Soal Penangkapan Wartawan, DPR Minta Parpol jangan Anti Kritik



Wartawan senior Asyari Usman ditangkap kepolisian setelah dilaporkan oleh kuasa hukum Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Romahurmuzy, Jumat (09/02/2018).

Asyari yang juga mantan wartawan senior BBC London ini kemudian diperiksa kepolisian di Bareskrim Polri, Jakarta. Kasus penangkapan itu menuai kritikan dan sorotan tajam, termasuk dari Anggota Komisi III DPR Muhammad Nasir Djamil.

Asyari ditangkap atas tuduhan menghina Romahurmuzy melalui tulisannya di sebuah media daring. Nasir meminta kepolisian maupun partai politik bersangkutan tidak berlebihan dalam menghadapi kritikan Asyari yang dituding sebagai hinaan tersebut.

“Kita meminta polisi dan partai jangan lebai dalam menghadapi tulisan bernada kritikan, sebab kritikan masyarakat apapun bahasanya itu dimaksud untuk mengoreksi kebijakan atau sikap dari partai,” ujar Nasir dalam pernyataannya diterima hidayatullah.com, Sabtu (10/02/2018).

Untuk kepolisian, kata dia, penanganan kasus yang berawal dari sebuah karya tulis itu jangan bersikap seolah-olah yang bersangkutan mau makar. “Sebab, harus diingat ini hanya persoalan sebuah argumentasi,” jelasnya.

Polisi diminta hati-hati, polisi itu pengayom pelindung dan pelayan. Kalau menghadapi masalah ini fungsi pengayomlah yang dikedepankan.

“Kepada semua partai politik, juga kita meminta agar sebuah kritikan yang disusun dalam argumentasi yang terkesan menyudutkan seharusnya disikapi dengan argumentasi juga dan diajak diskusi,” ungkapnya.

“Jangan sedikit-sedikit main lapor, jangan anti kritik,” tambahnya menegaskan.

“Sebagai mantan wartawan, saya mengajak seluruh mantan wartawan dan wartawan untuk menyikapi persoalan ini dengan serius,” pungkas politisi PKS asal Aceh ini.

Sebelumnya diketahui, Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Asep Safrudin menyebut Asyari dianggap mencemarkan nama baik lewat tulisannya yang diunggah pada sebuah media daring (online).

Ansyari antara lain menulis di media teropongsenayan.com berjudul “Dukung Djarot-Sitorus: Ketum PPP Menjadi ‘Politisex Vendor'”. Ansyari menyebut Ketum PPP Romahurmuziy (Romi) sebagai sosok diktaktor dan oportunis karena mengusung pasangan Djarot dan Sihar Sitorus dalam Pilkada Sumatera Utara. [www.tribunislam.com]

Sumber : hidayatullah.com, opinibangsa.com

Sebarkan...