4 Fakta Mengejutkan Setelah Koordinator Pengemis ditangkap


4 Fakta Mengejutkan Setelah Koordinator Pengemis ditangkap

Satpol PP Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menggerebek rumah penampungan pengemis di Jalan KH Damanhuri, Gang Ogok, Samarinda, 26 Maret lalu. Koordinator pengemis, Jufrianto (51) diamankan.


Sejak Oktober 2017, Jufri hidup dari hasil mengemis 7 orang yang didatangkan dari Madura. Saban hari para pengemis ini diwajibkan setor uang.

“Dia ini sistem bagi hasil, di mana 75 persen untuk koordinator. Sisanya 25 persen untuk pengemis,” ujar Kasi Operasional Satpol PP Kota Samarinda Teguh Setyawardhana, ditemui merdeka.com di kantornya, Jalan Cempaka, Selasa (27/3).

Petugas sempat mendapatkan perlawanan dari Jupri ketika hendak dibawa ke kantor Satpol PP Samarinda. Jupri meronta meski petugas mengantongi data dan bukti. Namun setelah ketua RT berkoordinasi dengan Babinsa, Jupri akhirnya tidak berkutik.

Berikut sejumlah fakta dalam kasus ini:

1. Ditemukan tiket pesawat dan dua motor

Di rumah diduga penampungan pengemis, ditemukan tiket pesawat elektronik keberangkatan dari Surabaya tujuan Balikpapan. Selain itu, juga ditemukan uang receh dan lembaran rata-rata Rp 2 ribu, senilai tidak kurang Rp 3 juta.

“Ada 2 motor yang terbilang mahal ya. Juga kita amankan 9 unit telepon selular, 2 di antaranya android,” ungkap Teguh.

Teguh mengatakan, para pengemis ini tidak pernah jera meski berulang kali dipulangkan, dan disanksi Perda No 07/2017 dengan ancaman denda Rp 50 juta. “Jadi mereka ini dipulangkan naik kapal, kembali ke sini naik pesawat,” jelasnya.

2. Sehari setor Rp 50 ribu

Tugas Jufri salah satunya mengantar para pengemis ke lokasi. “Saya ngojek antar satu per satu siang dan malam, mereka yang mengemis. Saya dibayar Rp 50 ribu antar jemput per hari,” ungkap Jufrianto.

Lantas bagaimana dengan biaya makan sehari-hari ketujuh pengemis yang dia datangkan dari Madura? “Bayar Rp 50 ribu itu sudah termasuk makan Pak. Memang diamankan petugas tadi ada Rp 3 juta uang hasil mengemis. Itu punya semua orang di rumah saya,” terangnya.

Jufri mengaku punya istri yang dia tinggalkan di Sumenep. Kendati demikian, dari hasil para pengemis di rumahnya yang mengemis, dia bisa beli 2 motor bekas seharga Rp 16 jutaan, kemudian membeli 2 telepon selular android seharga Rp 5 jutaan.

3. 7 Pengemis dari daerah yang sama

Jufri diketahui asal Kampung Lentang, Sumenep. Dari barang bukti 2 kode pesanan tiket Surabaya tujuan Balikpapan, tertera nama dia bersama 7 warga Madura lain. Tujuannya untuk mengemis di Samarinda.

“Saya dengan 7 orang di rumah. Mereka berangkat sendiri dari Surabaya. Mereka memang kerjanya meminta-minta di Madura,” kata Jufrianto saat berbincang bersama merdeka.com, Selasa (27/3).

Di Madura, 7 orang itu, menurut Jufri, sepi pendapatan sehingga diajak ke Samarinda untuk kembali mengemis di jalan. “Di Samarinda kan pendapatan lumayan. Mereka ke sini juga bayar tiket sendiri, utang dengan orang. Tidak, tidak ada ke daerah lain. Cuma ke Samarinda saja,” ujar Jufri.

4. Ada penyandang disabilitas

Personel Satpol PP terkejut saat menggerebek rumah penampungan pengemis. Jufri ternyata mempekerjakan penyandang disabilitas di Samarinda.

“Untuk itu yang penyandang disabilitas tidak kita bawa ke sini, karena kita tidak mau tanggung risiko. Kita koordinasikan bersama ketua RT, kita tinggal di rumah si koordinator pengemis,” terang Teguh.

Masih dijelaskan Teguh, jajarannya memang tengah giat menertibkan anak jalanan, gelandangan dan pengemis di berbagai ruas jalan, sesuai rapat koordinasi bersama dengan Dinas Sosial kota Samarinda. Sebab, Perda No 7/2017 mendenda tidak hanya pengemis, melainkan pemberi uang ke pengemis.

“Targetnya dalam waktu dekat Samarinda bebas pengemis dan anak jalanan,” tutup Teguh.[www.tribunislam.com]

Sumber : dakwahmedia.co



Sebarkan...