Din Syamsuddin Disebut Cawapres Untuk Pantas-pantasan, Begini Tanggapan Aktivis Muda Muhammadiyah


Pernyataan ‘blak-blakan’ mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, di Indonesia Lawyers Club (ILC) Selasa malam pekan ini, menyisakan sejumlah kontroversi.


Salah satunya karena nama Din Syamsudin disebut sebagai calon Wakil presiden (cawapres) Joko Widodo (Jokowi).

“Kenapa ada nama Din Syamsudin? Karena titipan dari Muhammadiyah, masa orang NU nya disebut Muhammadiyahnya tidak ada, sebut saja, (seperti dikatakan) oleh Romy,” ujarnya dalam tayangan diskusi ILC.

Sontak pernyataan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (Ketum PPP) M Romahurmuziy alias Romy yang dikutip Mahfud ini mendapatkan reaksi dari sejumlah kader Muhammadiyah.

Aktivis muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya menyatakan, tidak perlu mengomentari secara serius pengakuan orang-orang yang memiliki afiliasi dengan ormas yang sedang bergolak secara internal di dalamnya terkait kepentingan mereka di politik.

“Pengakuan Mahfud MD belum tentu diakui oleh Romy, dan jika ini ditindaklanjuti, maka hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga. Membahas perilaku mereka, tidak ada manfaatnya,” ujarnya kepada hidayatullah.com lewat pesan WhatsApp, Kamis (16/08/2018).

Menurut penggerak tagar #2019GantiPresiden ini, Indonesia saat ini sedang membutuhkan sumber daya manusia yang baik untuk memperbaiki kerusakan yang selama ini ditimbulkan oleh politikus-politikus busuk.

“Jika masih ada yang bergerak atas dasar lucu-lucuan, maka lebih baik tidak merespons. NKRI tidak butuh kelompok yang mengisi pembangunan dengan para pelaku lucu-lucuan. Jika kelompok ini masih ada, maka diamkan saja,” tegas pengurus Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat (MPI PP) Muhammadiyah ini.

Terkait pernyataan ‘blak-blakan’ Mahfud mengenai penunjukkan cawapres, senior netizen Indonesia ini menanggapi, dalam proses pemilihan calon pejabat publik setingkat cawapres atau bahkan capres, selama ini masyarakat tidak paham secara detail karena kepandaian para politikus menyimpan rahasia.

Namun tahun ini, lanjutnya, menjadi sejarah yang baik bagi masyarakat awam sekalipun, karena fakta yang selama ini tertutup rapi, atau ditutupi secara rapi, namun menjelang 2019, semua jadi terbuka.

“Petualangan para pengurus ormas Islam yang kemaruk, aksi kanak-kanak para politisi, sampai drama menjijikkan para elit partai, bisa dipantau masyarakat langsung,” ujarnya.

Lebih jauh menurutnya, hal ini adalah berkah dari kebebasan media massa. Sekalipun ada upaya pemberangusan media-media Islam beberapa waktu yang lalu, namun media sosial dan media massa mainstream terpaksa bersaing menunjukkan fakta kepada publik untuk merebut pengaruh.

“Jadi, apa yang ada di media massa, termasuk aksi bongkar-bongkar kedok internal ormas, parpol, atau sejenisnya, kita nikmati saja. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan potret atau gambaran langsung, mental para calon pemimpin kita. Biasanya, para munafik akan menunjukkan watak aslinya menjelang Pemilu,” tutupnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : hidayatullah.com

Sebarkan...