Fadi Abu Salah; Pejuang Berkursi Roda Itupun Gugur


Fadi Abu Salah; Pejuang Berkursi Roda Itupun Gugur

Belum sampai berusia dua puluh tahun, pasukan penjajah Israel membakar rumahnya sehingga ia kehilangan kedua kakinya. Dengan berat ia harus melanjutkan hidup di atas kursi roda.


Peristiwa itu terjadi pada tahun 208 silam. Saat itu pasukan zionis Israel menyerang rumah-rumah penduduk sipil di Jalur Gaza. Hasilnya banyak korban jatuh baik gugur maupun luka-luka.

Namun begitu, kecacatan tidak membuat Fadi Abu Salah kehilangan seglanya. Ia tetap melanjutkan hidup, dan terus berinteraksi dengan masyarakat. Bahkan kondisinya tidak menyurutkan niatnya untuk menuntut kesyahidan pada musim-musim perjuangan.

Abu Salah tetap menjalankan hidup seperti lumrahnya manusia. Ia menikah dan memiliki anak. Selain itu ia juga berusaha agar punya tempat khusus di hati masyarakat Gaza khususnya.

Dalam situasi perjuangan, banyak orang yang dengan semangat menggerakkan kursi roda Abu Salah. Hal itu membuatnya merangsek maju ke hadapan pasukan zionis yang bersenjata lengkap.

Perjuangan itu harus berakhir pada Senin (14/05) kemarin. Tubuh kurusnya terkena peluru pasukan Israel dan membuatnya gugur di medan pertempuran. Ia syahid bersama dengan 55 orang lainnya. Tubuhnya berlumuran darah, seperti ribuan korban luka lainnya.

Ia gugur di tengah kelalaian dunia. Ia gugur saat Israel merayakan 70 tahun perampasannya atas tanah Palestina. Abu Salah gugur di saat Israel bergembira dengan peresmian Kedubes AS di Al-Quds.

Kehidupan dan Kematian

Di satu sisi orang-orang Yahudi bersukacita dengan perolehan mereka atas Al-Quds. Di sisi lain warga Palestina terus menyuarakan penolakan. Mereka seakan menyeru dunia: Kami layak untuk hidup di bumi ini, sebagaimana kami berhak menentang kematian.

Akhirnya, Menteri Pertahanan Zionis Avigdor Lieberman memberi perintah untuk menembak warga Palestina yang mendekati perbatasan Gaza.

Namun itu tidak menyurutkan semangat Fadi Abu Salah. Ia menembus kerumunan dan menjemput kematian dalam demonstrasi damai, namun Israel berusaha mengubahnya jadi pemakaman massal.

Menurut Hamzah Abu Salah, saudaranya adalah seorang suami dengan lima orang anak. Anaknya paling besar masih berusia 7 tahun. Abu Salah mengikuti Pawai Kepulangan dengan penuh semangat dari Khan Yunis.

Jika pembantaian terhadap massa aksi dapat dipahami dunia, maka gugurnya Abu Salah dapat dilihat dari dua sudup pandang. Pertama tentang perlawanan Palestina. Dan kedua tentang mental pembunuh yang dimiliki Israel.

Tentu Abu Salah bukan satu-satunya penjuang berkursi roda. Telah banyak dari mereka yang menjadikan kursi roda sebagai pengantar ke keabadian bersama para syuhada Palestina lainnya. [www.tribunislam.com]

Sumber : dakwatuna.com



Sebarkan...