DIBLOKIR! Bos Tik Tok dari China Langsung Temui Menkominfo


Para petinggi aplikasi Tik Tok terbang ke Indonesia dari China untuk menemui Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Rabu (4/7). Pertemuan ini dilakukan untuk membahas pemblokiran aplikasi Tik Tok di Indonesia yang dilakukan sejak Selasa (3/7).



Dari hasil pertemuan tersebut, SVP ByteDance, Zhen Liu, selaku perwakilan perusahaan pengembang Tik Tok, mengaku percaya diri jika aplikasi konten videonya bisa digunakan lagi seperti biasa di Indonesia.

"Kami percaya diri dapat kembali aktif dan menjadi aplikasi konten terbaik di Indonesia. Kami berkomitmen untuk memoderasi kami," ujar Liu, dalam jumpa pers di Gedung Kominfo, Jakarta, Rabu (4/7).

Liu menjelaskan Tik Tok siap mengikuti regulasi dan peraturan yang ada di Indonesia dan akan mengedepankan budaya lokal. Selain itu, mereka juga akan mendukung konten lokal yang menginspirasi.
"Kita juga percaya akan melakukan yang terbaik di Indonesia untuk menginspirasi konten lokal. Ini semangat yang penting bagi kami, jadi kami hari ini ada di sini untuk menunjukkan keseriusan kami untuk menjadi platform terbaik di sini sesuai dengan visi untuk menginspirasi generasi muda di Indoensia," lanjut Liu.

Agar aplikasi Tik Tok bisa kembali aktif seperti sedia kala, ada beberapa persyaratan yang diminta Menkominfo Rudiantara. Di antaranya adalah Tik Tok harus membersihkan konten negataif di platform-nya dan menaikkan batas umur pengguna aplikasi yang saat ini dianggap terlalu rendah yakni 12 tahun.

Pihak Tik Tok mengatakan bakal menaikkan batas umur di aplikasinya menjadi 16 tahun.

Apabila permintaan itu telah terpenuhi, maka pemblokiran Tik Tok bisa dibuka kembali secepatnya, bahkan bisa besok pagi, kata Rudiantara sesuai pertemuan.

"Mereka bilang akan cek secepatnya malam ini dan menyampaikan komitmennya untuk ke depannya. Secepatnya bisa dibuka. Bisa besok pagi sudah dibuka (blokir Tik Tok)," paparnya.

Selain itu, pria yang akrab disapa Chief RA itu juga meminta manajemen Tik Tok untuk membuka kantor operasional di Indonesia agar komunikasi bisa terjalin lebih cepat dan mudah ke depannya.

Manajemen Tik Tok sendiri menegaskan sudah merekrut 20 karyawan di Indonesia sebagai moderator yang mengawasi konten negatif di layanannya. Tahun ini, Liu mengatakan Tik Tok menargetkan jumlah karyawan yang menjadi moderator bisa bertambah menjadi 200 orang.

Pemblokiran Tik Tok di Indonesia memang sangat merugikan bagi perusahaan asal China tersebut. Ini dikarenakan aplikasi Tik Tok memang cukup populer di Indonesia, bahkan Tik Tok mengklaim jumlah pengguna aktif bulanannya di Indonesia mencapai angka lebih dari 10 juta.[www.tribunislam.com]

Sumber : radarpribumi.com

Sebarkan...