Kisah Suratno: Doa Ibu Menyelamatkannya dari “Isapan” Lumpur


Kisah Suratno: Doa Ibu Menyelamatkannya dari “Isapan” Lumpur

Dalam setiap bencana, tersirat sejumlah hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil. Salah satunya dari saksi hidup gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo yang disusul gelombang tsunami di Palu, Jum’at (28/9/2018) lalu.


Salah seorang korban yang selamat dari gempa Palu, Suratno, berkisah. Suratno bersyukur dirinya selamat beserta istri dan kedua anaknya. Suratno meyakini, dirinya selamat itu bukanlah hal yang kebetulan.

“Saya enggak tahu itu apa tapi kontur daerah saya menanjak. Tanah, pohon, berair, lumpur seperti longsor menyerang,” kata Suratno dalam acara Indonesia Lawyer Club tvOne, Selasa malam, (2/10/2018).

Suratno sendiri adalah salah satu warga yang selamat dari terjangan lumpur akibat pergerakan tanah atau likuifaksi.

Perumahan dimana dirinya tinggal, yakni di Petobo, Palu, amblas ditelan lumpur pascagempa. Bagi Suratno, selamatnya dia dari bencana mematikan ini karena tak lepas berkat doa ibunya yang berada di Pulau Jawa.

“Hal yang menurut saya yang menyelamatkan saya adalah doa ibu,” katanya dengan suara berat.

Dua hari sebelum gempa, tepatnya Rabu, 26 September 2018, tutur Suratno, dia teringat dengan ibunya saat di tempat kerja. Ia pun segera menelpon, meminta doa agar diberikan keselamatan meski waktu itu tidak mengetahui akan terjadi tsunami.

“Saya menangis karena teringat wajah ibu saya. Posisi ibu saya ada di Cilacap. Ibu bertanya kenapa menangis, saya juga tidak tahu kenapa saya ingat sekali dengan ibu. Saya bilang tolong saya dikirimi doa Alfatihah pagi dan sore agar selamat. Saya tidak tahu kenapa, gitu, saya pengin begini saja,” ujarnya pilu.

Suratno berjanji akan memeluk serta mencium kaki ibunya ketika bertemu nanti. Pada saat tsunami, Ia mengaku hampir saja tidak selamat karena air sudah meninggi.

Namun ketika itu, Ia berhasil menginjak atap rumah yang lebih tinggi, di saat yang sama daratan sudah mulai ditenggelamkan tsunami.

“Allah memberikan selamat kepada saya. Saya berjanji akan memeluk dan mencium kaki ibu saya. Saya tidak bisa bayangkan kalau saya tidak selamat. Ada rasa campur aduk, Alhamdulillah saya bisa duduk di sini dan sedikit bercerita bisa diberikan cobaan,” kata dia.

Selain itu Suratno berpesan kepada seluruh masyarakat untuk tidak melanggar apapun agar bencana tidak menimpa negeri ini. Ia menyebut kondisi masyarakat Palu dan sekitarnya mendapatkan ujian berat namun harus sabar.

Ia pun meminta agar tak menggunakan istilah penjarahan bantuan karena harus dimaklumi. Kondisi masyarakat di Palu dan sekitarnya memang sangat memerlukan bantuan. [] [www.tribunislam.com]

Sumber : islampos..com

Sebarkan...