Turki Tetapkan Hay'at Tahrir Al-Sham (HTS) Sebagai Organisasi Teroris


Turki Tetapkan Hay'at Tahrir Al-Sham (HTS) Sebagai Organisasi Teroris

Turki telah menunjuk kelompok pejuang oposisi Hay'at Tahrir Al-Sham (HTS)  sebagai organisasi teroris, menurut keputusan kepresidenan yang diterbitkan pada hari Jum'at (31/8/2018), ketika Damaskus bersiap untuk serangan militer di Suriah barat laut tempat kelompok itu berbasis.


Pemberitahuan dalam Lembaran Resmi negara itu menyusul keputusan oleh PBB pada bulan Juni untuk menambahkan HTS ke dalam daftar orang dan organisasi yang asetnya harus dibekukan karena kaitan dengan kelompok pejuang Al-Qaidah dan Islamic State (IS).

Keputusan itu datang sebelum serangan yang diprrrkirakan oleh tentara Suriah, yang didukung oleh Rusia, di wilayah barat laut Suriah, Idlib, yang merupakan rumah bagi hampir 3 juta orang di perbatasan dengan Turki.

Hay'at Tahrir al-Sham, yang tetap dikaitkan dengan kelompok Al-Qaidah di Suriah meski telah memisahkan diri beberapa tahun lalu, adalah aliansi jihadis paling kuat di Idlib, daerah kantong terbesar yang dikuasai pemberontak di luar kendali Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Rusia pada hari Jum'at mengklaim bahwa pemerintah Suriah memiliki hak untuk mengusir pejuang oposisi dari Idlib, mengklaim juga bahwa pembicaraan sedang dilakukan untuk mengatur koridor kemanusiaan di sana.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pekan lalu akan menjadi bencana untuk mencari solusi militer di Idlib, meskipun ada pejuang oposisi di sana.

Ankara, yang memiliki kehadiran militer kecil di Idlib, telah memperingatkan sebuah serangan bisa melepaskan gelombang pengungsi baru.

"Penting bagi kita semua untuk menetralkan kelompok radikal ini," katanya. "Tapi kita harus membedakan warga sipil dari kelompok teroris."

Utusan Suriah, Staffan de Mistura mengklaim pada hari Kamis ada konsentrasi tinggi pejuang asing di Idlib, termasuk sekitar 10.000 orang yang dia klaim sebagai anggota Jabhat Al-Nusrah,  yang sebenarnya telah bubar dan Al-Qaidah.

Namun dia mengatakan tidak perlu terburu-buru melakukan aksi militer dan meminta lebih banyak waktu untuk Rusia, Turki dan Iran untuk membahas situasi di Idlib.

Keputusan untuk menambahkan Hay'at Tahrir al-Sham ke dalam daftar kelompok-kelompok yang ditunjuk sebagai organisasi teroris diambil oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan. Ankara sebelumnya telah mendaftarkan Jabhat Al-Nusrah sebagai kelompok teroris.

HTS sendiri secara terbuka mengakui bukan afiliasi Al-Qaidah karena beberapa perbedaan pandangan yang mereka miliki dengan organisasi jihad global pimpinan Syaikh Ayman Al-Zawahiri tersebut. Cabang Al-Qaidah di Suriah saat ini bernama Tandzim Huraasa Diin yang dibentuk oleh beberapa jihadis senior bekas anggota HTS yang menyatakan perbedaan pandangan mereka dengan kelompok yang menguasi 60 persen wilayah Idlib tersebut.

Erdogan sendiri akan bertemu dengan rekannya Presiden dari Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani pada pertemuan tiga arah di Iran pada 7 September mendatang.[www.tribunislam.com]

Sumber : voa-islam.com



Sebarkan...