Sindir Jokowi, Rocky Gerung: Kalau Rakyat Bisa Beli, Ngapain Antre di Monas


Sindir Jokowi, Rocky Gerung: Kalau Rakyat Bisa Beli, Ngapain Antre di Monas

Mantan dosen Filsafat Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung melontarkan sindiran kepada penguasa.


Dilansir TribunWow.com, hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitternya yang diunggah pada Rabu (2/5/2018).

Awalnya, akun @Indoasli2 yang menanyakan siapa yang hoax di antara 2 pilihan.

Yakni pemerintah soal angka kemiskinan yang turun dan 2 anak tewas di Monas saat acara bagi-bagi sembako.

@Indoasli2: Siapa yang hoax prof @rockygerung

Pemerintah : angka kemiskinan berkurang!!

Fakta : 2 anak jadi korban tewas saat rebutan pembagian sembako

Turut berduka cita.. Terutama ama matinya empati di negri ini.

Menanggapi hal tersebut, Rocky Gerung lantas mengungkapkan jika hal tersebut adalah bukti bahwa rakyat tidak bisa membeli sembako sesuai kemampuan mereka.

Karena, jika bisa beli, lantas kenapa mengantre di Monas.

Rocky Gerung kemudian menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang pamer choppernya di depan Monas.

@rockygerung: Kalo rakyat bisa beli, ngapain ngantre di monas.

Kalo yg punya kuasa bisa mikir, ngapain pamer chopper depan monas.

• Jokowi Disebut Tak Bisa Dijangkau Olehnya, Fahri Hamzah: Pantesan Pidato Tanpa Teks dan Luar Biasa


Postingan tersebut kemudian mendapat beragam komentar dari netter.

@EdoedPohan: Ini imbas klo penguasa sdh duluan bagi2 sembako ya bang @rockygerung ....hehehee

@QKlaten: Hari ini Hari Pendidikan Nasional.

Prihatin baca kualitas pikir @rockygerung ini.

Kalo ada diskon, ngapain beli harga penuh. 
Ayolah mas, cerdaskan bangsa ini kembali.

@oscarzp: Bukannya prihatin, malah Chopper dipamerin.

@djokosulistyono: Harga sembako semahal nyawa. 
Nyawa seharga sembako. 
Di dekat Istana Raja? 
Tragis. Sungguh.

@bbkurniawan1: Pembagian sembako itu sebenarnya malah justru mencoreng Pemerintahan sekarang, berti gagal dalm perekonomian dan kemiskinan Rakyat.

@iKhalis: Masalah kematian anak di Monas hanya bisa dicerna oleh rakyat yg punya empati. Lain tidak.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut jika 2 anak yang tewas di Monas meninggal karena berdesak-desakan.

Adinda Rizki, bersama dengan Mahesha Janaedi, harus kehilangan nyawa karena berdesak-desakan," kata Sandiaga, di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4/2018), dikutip Kompas.com.

Menurut hasil investigasi, mereka dikerahkan oleh pihak RW setempat untuk datang di acara tersebut.

Diketahui, Mahesa berusia 10 tahun, sedangkan Adinda berusia 12 tahun.

Sandiaga Uno pun mengaku akan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini.

Acara bagi-bagi sembako di Monas itu digelar Forum Untukmu Indonesia.

Ratusan ribu massa hadir ke Monas sejak Sabtu pagi, untuk mengambil sembako dan makan gratis.

Akibatnya, kawasan sekitar Monas menjadi macet, semrawut, dan kotor.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede menyatakan jika TNI dan polisi sampai kewalahan menanggani masa yang datang sejak pagi.

Menurutnya, panitia tidak memperkirakan jumlah masa yang akan dihadirkan.

Pada pukul 11.15, massa yang masuk ternyata sangat banyak, sekitar 100 ribuan orang.

"Panitia tidak menjelaskan perkiraan jumlah massa yang akan dihadirkan dan ternyata pada jam 11.15 berdasarkan hasil pemantauan dari Monas, massa yang sudah masuk kurang lebih 100.000-an," ujar Mangara di Balai Kota, Senin (30/4/2018).

Diketahui, ada 3 jenis sembako yang dibagikan.

Antrean yang terpisah disinyalir menjadi sebab kekacauan pembagaian.

"Sembakonya ada tiga macam, beras; minyak; mie instan; tapi pintu loket mengambil berbeda dan ini membuat ribet. Akhirnya saya, Kapolres, Dandim, dan Karoops sepakat memberhentikan sementara," imbuh Mangara.

Tak hanya kemacetan, Mangara juga menyebut banyak massa yang pingsan dan bahkan dilarikan ke rumah sakit akibat insiden ini. [www.tribunislam.com]

Sumber : wow.tribunnews.com

Sebarkan...