Dituduh Eksploitasi Isu Agama, GNPF: Hanya Kawal Fatwa Kiyai Ma'ruf


Dituduh Eksploitasi Isu Agama, GNPF: Hanya Kawal Fatwa Kiyai Ma'ruf

Sekjen Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Ustadz Muhammad Al Khaththath membantah tudingan kubu Pro-Joko Widodo dari Relawan Kotak Hijau.


Dalam deklarasinya, Kotak Hijau menuduh kubu 212 mengeksploitasi isu agama untuk memojokkan Jokowi, tindakan eksploitasi ini dinilai sebagai krisis identitas keagamaan.

Menurut Al Khathtath, tudingan tersebut justru bermotif politik, wujud rasa khawatir kalah dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2019 menghadapi koalisi keumatan. 

"Gak (Tidak krisis identitas,red), justru dengan dipilihnya Kyai Ma’ruf oleh Jokowi, itu menunjukkan mereka grogi kepada 212. Khawatir kalah, maka dipasang kyai Ma'ruf, kalau pede tetap pasang prof mahfudz," kata Al Khaththath kepada voa-islam, Jakarta, Kamis (20/9/2018). Menurut Al Khaththath, selama ini

Kyai Ma'ruf adalah sosok Ketua Umum MUI Pusat yang terdepan berfatwa dan dekat dengan GNPF. Sebab, GNPF mengawal fatwa-fatwa tersebut.

"Kiyai Ma'ruf sebelumnya adalah yang mengeluarkan fatwa-fatwa MUI, kita ini lancar melakukan pembelaan dan pengawalan fatwa," tutur inisiator Forum Caleg Muslimin (FCM) itu.

Terkait tudingan krisis identitas, sambungnya, GNPF-Ulama selama ini hanya mengawal fatwa-fatwa ulama sebagai petunjuk menyikapi persoalan sosial-politik. Aneh, imbuhnya, bila disebut krisis identitas, sementara sang pembuat fatwa yang dikawal GNPF justru sekarang berada di kubu Jokowi.

"Mereka selama ini menyebut penggunaan fatwa sebagai eksploitasi agama di ranah politik. Nah, tinggal kita balikin bahwa fatwa yang kita gunakan sebagai petunjuk amal masyarakat, termasuk dalam berpolitik, adalah fatwa MUI yang ditandatangani oleh Kyai Ma’ruf," tandasnya.

Sebelumnya, sekelompok elemen mendeklarasikan relawan Kotak Hijau untuk Jokowi Ma'ruf Amin. Presidium Kotak Hijau, Fami Fachrudin mengklaim sebagai anak muda keturunan Masyumi pendukung Jokowi.

Namun, dirinya mengaku kecewa lantaran sebagian besar kelompok Masyumi disebutnya krisis identitas agama karena terlibat di Aksi Bela Islam 212 hingga Ijtima Ulama. Mereka menuduh kubu 212 mengeksploitasi isu agama untuk kepentingan politik.

“Apa itu krisis identitas keagamaan? Adalah cirinya mereka merasa agama adalah milik mereka, mereka merasa Tuhan hanya berpihak kepada mereka. Padahal, Tuhan itu robbal alamin,” ujarnya di Bumbu Desa, Jakarta (19/9/2018).[www.tribunislam.com]

Sumber : voa-islam.com

Sebarkan...