Ngeri, Dolar Rp 14.000, Lebih Tinggi dari Krismon 1998?


Ngeri, Dolar Rp 14.000, Lebih Tinggi dari Krismon 1998?

Dolar Amerika Serikat (AS) terus memberikan tekanan terhadap rupiah. Tak terasa, pagi ini saja, dolar AS sudah bertengger di Rp 14.027.


Laju rupiah terhadap dolar AS sudah mengalami perjalanan yang panjang sampai dolar AS sampai pagi ini di Rp 14.027. Pada 28 tahun lalu, dolar AS hanya sebesar Rp 2.000 saja.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000 dengan titik terendah nya di Rp 1.977 per dolar AS pada tahun 1991.

Dolar AS bertahan di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Orde Baru kala itu tidak mau tahu, dolar AS harus bertahan di level itu.

Sampai terjadi krisis moneter (krismon) dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Memasuki pertengahan 1997 Indonesia pun meninggalkan sistem kurs terkendali.

Penyebabnya, cadangan devisa Indonesia rontok karena terus-terusan menjaga dolar AS bisa bertahan di Rp 2.000-2.500. Setelah memakai kurs mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998.

Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Penembakan mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah 'terkapar' lagi.

Sampai akhirnya dolar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998. Pasca Orde Baru, Indonesia mengalami masa reformasi. Kepercayaan investor pun sedikit demi sedikit kembali, dan rupiah mulai menguat kembali.

Dolar AS terus melemah, dan mencapai Rp 8.000 pada Oktober 1998. Seiring berjalan nya waktu, dolar AS pun kembali menguat.

Memasuki masa krisis finansial global di 2007 akibat krisis subprime mortgage di AS, nilai tukar rupiah sudah berada di kisaran Rp 9.000-10.000.

Pelemahan rupiah justru terjadi setelah krisis finansial berakhir dan mata uang negara-negara barat mulai pulih. Sekitar tahun 2009, dolar AS sudah berada di rentang Rp 11.800 hingga di atas Rp 12.000.

Namun berkat pertumbuhan ekonomi RI yang kuat di 2010-2012, rupiah bisa kembali perkasa. Dolar AS pun sempat turun hingga ke Rp 8.500.

Sayangnya, Indonesia yang ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) harus mengimpor dalam jumlah banyak tiap tahun. Pemerintah juga terus memberi subsidi kepada masyarakat sehingga konsumsi BBM tetap tinggi.

Tingginya impor ini memicu neraca perdagangan RI jadi defisit, besar pasak daripada tiang alias terlalu banyak impor ketimbang ekspor nya. Akibatnya secara perlahan dolar AS terus menanjak sampai menembus kisaran Rp 12.000 lagi.

Setelah pergantian rezim dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Presiden Joko Widodo (Jokowi), subsidi BBM pun dicabut supaya Indonesia bisa mengurangi konsumsi minyak dan menekan impor.

Dolar AS sudah menguat sebanyak 7,7% sejak awal tahun ini. Banyak faktor yang bisa menyebabkan pelemahan rupiah ini, mulai dari inflasi yang cukup tinggi hingga rencana The Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunga acuan.

Dolar Amerika Serikat (AS) terus mencatatkan penguatan. Pagi ini saja, dolar AS sudah bertengger di Rp 14.027 dan sempat menyentuh Rp 14.040 yang merupakan posisi tertinggi sejak awal tahun. Mengutip data Reuters, Selasa (8/5/2018) pada pukul 09.30 WIB, dolar menyentuh Rp 14.040. Saat ini dolar AS berada di Rp 14.033. [www.tribunislam.com]

Sumber : finance.detik.com



Sebarkan...