Inilah Reaksi Ma'ruf Amin Atas Tudingan Mahfud MD

Inilah Reaksi Ma'ruf Amin Atas Tudingan Mahfud MD

Kiai Haji Ma'ruf Amin, calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo menolak berkomentar perihal tudingan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD di acara Indonesia Lawyer Club alias ILC.


Ma'ruf Amin menilai, tidak etis menjawab tudingan Mahfud MD.

Sebab, masalah tersebut masuk dalam ranah internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"Jangan, hanyalah, tidak etis. Tanya PBNU saja. Itu internal, mereka yang jawab," kata Ma'ruf Amin saat ditemui jurnalis KompasTV Aiman Witjaksono di Mekkah, Arab Saudi pada Rabu (15/8/2018) waktu setempat.

Ma'ruf berada di Mekkah untuk menjalani ibadah haji selama dua pekan bersama istri.

Rencananya, Ma'ruf Amin akan mengisi khotbah arafah pada puncak ibadah haji mendatang.

Video:



Terpisah, Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, membantah NU mengancam Jokowi bila memilih Mahfud MD sebagai cawapres.

Ia menegaskan tak pernah ada ancaman dari pihaknya. Ia pun mengatakan hal ini bisa terjadi lantaran berita yang beredar memiliki judul yang salah.

"Yang sudah, ya sudahlah. Semua proses biasa, apalagi kalau kita telusuri berita NU mengancam itu kalau dibaca kan enggak ada mengancam. Berita itu isinya hanya mengatakan bahwa masyarakat NU bisa tidak bertanggung jawab apabila yang dipilih bukan kader NU. Tidak ada sama sekali kalimat mengancam," ujar Cak Imin, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/8/2018).

"Nah, kemudian dikasih orang judul mengancam. Yang salah siapa? Yang salah yang ngasih judul. Siapa yang ngasih judul? Ya teman temanlah (media, -red)," imbuhnya.

Ia menjelaskan sebuah hal yang wajar terkait adanya jegal-menjegal dalam dinamika politik.

Contohnya, kata dia, terkait pemilihan ketua Anshor saja mengalami banyak kegaduhan. Apalagi terkait Pilpres 2019.

Di sisi lain, Cak Imin bercerita juga bahwa dirinya lah yang paling kecewa atas politik yang terjadi pada pengumuman cawapres Jokowi.

Sebab, ia mengaku telah mempromosikan dirinya sebagai cawapres dengan cara memasang banyak iklan di berbagai wilayah.

"Beginilah takdir Tuhan lebih berkuasa daripada apapun usaha manusia. Jegal menjegal itu ada yang namanya dinamika. Jangankan pilpres, pemilihan ketua Anshor saja ramainya minta ampun, apalagi pilpres. Jadi wajar-wajar aja dinamika itu terjadi," jelasnya.

"Saya sendiri orangnya paling kecewa sebetulnya, tapi kan sudah saya pasang bilboard di mana-mana, itu kan takdir. Itu usaha memang wajib dilakukan, tapi takdir di tangan Tuhan. Oleh karena itu, semuanya kita kembali bersatu. Kita syukuri Pak Jokowi-KH Ma'ruf adalah simbul nasionalis agamais, agamais nasionalis. Ini cita-cita saya," tambah dia.

Sebelumnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD berbicara blak-blakan mengenai kegagalan dirinya menjadi calon wakil presiden yang akan mendampingi petahana Presiden Joko Widodo pada Pemilihan Presiden 2019.

Berbicara saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club tvOne yang tayang pada Selasa (14/8/2018), Mahfud mengungkapkan nama-nama yang ternyata berpengaruh terhadap pencalonnan wapres Jokowi.

Mahfud kemudian mengungkapkan di balik pernyataan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan meninggalkan Jokowi jika tidak ada kadernya yang jadi cawapres.

1. Kiai Maruf Amin Sebut NU Akan Tinggalkan Jokowi

Mahfud mengatakan tidak sekadar bicara terkait peran Maruf Amin tersebut. Awalnya, Mahfud mengungkapkan pembicarannya dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj.

Dalam pertemuan Rabu pagi itu, Mahfud mengatakan tidak keberatan terhadap sikap NU tersebut.

Mahfud kemudian mengatakan agar NU tidak menolak jika Presiden menghendaki calon di luar NU.

