GP Ansor Pasang Badan untuk Gus Yahya Staquf


GP Ansor Pasang Badan untuk Gus Yahya Staquf

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) bereaksi terhadap hujatan dan kecaman yang ditujukan untuk Gus Yahya Staquf yang juga Katib Aam Suriyah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU).


Atas kehadiran anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya Staquf) dalam konferensi tahunan Forum Global American Jewish Committee/AJC atau Komite Yahudi Amerika di Yerusalem, membuat Gus Yahya mendapatkan kecaman keras bertubi-tubi. Kritikan tajam yang dilontarkan tidak hanya datang dari umat Islam Indonesia, namun juga dari dunia.

Terkait kecaman dan hujatan atas kehadiran Katib Aam Suriyah PBNU itu, Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Mahmud Syaltout, menyatakan siap pasang badan membela Gus Yahya Staquf. Mahmud mengatakan bahwa masyarakat bisa mendengarkan langsung cuplikan antara Gus Yahya Staquf dengan perwakilan AJC, Rabi David Rosen.

“Saya mencoba memahami pesan dalam video berdurasi 14:36 tersebut, dengan menggunakan CAQDAS (Computer Assisted Qualitative Data Analysis), dengan melakukan coding semua kata-kata kunci (keywords) wawancara tersebut dengan software MAXQDA,” kata Mahmud dikutip dari NU Online, Rabu 13 Juni 2018.

Mahmud menyatakan setelah dirinya mencoba memahami pesan dalam video Gus Yahya Staquf dengan perwakilan AJC, Rabi David Rosen yang berdurasi 14:36 tersebut, hasilnya kemudian dirinya mendapatkan gambaran dalam pembicaraan yang terdengar, terlihat oleh orang awam.

“Dari persentase kata kunci yang dipakai oleh Yahya,” ujar Mahmud.

Mahmud mengatakan bahwa dari analisis tampak dalam percakapan tersebut lebih banyak membicarakan atau mengenang tokoh NU, sekaligus Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur (16,67 persen), kemudian disusul pembahasan mengenai agama (13,64 persen), rahmah (12,12 persen), hubungan Yahudi-Islam (10,61 persen), konflik (9,09 persen), dan seterusnya hingga perdamaian. Kemudian pembicaraan yang terkait Israel dan Nabi Muhammad masing-masing 1,52 persen.

Mahmud menambahkan bila hanya ingin romantisme Gus Dur sampai jauh-jauh ke Israel juga ambigu. Terlebih lagi saat hubungan Indonesia-Israel sedang hangat-hangatnya pasca kejadian saling larang masuk warga negara.

“Saya akhirnya mencoba melakukan analisis wacana dengan melihat jejaring antarkata kunci yang muncul selama percakapan antara Gus Yahya dan Rabi David, dengan mengolah matrix code relations browsertranskrip percakapan dengan software Gephi,” ungkap Mahmud.

Selanjutnya Mahmud menyampaikan bahwa dari situ ia bisa melihat kata kunci yang dipakai Gus Yahya untuk menyambungkan pesannya dengan audiensnya saat itu. Dari analisis yang dirinya lakukan, tampak bahwa dua kata kunci yang jadi sentral dalam percakapan untuk mendekatkan audiens dengan pesan Gus Yahya adalah hubungan antara Yahudi-Islam dan Gus Dur.

Mahmud menyatakan bahwa pembicaraan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat pihak penyelenggara, AJC merupakan komunitas Yahudi Amerika, yang sudah akrab atau familiar dengan bahasan Hubungan Yahudi-Islam dan sosok Presiden sekaligus Guru Bangsa Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Dan, sebenarnya ini bisa sangat dipahami mengingat pihak penyelenggara, AJC merupakan komunitas Yahudi Amerika, yang sudah akrab atau familiar dengan bahasan Hubungan Yahudi-Islam dan sosok Presiden sekaligus Guru Bangsa Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur,” tutur Mahmud.

Dia menekankan, Gus Dur pernah hadir dalam acara serupa pada 16 tahun lalu di Washington DC, Amerika Serikat. “Namun, sekali lagi bukan ini inti pesan Gus Yahya. Kedua, kata kunci tersebut hanya pengantar, pintu masuk, sapaan,” papar Mahmud.

Mahmud menyatakan bahwa inti pesan Gus Yahya Staquf dari jejaring kata kunci selama percakapan tersebut adalah tentang kasih sayang dan rekonsiliasi. Gus Yahya Staquf mengadvokasi pentingnya untuk memilih Rahmah (kasih sayang) dari Dzalim (kebengisan/penindasan).

“Di sini, bisa kita ketahui bahwa dua kata kunci paling sentral selama percakapan tersebut adalah Rahmah (kasih sayang) dan rekonsoliasi. Di sini, Gus Yahya mengadvokasi pentingnya untuk memilih Rahmah (kasih sayang), sekaligus lawan kata dari Dzalim (kebengisan/penindasan),” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kunjungan salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Gus Yahya Staquf ke Israel merupakan kunjungan pribadi.

“Itu adalah urusan pribadi, beliau kan sudah menyampaikan itu urusan pribadi. Pak Kiai Haji Yahya Staquf (mengunjungi Israel), karena dia diundang berbicara di Israel,” jelas Jokowi.[www.tribunislam.com]

Sumber : ngelmu.co

Sebarkan...