Muhasabah Bencana Gempa Bumi dengan Maksiat Akhir Zaman


Muhasabah Bencana Gempa Bumi dengan Maksiat Akhir Zaman

Indonesia kembali diuji dengan musibah gempa bumi yang terjadi di Lombok beberapa hari lalu. Di tengah suasana duka itu, “da’i akhir zaman” Ustadz Zulkifli Muhammad Ali (UZMA) menyeru kaum Muslimin agar memuhasabah diri atas dosa-dosa yang telah diperbuat.


Melansir INA News Agency, dalam ceramahnya, UZMA menilai, bencana yang datang silih berganti merupakan bentuk peringatan dari Allah atas dosa-dosa manusia yang terlampau batas.

“Orang sudah berpesta dosa di mana-mana, di setiap provinsi, di kota, di kabupaten. Jika bencananya harus terjadi maka terjadilah. Karena (bencana) tidak akan bisa dirubah dengan apapun jika Allah telah menakdirkannya,” ujarnya, Senin (6/8/2018), dalam pertemuan ulama di Tasikmalaya.

Beliau pun menceritakan, pernah terjadi gempa bumi di zaman Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu.

Saat itu, Umar pun secara tegas mengaitkan antara musibah tersebut dengan maksiat yang dia takuti terjadi di masa kepemimpinanannya.

“Ini kemuliaan para sahabat, mereka tidak sibuk menyebutnya sebagai faktor alam. Karena mereka telah beriman pada surat Ar-Rum ayat 41 (telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali),” jelasnya.

Fitnah Akhir Zaman

Di zaman ini, yang dia yakini telah memasuki fase akhir zaman, fitnah dunia semakin terbuka. Nabi bahkan telah menggambarkan melalui hadits “pagi beriman sore kafir” yang telah banyak didengar, bahwa di akhir zaman orang-orang beriman pun banyak yang tak kuat menahan fitnah.

“Di akhir zaman kita dengan mudah melihat orang loncat dari keimanan ke kekafiran. Tak peduli dia berjenggot, orang pintar, doktor, orang terdidik, mengaji. Dengan mudah dia loncat dari kubu keimanan ke kubu kekafiran,” papar UZMA.

Dia mempertegas, redaksi dalam hadits tersebut tidak dimulai dari kafir ke beriman. Tetapi dari beriman ke kafir.

Kondisi itu menurutnya diperparah dengan beralihnya kaum beriman dari kalangan orang-orang berpengaruh seperti ulama, pemimpin, serta intelektual.

UZMA menyeru agar kaum muslimin tidak henti-hentinya berupaya meraih ridho Allah dengan terus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Karena jika tidak, musibah-musibah yang muncul tidak akan memilih mana orang beriman, munafik, atau kafir.

“Dosa yang dilakukan segelintir orang di suatu kaum, lalu kaum itu tidak berusaha menghentikannya, tidak mencegahnya, Allah ratakan musibah itu kepada semuanya,” pungkasnya. [][www.tribunislam.com]

Sumber : islampos.com

Sebarkan...