Said Aqil kemudian mengatakan bahwa dia telah didatangi oleh seorang pejabat pemerintah yang sangat penting kedudukannya terkait nama-nama calon dari NU.

"Ini calon NU sekian orang. Ini nggak bisa, ini koruptor. Nyebut nama orang. Yang nggak korupsi hanya saya dan Pak Mahfud kata Pak Aqil," kata Mahfud MD.

2. Mahfud Kaget NU Akan Tinggalkan Pemerintah

Mahfud kemudian kaget mendengar pernyataan dari Ketua PBNU Robikin Emhas. Robikin mengatakan NU akan meninggalkan Pemerintah jika bukan kadernya yang mendampingi Jokowi.

"(Kemudian) ribut dari seluruh indonesia. Itu tidak benar, NU bukan politik dan macam-macam. Lalu dibantah tidak ada pernyataan itu, padahal pernyataan itu ada. Robikin yagn menyatakan dan yang menyuruh itu Kiai Maruf Amin," ungkap Mahfud.

3. Mahfud Tahu dari Muhaimin Iskandar

Mahfud menegaskan dia mengetahui Muhaimin di balik pernyataan keras NU itu adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Maruf Amin. Ketika para narasumber ILC dan hadirin kaget, Muhaimin mengatakan informasi itu dia terima dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

"Bagaimana saya tahu Kiai Maruf Amin? Muhaimin yang bilang ke saya. Hehe. Ini saya ceritain, menarik ini ceritanya. Saya memang jujur," kata Mahfud yang diiringi tepuk tangan nara sumber yang lainnya.

Kata Mahfud, dia bertemu dengan Muhaimin karena dipertemukan mantan Wakil Ketua Umum PBNU Asad Said Ali.

Mahfud mengatakan sebenarnya tidak bersedia menemui Muhaimin karena Muhaimin juga mencalonkan diri dan tidak bersedia jika Mahfud yang terpilih.

Namun dia akhirnya luluh karena Asad mengatakan pertemuan itu adalah karena prakarsa dia.

"Dek selamat ya wapres, kok tau Bapak? iyalah saya tahu. Anu ya bertemu dengan Muhaimin," kata Mahfud menceritakan awal mula pertemuan tersebut.

4. Kiai Maruf Amin Dikte Pernyataan yang Akan Disampaiken ke Media

Mahfud dan Muhaimin kemudian bertemu di Jalan Empu Sendok. Nah, di situlah Muhaimin mengatakan peran Maruf Amin dibalik pernyataan keras NU.

"Di situlah Muhaimin mengatakan wah kita ini dipermainkan politik ya Pak. Pak Mahfud bukan saya lho yang bilang Pak Mahfud bukan kader NU," katanya Mahfud menirukan ucapan Muhaimin.

Mahfud kemudian memaklumi bahwa itu adalah kerjaan anak buah Muhaimin dan menurut dia itu adalah main-main.

"Terus saya tanya, gimana itu main ancam-ancam? itu yang nyuruh Kiai Maruf katanya," beber Mahfud.

Berdasarkan keterangan Muhaimin, Presiden ternyata memanggil Maruf Amin, Said Aqil Siradj, dan Muhaimin ke Istana Negara pada Rabu pagi.

Ketika ketemu presiden, kata Muhaimin, Presiden tidak menyebut siapa namanya, dia hanya bertanya kepada mereka bertiga secara berpisah, minta saran siapa yang akan jadi calon.

"Tapi tidak sebut siapa calon. Nah, ketemulah tiga orang ini di PBNU dan bersekimpulan berarti ketiga ini bukan calonnya karena waktu dipanggil tidak disebut calon," ungkap mantan menteri pertahanan itu.

"Nah lalu mereka sepertinya marah-marah. Membahas kemudian Kiai Maruf mengatakan kalau gitu kita mengantakan tidak bertanggung jawab secara moral atas pemerintahan kalau bukan kader NU yang diambil. Ini kata Muhaimin," lanjut Mahfud.

Masih dari keterangan Muhaimin yang disampaikan Mahfud, Maruf kemudian memanggil Robikin agar mengatakan hal serupa kepada media.

"Datang Robikin. Didikte kalimatnya oleh Kiai Maruf, begini lho kalimatnya. Katanya itu didikte emang," kata Mahfud.[www.tribunislam.com]

Sumber : tribunnews.com

Sebarkan...