Dimasukkan Daftar Teroris, Pria Tasikmalaya Ini Ajukan Protes


Dimasukkan Daftar Teroris, Pria Tasikmalaya Ini Ajukan Protes

Rido Ramdan Sumantri keberatan namanya dimasukkan dalam daftar teroris oleh sebuah lembaga pengamat. Namanya disebut ketika muncul kabar teroris dari berbagai daerah akan melakukan aksi pasca bentrok di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.


Rido menjelaskan, memang dirinya pergi ke Depok sehari setelah kerusuhan di Mako Brimob. Namun, ia pergi ke rumah singgah yang di dalamnya ada janda yang suaminya berada di Mako Brimob atau sudah meninggal.

“Saya ke Depok itu ingin menengok kondisi rumah singgah. Ternyata penghuninya sudah dipindah ke Bekasi. Jadi saya langsung pulang. Dan karena ada isu dari IPW, menyantumkan nama saya sebagai salah satu terduga teroris, tentu (saya) keberatan dan tidak benar,” katanya kepada Kiblat.net di Gedung DPR RI, Jakarta pada Selasa (05/06/2018).

Dari sepuluh nama yang disebut sebagai teroris yang akan melakukan penyerangan, Rido ditulis sebagai koordinator. “Menurut IPW sepuluh orang, dengan ada nama saya, Gilang, Aji, dan Dani. Dengan hasil nama dari IPW, Gilang dan Aji ditangkap. Saya khawatir juga karena nama juga dicatut dengan kesalahpahaman dari IPW,” ucapnya.

Rido memaparkan, selama ini ia hanya merasa simpati dengan janda dan anak-anak yatim tersebut. Maka ia membantu. Ia menyatakan tidak terkait dengan aksi teror apapun.

“Saya mah cuman membantu. Tidak melakukan teror-teror begituan,” tukasnya.

Pengacara Rido Ambil Langkah Hukum

Pengacara Rido Ramdan Sumantri, Raghil Widarisman menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan langkah hukum terhadap pemberitaan miring mengenai kliennya. Langkah awal yang akan ia tempuh adalah klarifikasi dengan media tersebut.

“Kami ingin melakukan langkah hukum terkait tuduhan yang sudah disematkan kepada klien kami. Oleh karena itu, kami ingin melakukan klarifikasi mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, kami akan klarifikasi ke media yang telah memberitakan berita tersebut untuk tabayun, menanyakan sumbernya dari mana,” katanya kepada Kiblat.net.

Ia mengatakan, jika media-media tersebut telah memberikan berita sesuai dengan kode etik jurnalitik, artinya sumber berita jelas, maka ia akan mendatangi sumber utama yaitu Direktur Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane.

“Kami akan mendatangi sumber utama, mengklarifikasi dari mana data yang ia peroleh. Jika tidak terbukti, maka bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. Kami akan mengambil langkah tegas,” tegasnya.

Sementara ini, pihaknya telah melakukan pengaduan dengan Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafii dan Direktur Penindakan BNPT, Brigjen Torik Triyanto.

Terakhir, ia menegaskan bahwa kliennya tidak memiliki hubungan apapun dengan kelompok teroris yang disebut akan melakukan penyerangan. Menurutnya, kliennya hanya membantu janda dan anak yatim, tanpa terlibat melakukan teror.

“Dan setiap kegiatannya di Tasikmalaya itu selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan di sana,” tandasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...