Larang Napi Terorisme Shalat Jumat, Lapas Nusakambangan Dilaporkan ke Komnas HAM


Larang Napi Terorisme Shalat Jumat, Lapas Nusakambangan Dilaporkan ke Komnas HAM

Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pasir Putih Nusakambangan dilaporkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) karena dinilai melanggar HAM dalam melakukan isolasi terhadap narapidana terorisme.


Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM), Ahmad Michdan melaporkan pihak Lapas Pasir Putih ke Komnas HAM pada Kamis (22/03/2018). Dia mengadukan dugaan pelanggaran HAM tersebut bersama keluarga narapidana kasus terorisme. Pengaduan diterima langsung oleh Wakil Ketua Komnas HAM Bidang Internal, Hairansyah di kantornya Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat.

“Ada delapan belas Narapidana yang diisolasi mulai Januari kemarin, menurut kami ini adalah bentuk pelanggaran HAM, karena selain tidak ada cahaya matahari sama sekali dalam sebulan kurungan isolasi, juga tidak diperbolehkan sholat Jumat apalagi sholat lima waktu secara berjamaah,” ungkap Michdan di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat.

“Di Nusakambangan memang ada super maximum security di Lapas Pasir Putih dan disana napi yang diisolasi tidak bisa sholat dan komunikasi langsung. Padahal di dalam lapas itu ada masjid,” imbuhnya.

Michdan mengungkapkan perihal pelarangan sholat bagi narapidana terorisme di Lapas Pasir Putih itu merupakan pelanggaran HAM pokok. Tak hanya itu, pelanggaran lain berupa pembatasan kunjungan terhadap napi, yang telah diberlakukan di Nusakambangan sejak Desember 2017 lalu. Pihak pengunjung napi tersebut tidak boleh membawakan makanan dari luar.

Menurut Michdan, pihak keluarga narapidana seharusnya berhak memberikan tambahan gizi dengan membawakan makanan dari luar Lapas. Namun, pihak Pasir Putih tak memberikna hak itu bagi napi terorisme yang diisolasi.

“Mengapa tidak boleh membawa makanan dari luar, sedangkan menurut protapnya kalau tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar, maka gizi itu disediakan dari lapas,” ujarnya.

Selain makanan, napi biasanya juga mengonsumsi obat-obatan herbal yang dibawakan dari luar Lapas untuk menjaga kesehatannya, seperti madu. Namun, dengan adanya pelarangan tersebut obat-obatan tak lagi bisa dikonsumsi oleh para napi. Menurut Michdan kondisi itu turut mempengaruhi kondisi kesehatan mereka, sementara pengobatan di dalam lapas juga tidak mumpuni.

Keluarga salah satu napi yang ditahan di ruang isolasi turut menyertai laporan TPM ke Komnas HAM. Ibu yang tak mau berkenan disebutkan namanya itu datang bersama putrinya. Dia mengatakan suaminya hanya memiliki satu helai pakaian untuk satu bulan masa penahanan di ruang isolasi.

“Tidak ada baju ganti, hanya satu pasang. Ya untuk sholat dan untuk tidur, selama satu bulan. Selain itu, tidak ada gizi seperti buah disana, dan kita tidak boleh bawa dari luar,” ungkapnya.

“Tidak boleh sholat Jumat juga, padahal ada masjid didalamnya,” lanjut ibu itu.

Berdomisili di Jakarta, ibu itu pernah mengunjungi suaminya ke Lapas Pasir Putih. Dalam perjalanan yang jauh itu, dia membawakan makanan yang diawetkan. Usaha itu berkahir sia-sia, karena dirinya tidak diperkenankan masuk oleh pihak Lapas meski hanya sekadar menyerahkan makanan.

“Ketika tahu suami saya di tahanan ini sedang diisolasi, jauh-jauh saya datang namun tidak bisa sampai bertemu,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Lapas Pasir Putih, Nusakambangan selama ini dikenal sebagai salah satu Lapas dengan fasilitas Super Maximum Security (SMS). Pengamanan super maksimal itu termasuk ditujukan bagi sejumlah narapidana kasus terorisme.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net



Sebarkan...