Gadis Muslim 8 Tahun Diperkosa dan Dibunuh Picu Ketegangan di India

Gadis Muslim 8 Tahun Diperkosa dan Dibunuh Picu Ketegangan di India

Asifa Bano adalah gadis Muslim berusia delapan tahun di India. Dia tewas dibunuh setelah sebelumnya diperkosa oleh sekitar delapan pria pada Januari lalu.

Kasus ini memicu ketegangan di kalangan masyarakat karena delapan tersangka merupakan warga Hindu. Demonstrasi menuntut keadilan bagi Asifa bermunculan di berbagai wilayah, lantaran sejumlah politisi terkesan membela para tersangka.

Asifa hanyalah gadis penggembala kuda di padang rumput di India utara. Pada Januari lalu, dia mengikuti seorang pria ke hutan. Beberapa hari kemudian, tubuhnya ditemukan tak bernyawa di hutan tersebut.

Polisi di India mengatakan bahwa Asifa diberi obat penenang, dan selama tiga hari dia diperkosa beberapa kali oleh pria yang berbeda. Asifa akhirnya dicekik pada 17 Januari.

Untuk memastikan gadis itu tewas, para pembunuh Asifa memukul kepalanya dua kali dengan batu. Laporan penyebab kematian Asifa ini merupakan dokumen laporan polisi di negara bagian Jammu yang diterbitkan oleh situs berita India, Firstpost.

Gadis Muslim 8 Tahun Diperkosa dan Dibunuh Picu Ketegangan di IndiaPara demonstran menutut keadilan atas kematian Asifa Bano. Foto/Stuff

Dalam beberapa bulan sejak itu, kematian Asifa telah memicu ketegangan dan gesekan agama di India. Beberapa pihak mengecam kekerasan seksual dan menuntut keadilan untuk keluarga Asifa, sedangkan pihak lainnya membela para pria yang dituduh sebagai pelaku.

Asifa tercatat sebagai gadis Muslim dari suku Bakarwal. Ayah Asifa, Mohammad Yusuf Pujwala, mengatakan kepada New York Times bahwa dia yakin putrinya dibunuh oleh para pria Hindu dengan tujuan semata-mata mengusir komunitasnya.

Ketegangan semakin memanas, ketika polisi mengumumkan bhwa gadis cilik itu dibunuh di sebuah kuil Hindu. Polisi bahkan menyatakan bahwa penjaga kuil merencanakan kematian tersebut.

"Asifa adalah pion. Seorang anak berusia 8 tahun yang menjadi sasaran empuk," kata pihak kepolisian setempat dalam sebuah pernyataan.

Pada Senin lalu, sebuah adegan kacau muncul di luar gedung pengadilan di Jammu dan Kashmir, ketika sekelompok pengacara Hindu mencoba secara fisik menghentikan polisi mengajukan tuntutan terhadap para tersangka.

Para pengacara dalam sebuah pernyataan berpendapat bahwa pemerintah telah gagal memahami sentimen dari orang-orang India.

Meski mendapat tekanan dari para pembela tersangka, polisi berhasil menyelesaikan dokumen tuduhan terhadap para tersangka, termasuk empat polisi dan seorang pensiunan pejabat pemerintah.

Protes kini telah menyebar ke banyak tempat di Kathua. Para aktivis Hindu berpendapat bahwa beberapa petugas polisi yang bekerja pada kasus ini tidak dapat dipercaya. Puluhan perempuan Hindu bahkan memblokir jalan raya dan mengorganisir aksi mogok makan dengan dalih "membela agama".

"Mereka menentang agama kami," kata Bimla Devi, seorang pengunjuk rasa kepada New York Times, yang dikutip Jumat (13/4/2018). Dia mengatakan bahwa jika orang-orang yang dituduh tidak dibebaskan, para demonstran akan membakar diri.

Para pengacara, bersama dengan kelompok yang berafiliasi dengan Partai Bharatiya Janata (BJP), partai nasionalis Hindu yang berkuasa di India, bertempur atas dasar prasangka agama. Padahal, para pendukung BJP terkenal penentang kekerasan seksual. [www.tribunislam.com]

Sumber : sindonews.com

Sebarkan...