MasyaAllah.. Laundry di Cirebon Ini Gratiskan Cuci Perlengkapan Shalat


MasyaAllah.. Laundry di Cirebon Ini Gratiskan Cuci Perlengkapan Shalat

Tak banyak pengusaha yang memilih jalan untuk menjadikan usaha sebagai ladang ibadah. Munaroh (36) bersama suaminya, Irfan Yanuar (38) merintis usaha sambil bersedekah.


Warga Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon itu merintis usaha penatu atau yang akrab dengan sebutan laundry. Bisnis penatu milik pasutri itu memberikan jasa cuci gratis untuk perlengkapan salat, seperti sajadah, mukena, dan sarung. Satu tahun lebih Munaroh menggrastiskan pelanggannya yang berniat mencuci sajadah, mukena, dan sarung.

"Dari awal sudah berencana punya program gratis ini. Awalnya buka di rumah, Agustus lalu baru pindah di sini. Bisnis mah sudah setahun lebih, Desember kemarin sudah satu tahun," kata Munaroh saat ditemui detikcom di tempat usaha penatunya di Jalan Kapten Samadikun, Kota Cirebon, Kamis (8/2/2018).

Mumun, sapaan akrab Munaroh mengatakan program cuci gratis sajadah, mukena, dan sarung itu menjadi ladang sedekahnya untuk sesama. Selain itu, Mumun mengaku senang melihat pelanggannya antusias mengikuti program tersebut.

"Saya kan orangnya kadang lupa sedekah, jadi caranya seperti ini agar tak lupa. Mereka (pelanggan) datang pada kaget awalnya lihat program ini, tapi senang karena cuci gratis. Alhamdulillah, saya jadi senang juga lihatnya," kata Mumun.


Mumun tak merasa rugi dengan program gratis yang ia gulirkan. Padahal, lemari cucian di tempat usahanya kadang dipenuhi mukena dan sajadah. Bahkan, sekitar tujuh intansi plat merah menjadi langganannya untuk cuci mukena. Bahkan ada musola yang menjadi langganan tetapnya.

"Saya gratiskan. Tapi ada saja yang ngasih sekadarnya. Saya kasihkan ke kotak masjid uangnya," ucap Mumun.

Usaha penatunya terus mengalami kemajuan. Awalnya Mumun membuka penatu di rumahnya, sistemnya jemput pelanggan. Kini, Mumun memiliki dua karyawan dan tempat usaha sendiri. BIL Laundry nama tempatnya.


Irfan Yanuar, suami Mumun mengaku sejak awal ia dan Mumun memiliki keinginan untuk membuka usaha penatu. Baginya, berwirausaha bukan hanya berbicara profit semata.

"Ya bisa dibilang untuk ladah ibadah kita juga. Hitungan matematika manusia sih rugi, tapi matematika Allah beda lagi. Alhamdulillah selama ini tidak pernah nombok," kata Irfan.

Ide membuka usaha penatu muncul karena pengalaman Mumun yang sempat menjadi anak kos di ibu kota. Rata-rata per pekannya Irfan menerima 150 kilogram cucian, tidak termasuk, sajadah, mukena, dan sarung. [www.tribunislam.com]

Sumber : detik.com



Sebarkan...