Keji! Sniper Zionis Tembak Mati Relawan Medis Perempuan Palestina


Keji! Sniper Zionis Tembak Mati Relawan Medis Perempuan Palestina

Seorang sniper penjajah Zionis menembak mati relawan medis perempuan, Razan al-Najjar (21) saat dia mau mengevakuasi seorang pengunjuk rasa yang terluka.


“Dia berdiri dan tersenyum di hadapan saya, seraya mengatakan dia pergi menuju tempat aksi protes (untuk menjalankan misi medis),” ungkap Sabreen al-Najjar (43), ayah Razan, di rumahnya di Khuza’a, Jalur Gaza selatan.

“Dalam sekejap mata dia keluar dari pintu. Saya berlari ke balkon untuk mengawasinya di luar, tetapi dia sudah berjalan ke ujung jalan,” kata Sabreen, Sabtu (2/6) yang dikelilingi oleh kerabat dan teman Razan yang berduka.

Tempat aksi protes yang dimaksud Razan adalah demonstrasi Jumat ke-10 yang digelar oleh warga Palestina di Gaza sejak 30 Maret 2018 lalu di dekat pagar perbatasan Jalur Gaza yang dijuluki the Great March of Return. Putri Sabreen, Razan yang berusia 21 tahun, telah menjadi sukarelawan medis untuk membantu mereka yang terluka atau gugur ditembak oleh penembak jitu “Israel”. Namun dia sendiri ditembak mati oleh sniper pasukan penjajah tersebut.

Di tempat protes di Khuza’a, saksi mengatakan bahwa Razan mendekati pagar perbatasan pada Jumat (1/6). Kedua lengannya diangkat tinggi-tinggi untuk menunjukkan kepada tentara “Israel” yang 100 meter jauhnya bahwa dia tidak menimbulkan ancaman.

Niatnya adalah untuk mengevakuasi seorang pengunjuk rasa yang terluka berbaring di sisi lain pagar.

Namun Razan ditembak di dadanya dengan peluru tajam. Satu peluru menembus lubang di bagian belakang rompi.



Dia menjadi orang Palestina ke-119 yang dibunuh oleh pasukan penjajah “Israel” sejak unjuk rasa berlangsung mulai 30 Maret 2018 lalu. Sementara sekitar 13.000 lainnya terluka.

Rida Najjar, juga seorang relawan medis, mengatakan dia berdiri di samping Razan ketika tentara penjajah menembaknya.

“Ketika kami memasuki pagar untuk mengevakuasi para pengunjuk rasa (yang tertembak), pasukan penjajah menembakkan gas air mata ke arah kami,” kata pria 29 tahun, yang tidak terkait dengan Razan itu, Sabtu (2/6).

“Kemudian seorang sniper menembakkan satu tembakan, yang langsung mengenai Razan. Fragmen peluru melukai tiga anggota lain dari tim kami,” ungkapnya.

“Razan pada mulanya tidak menyadari dia telah ditembak, tetapi kemudian dia mulai menangis, ‘Punggungku, punggungku!’ dan kemudian dia jatuh ke tanah,” cerita Rida.

“Itu sangat jelas dari seragam kami, rompi kami dan tas medis, siapa kami,” tambahnya. “Tidak ada demonstran lain di sekitar, hanya kami (relawan medis, red).”

Dalam wawancara dengan Aljazeera pada 20 April 2018 lalu, Razan mengatakan bahwa dia merasa itu adalah “tugas dan tanggung jawabnya” untuk berada di lokasi aksi protes dan membantu yang terluka.

“Tentara ‘Israel’ berniat untuk menembak sebanyak yang mereka bisa,” katanya pada saat itu. “Ini gila dan aku akan merasa malu jika aku tidak ada di sana (tempat demonstrasi) untuk bangsaku.”

Kepada The New York Times bulan lalu, Razan menggambarkan antusiasme yang dimilikinya untuk pekerjaan yang dia lakukan.

“Kami memiliki satu tujuan—untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi (orang-orang yang terluka),” katanya. “Kami melakukan ini untuk negara kami,” lanjutnya, seraya menambahkan bahwa itu adalah pekerjaan kemanusiaan.

