Banyak Kritik Pemerintah, Politikus PDIP nilai pidato Ketua MPR di Sidang Tahunan beraroma Pilpres


Pidato Ketua MPR, Zulkifli Hasan dalam sidang tahunan MPR dinilai tak etis. Dalam pidatonya, Zulkifli banyak mengkritik pemerintah. Politikus PDIP, Aria Bima menilai pidato Zulkifli Hasan tak etis karena disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR sekaligus peringatan HUT RI.


"Sebagai anggota DPR, Pak Zul punya hak. Tapi sebagai pimpinan MPR, rasanya memang tidak salah, tapi kurang tepat atau kurang etis untuk menyampaikan hal-hal dalam 73 tahun peringatan Indonesia merdeka. Forum itu juga ditempatkan dalam forum laporan pejabat tinggi negara yang diwakili presiden selaku kepala negara dan saya kira tidak tepat kalau harus menyinggung pada posisi beliau sebagai eksekutif dan legislatif," jelasnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8).

Aria menyampaikan Zulkifli adalah pimpinan MPR yang seharusnya menyoroti aspek bukan hanya masalah yang mikro ekonomi, tapi harus menyoroti persoalan yang lebih visioner. "Yang lebih melihat bagaimana substansi dasar negara dan konstitusi itu diimplementasikan oleh para pimpinan-pimpinan lembaga tinggi negara. Inilah forumnya yang harus melihat visi eksekutif-legislatif-yudikatif, kemudian peran-peran itu seperti apa yang harusnya kalau diberikan prolog, bukan memberikan prolog satu lembaga eksekutif yang dalam hal ini, konteks kehadiran Pak Presiden bukan kepala pemerintahan, tapi kepala negara," jelasnya.

Melalui pidatonya, Zulkifli dinilai mengaburkan perannya antara sebagai Ketua MPR dan ketua partai. Apalagi saat ini partainya berseberangan dengan pemerintah.

"Mungkin ada split personality hingga saat memimpin tadi muncul kekaburan peran beliau seolah ini adalah merupakan presiden Pak Zul juga, tetapi ada suatu split psikologis pada Pak Zulkifli yang menempatkan forum itu pada forum politik partisan. Padahal yang harus terjadi politik kenegarawanan antara beliau sebagai Ketua MPR, bukan sebagai Ketua PAN yang mengusung Pak Prabowo dan Pak Sandiaga Uno," jelasnya.

"Saya kira terjadi kurang tepat atau kurang etis yang disampaikan Pak Zul, termasuk ada kata emak-emak yang merupakan suatu idiom yang dipakai Pak Sandi. Mohon ke depan saya kira, termasuk dari PDIP, kalau menempatkan posisi pada peran pimpinan lembaga tinggi adalah pimpinan semuanya, bukan pimpinan dari satu kelompok, " lanjutnya.

Aria mengatakan pada pidato-pidato dalam sidang tahunan tahun-tahun lalu, baru kali ini, ia menilai pidato mantan Menteri Kehutanan itu berbeda. "Saya sudah empat kali ikuti sidang MPR. Saya melihat Pak Zul selalu menempatkan sebagai pimpinan MPR. Aroma Pilpres 2019 sudah ada nuansa itu," ujarnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : merdeka.com

Sebarkan...