Cerita Peserta dari Lamongan Didatangi Polisi Pra Reuni 212

Cerita Peserta dari Lamongan Didatangi Polisi Pra Reuni 212

Beberapa hari menjelang Reuni 212, sejumlah upaya dilakukan untuk menghalangi peserta hadir dalam acara tahunan tersebut. Terutama peserta dari daerah. Sebagaimana yang dituturkan Sekretaris Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (GAMAN) Abu Nusaibah.


Dia mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan upaya penghalangan dan ancaman dari kepolisian. Bahkan beberapa hari yang lalu, ia dan kelompoknya selalu didatangi anggota intel bahkan Kapolres.

“Kemarin kita itu selalu didatangi sama intel, didatangi bahkan sama Kapolres langsung. Mereka datang untuk meminta kita ini tidak berangkat ke sana (Jakarta). Ini kita sempat diancam,” katanya melalui sambungan telepon pada Kamis (29/11/2018)

Abu Nusaibah menjelaskan, pihak kepolisian khawatir akan terjadi kerusuhan-kerusuhan. Terlebih adanya isu bahwa akan diadakan acara tandingan di Masjid Istiqlal ketika Reuni 212.

“Jadi, itu dijadikan alasan akan terjadinya benturan. Akan sangat dikhawatirkan adanya kerusuhan kerusuhan itu,” katanya menuturkan pernyataan Kapolres. Abu Nusibah mengatakan pihaknya tidak akan membuat kerusuhan jika tidak dimulai dari pihak yang lain.

Selain itu, dia mengklaim bahwa polisi akan memutus akses tranportasi dan melakukan intimidasi Perusahaan Otobus (PO) Haryanto. Padahal, lanjut dia, pihak PO Haryanto telah sepakat dengan pihak GAMAN untuk memberangkat 150 peserta dengan DP Rp9 juta untuk tiga bus.

“Laporan dari manajemen PO Haryanto sebenarnya mau, tapi semakin dia menolak ternyata semakin keras juga ancamannya. Bahkan trayek dan surat izin pariwisatanya mau dicabut,” ungkap Abu Nusaibah.

“Dibatalkan, dan semua DP Rp9 juta dikembalikan ke kita, nggak berani berangkat karena diancam. Nah kemudian kita beralih bus, dan beralih bus di sini pun diancam-ancam juga,” tuturnya.

Di sisi lain, Abu Nusaibah juga mengatakan bahwa pihak kepolisian memberi iming-iming kepada GAMAN dengan berbagai tawaran menarik, asalkan tidak mengikuti acara tersebut.

“Ada tawaran umroh, ada tawaran piknik dan sebagainya. Semuanya dibiayai sehingga semuanya gratis, nginep di hotel pun gratis. Asalkan kita ini tidak berangkat ke Jakarta,” jelas Abu Nusaibah.

Kendati demikian, ormas yang didirikan di Paciran Lamongan ini berkomitmen untuk tetap mengikuti acara Reuni 212. Jika tetap dihalang-halangi, pihaknya akan menempuh jalan negosiasi.

“Kita berazzam untuk tetap bertahan ketika nanti ada pengadangan, kita semaksimal mungkin selama mereka tidak memakai kekerasan, ya kita tetap bisa bernegosiasi lanjut sampai ke Jakarta. Tapi ketika itu sudah sampai kepada kekerasan, ya nanti kita ikut komando dari para ulama bagaimana kita menghadapinya,” ujarnya.

Abu Nusaibah mengaku sangat menyayangkan upaya-upaya yang dilakukan untuk menghalangi para peserta hadir dalam Reuni Akbar 212. Terutama yang melakukan pihak kepolisian. “Karena memang terlihat dari pihak aparat tidak kemudian memberikan keamanan justru lebih memberikan penekanan,” tukasnya. [www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...