Razan juga menolak penilaian masyarakat terhadap perempuan yang bekerja di lapangan, di mana dia sendiri akan melakukan pekerjaan dalam 13 jam/shift, mulai dari jam 7 pagi sampai pukul 8 malam.

Sabreen mengatakan putrinya berada di garis depan. Dan keberadaannya di lokasi aksi tidak hanya pada Jumat kemarin. Wajahnya akrab di perkemahan Khan Younis, salah satu dari lima kamp perkemahan yang didirikan di sepanjang pagar timur Jalur Gaza.

“Dia tidak pernah peduli tentang apa yang dikatakan orang,” kata Sabreen. “Dia berkonsentrasi pada pekerjaannya di lapangan sebagai tenaga medis sukarela, yang mencerminkan kekuatan dan tekadnya.”

“Putriku tidak punya senjata; dia seorang relawan medis,” tambahnya.

“Saya menuntut penyelidikan PBB sehingga pembunuhnya diadili dan dihukum,” katanya. Dia menggambarkan tentara “Israel” sebagai “brutal dan tak kenal ampun”.



Sabreen kemudian terdiam. Ketika berbicara berbicara lagi, kata-katanya mengundang ratapan dari para wanita di sekitarnya.

“Kuharap aku bisa melihatnya dalam gaun pengantin putihnya, bukan kain kafannya,” katanya.

Paramedis Jadi Target

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan bahwa pasukan “Israel” menargetkan sekelompok orang tak bersenjata di timur Khuza’a pada Jumat (1/6). Yang ditarget adalah “tim paramedis mengenakan jas medis putih yang berusaha untuk mengevakuasi mereka yang terluka”.

“Tim paramedis mengangkat tangan mereka, untuk menunjukkan bahwa mereka tidak menimbulkan bahaya bagi pasukan bersenjata (penjajah),” kata kementerian kesehatan.

“Pasukan pendudukan ‘Israel’ menembakkan pelurunya, membidik Razan Najjar di dada, dan melukai beberapa paramedis lainnya.”

Mohammed al-Hissi, direktur tim medis darurat Bulan Sabit Merah, mengatakan bahwa mereka mencoba mengobati Razan segera setelah dia ditembak sebelum dia dipindahkan ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis.

“Penargetan Razan bukan pelanggaran pertama dalam pekerjaan kami sebagai tenaga medis di lapangan, dan itu mungkin tidak akan menjadi yang terakhir,” ujarnya.

“Ini adalah kejahatan perang terhadap pekerja kesehatan dan pelanggaran Konvensi Jenewa Keempat yang memberi petugas medis hak untuk memberikan bantuan pada masa perang dan damai.”

Juru bicara Kementerian Kesehatan, Ashraf al-Qidra, menambahkan bahwa lebih dari 100 pengunjuk rasa terluka pada Jumat (1/6), termasuk 40 cedera lewat tembakan amunisi. Yang lain menderita cedera akibat gas air mata.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 238 petugas kesehatan dan 38 ambulans telah menjadi sasaran pasukan “Israel” sejak dimulainya gerakan Bulan Maret tersebut.

“Tenaga medis adalah #NotATarget!” seru Nicolay Mladenov, koordinator khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, dalam sebuah postingan di Twitter.

Dalam sebuah pernyataan, tentara penjajah “Israel” mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki kematian Razan. Namun penjajah itu juga menyalahkan Hamas yang mengelola Jalur Gaza, karena menempatkan anak-anak dan wanita muda di garis depan.



Kembali ke Khuza’a, sebelum jasad Razan tiba untuk dimakamkan, ayahnya memperlihatkan rompi medisnya yang berlumuran darah.

“Ini adalah senjata Razan,” katanya kepada para kru TV lokal di depan rumahnya.

Dia mengosongkan kantong rompi, mengambil kasa dan perban.

“Ini senjatanya,” ulangnya. [www.tribunislam.com]

Sumber : salam-online.com



Sebarkan...