Lima Hari Serangan, 400 Jiwa Melayang di Ghouta

Lima Hari Serangan, 400 Jiwa Melayang di Ghouta

Lebih dari 400 jiwa melayang di Ghouta Timur. Serangan udara dari rezim Suriah dan Rusia makin mencemaskan, terlebih sudah memasuki hari kelima.


The Syrian Observatory for Human Rights pada Kamis (22/02/2018) melaporkan, sedikitnya 403 orang dinyatakan tewas sejak serangan pada Ahad (18/02/2018). Dari jumlah itu, 95 jiwa merupakan anak-anak dan hampir 2.120 orang mengalami luka.

Menurut laporan Al Jazeera, korban diperkirakan akan terus bertambah. Mengingat, serangan tak hanya menyasar rumah warga tetapi juga bangunan medis, termasuk 13 fasilitas medis milik Dokter Tanpa Batas.

Akibat serangan yang semakin meningkat, kondisi Ghouta Timur semakin mencekam. Warga setempat memilih mengungsi, meninggalkan rumah untuk mencari perlindungan.

Rafat Al-Abram salah satu warga Ghouta yang tinggal di Douma menuturkan, tidak ada tempat aman di Ghouta. Ia yang berprofesi sebagai montir mobil itu menjelaskan bahwa serangan telah merenggut tempat ia bekerja dengan dua kali serangan.

“Saya berhasil menyelamatkan beberapa perlengkapan dan alat-alat bengkel. Sehingga, saya masih bisa memperbaiki mobil kapan saja,” ungkapnya. Selain itu, Rafat mengaku sering membantu untuk memperbaiki ambulans yang mogok milik relawan kemanusiaan setempat.

“Terkadang bom meledak di sekitar tempat saya bekerja, saya terpaksa berhenti dan bergegas membantu pertahanan sipil untuk menyelamatkan korban reruntuhan,” papasnya.

Ia pun juga menceritakan kondisi keseharian di Ghouta timur. Baginya, suara tangis duka ataupun teriakan kesakitan adalah hal biasa ditemui di Ghouta. Terlebih, setelah serangan semakin meningkat oleh rezim Suriah dengan bantuan Rusia.

“Pandangan seorang ayah dan ibu meratapi dan menangisi anaknya yang tewas atau seorang ayah yang mengendong anaknya yang kakinya putus. Ada lagi orang-orang yang berteriak dan meminta tolong untuk membantu menyelamatkan keluarganya yang terimpit bangunan. Saya semampunya mencoba untuk menghimbur mereka. Meskipun dengan kondisi yang sungguh mengerikan ini, sebenarnya saya lebih ingin duduk dan menangis bersama mereka,” tungkasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...