa saja yang mendukung penista agama karena di situ memang saya niatkan tulisan itu untuk semua orang. karena di dalam redaksinya pun memang siapa saja," ujarnya.

"Jadi kalau saya boleh di kasih Alquran di atas kepala saya atau bermuhasabah (Dhani meralat menjadi Mubahalah-Red) bahwa kalimat itu tidak hanya di tujukan kepada pendukung Ahok tapi pada semua pendukung penista agama saya siap bermuhabalah dengan siapa saja yang berani melawan saya bahwa apa yang dikatakan itu adalah untuk pendukung penista agama, bukan mereka yang melaporkan saya. Saya berani bersumpah bahwa itu ditujukan pada semua penista agama kalau saya bohong bisa saya mati kesambar petir dan keluarga saya nggak selamat," ungkapnya.

Kemudian jaksa bertanya lagi ke Dhani mengenai pengetahuannya soal kisaran bulan Februari hingga Maret 2017 kasus apa saja terkait penistaan agama yang diketahuinya. Namun Dhani menjelaskan bila telah keluar fatwa MUI mengenai kasus dugaan penista agama maka kasus itu akan berlanjut di kasus pidana, hal itu merupakan pengalamannya pribadi saat terjerat kasus dugaan penistaan agama.

"Jadi saya harus menjelaskan, sebelum sampai ke Februari-Maret begini. Saya adalah orang yang pernah menjadi tersangka penistaan agama di tahun 2005. Saya pernah dilaporkan dan menjadi tersangka Yang mulia. Lalu yamg menjadi Kasubditnya waktu itu Kamneg namanya sodara Tito Karnavian, lalu Tito Karnavian bilang kepada saya, 'kasusnya mas Dhani ini tergantung MUI, kalo MUI bilang mas Dhani masuk unsur penistaan agama, maka kasus ini P21," ujar Dhani.

"Maka dari itu bulan Oktober 2016, MUI mengeluarkan pernyataan bahwa Ahok telah menistakan agama, buat saya secara konstruksi hukum, Ahok pasti didakwa dan menjadi terpidana. Karena itu Konstruksi hukum yg saya pahami berdasarkan pengalaman saya menjadi tersangka penista agama. Sehingga di bulan Februari itu, buat saya Ahok adalah penista agama, cepat atau lambat," imbuhnya.

Sementara itu mengenai dua cuitan Dhani lainnya yang berbunyi 'Yang menistakan agama si Ahok...yang diadili KH Ma'ruf Amin', Dhani mengaku bukan dia yang menulis cuitan itu. Selain itu Dhani juga mengaku bukan orang yang menulis cuitan yang berbunyi 'sila pertama ketuhanan YME, penista agama jadi Gubernur kalian WARAS?'.

Menurut Dhani kedua tweet tersebut ditulis oleh orang lain yaitu Rahmat dan Memet sebagai pihak yang disuruh memantau grup Whatsapp politik. Dhani meminta keduanya mengupload berita ke grup dengan syarat bukan hoax maupun berita bohong. Keduanya selalu mengikuti kegiatan Dhani saat berkampanye di Pilkada saat itu.

"Selalu yang ikut saya di kecamatan manapun selalu ada Memet dan Wardoyo," kata Dhani.

Sebelumnya Ahmad Dhani didakwa dengan Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). [www.tribunislam.com]

Sumber : portal-bersama.com, detik.com

Sebarkan...