Terungkap, Waskita Diduga Tak Disiplin di Proyek Becakayu


Kasus kecelakaan konstruksi yang terjadi di beberapa proyek infrastruktur menyedot perhatian publik. Salah satunya adalah dari kalangan civitas akademik Universitas Indonesia (UI) dan praktisi di bidang konstruksi.


Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanudin menilai, kegagalan konstruksi paling banyak disebabkan karena faktor manusia bukan karena kejar target.

Ia mengatakan, setiap proyek memiliki kontrak yang didalamnya tertulis waktu yang dibutuhkan, spesifikasi, item pekerjaan, dan waktu pelaksanaan. Semua ditentukan berdasarkan potensi yang ada.

“Jadi begini ya, di situ kan akan kelihatan berapa sih kegiatan yang mau dilakukan, berapa material yang harus disiapkan, berapa orang yang harus disiapkan, berapa peralatan. Dari situ lahirlah masalah waktu. Jadi tidak ada pekerjaan yang ke luar dari kontrak itu sendiri. Jadi kalau kontraknya 2019 harus selesai 2019. Jangan diartikan kejar target,” kata Syarif di UI Depok, Rabu 28 Februari 2018.

Berdasarkan catatan Syarif, dalam kurun waktu enam bulan ada sebanyak 12 proyek yang mengalami kegagalan kontruksi. Paling besar pengaruhnya adalah budaya kerja yang kurang disiplin.

“Ini masalah utamanya di SDM (Sumber Daya Manusia) ya dari sisi kedisiplinan dalam bekerja,” kata dia

Salah satunya Ia mencontohkan, pemasangan grider yang dikerjakan PT Waskita Karya. Dari total 11 ribu pemasangan grider ada tiga diantaranya yang mengalami kegagalan kontruksi.

“Penyebabnya mungkin beda-beda tapi ujung-ujungnya lagi-lagi tidak disiplin.”

Sementara itu, Direktur Eksekutif CSID, Mohammed Ali Berawi mengatakan, penyebab terjadinya kecelakaan konstruksi pada umumnya disebabkan oleh mutu pekerjaan dan produk konstruksi yang rendah.

Selain itu, beberapa faktor penyebab rendahnya kualitas dan kecelakaan kerja disebabkan oleh desain perencanaan yang tidak memenuhi kriteria dan spesifikasi yang diharapkan dapat dihasilkan dari produk konstruksi.

“Pada tahap pelaksanaan disebabkan karena pemilihan metode kerja, material, peralatan kerja, serta kompetensi pekerja yang kurang berorientasi pada proses dan hasil produk yang berkualitas dan aman. Sedangkan pada tahap penggunaan produk konstruksi dapat disebabkan karena pemakaian produk di luar beban perencanaan dan lemahnya pemeliharaan yang dilakukan,” katanya

Menanggapi target waktu yang perlu dipenuhi, Ali Berawi menyampaikan bahwa percepatan penyelesaian pembangunan proyek dapat dilakukan melalui crash program dengan mempertimbangkan penambahan resources, termasuk kesiapan alokasi penambahan biaya, sumber daya manusia, peralatan produksi, metode kerja dan sebagainya.

“Fungsi pengawasan dan kontrol harus dilakukan dengan disiplin dan konsisten untuk memastikan kualitas pekerjaan dan hasil produk sesuai dengan standar prosedur dan spesifikasi yang disyaratkan,” ujarnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : b-islam24h.com

Sebarkan...