Begini Gaya Kepemimpinan Umar bin Khattab yang Sederhana dan Merakyat


Begini Gaya Kepemimpinan Umar bin Khattab yang Sederhana dan Merakyat

Bicara tentang sosok pemimpin yang sederhana dan merakyat, tentu profil Umar bin Khattab menjadi salah satu referensi yang sulit untuk dilewatkan. Selain kepemimpinan, keberanian dan kewibawaannya, Umar bin Khattab jufa dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan merakyat.


Sebagai seorang pemimpin, ia selalu ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh rakyatnya. Bahkan dalam banyak kondisi, Ia mengambil sikap yang lebih mementingkan rakyatnya daripada dirinya sendiri. Ia ingin menjadi orang yang pertama merasakan lapar dan menjadi yang terakhir merasakan kenyang di antara rakyatnya.

Dalam kitab Khulafaur Rasul Shallallahu Alayhi Wasallam, Syaikh Khalid Muhammad Khalid menulis dengan rapi gaya hidup Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu yang sangat sederhana dan merakyat. Salah satu falsafah hidup yang pernah diungkapkannya ialah, “Bagaimana mungkin aku bisa peduli terhadap nasib manusia jika aku tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan?”

para ahli sejarah menyebutkan bahwa suatu ketika kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab diuji dengan krisis daging dan minyak samin. Saat itu Umar merindukan makan daging dan minyak samin. Namun karena kondisi rakyatnya sedang mengalami krisis, beliau menahan keinginannya itu sampai-sampai lambungnya keroncongan. Lalu ia meletakkan telapak tangan di perutnya seraya berkata, “Wahai perut! Engkau tak akan mendapat jatah minyak selama harga minyak samin masih melambung tinggi.”

Pada tahun 18 hijriah, kota Madinah mengalami musim pencekik. Ia menyuruh beberapa orang menyembelih unta, kemudian membagikan sembelihan itu kepada seluruh penduduk Madinah. Mereka yang bertugas menyembelih tidak lupa memberi bagian daging yang terbaik dari unta tersebut untuk Amirul Mukminin.

Ketika tiba waktu makan siang, Umar mendapati meja hidangannya penuh punuk dan hati unta, lalu ia berkata, “Dari mana datangnya makanan ini?”

“Itu daging unta yang disembelih hari ini” jawab orang yang ada di sekelilingnya.

Lalu sambil menyingkirkan hidangan tersebut, Umar berkata, “Bagus-bagus! Sungguh, pemimpin paling buruk adalah aku, jika aku memakan bagian yang terbaik darinya sedangkan kusisihkan tulang-tulangnya untuk rakyatku.”
Kemudian ia memanggil pembantunya yang bernama Aslam, “Wahai Aslam! Angkatlah hidangan ini dan berilah aku roti serta minyak.”

Perkataannya “Sejelek-jelek pemimpin adalah aku, jika aku memakan bagian yang terbaik”, menunjukkan rasa tanggung jawab nan besar lagi bersinar yang terpancar darinya dan dari kehidupannya sehari-hari. Ia sadar bahwa ia adalah salah satu makhluk Allah Ta’ala yang diberi kelebihan dalam urusan beban dan kewajiban ketika Allah menjadikannya sebagai pemimpin bagi seluruh hamba-Nya. [www.tribunislam.com]

Sumber: Seri Biografi Khulafaur Rasyidin Umar Bin Khattab, Karya Khalid Muhammad Khalid, Penerbit Ummul Qura, Jakarta Timur

Sumber : kiblat.net



Sebarkan...