Kalaupun MJ Meninggal Karena Serangan Jantung, KontraS Nilai Ada Potensi Kecacatan Operasi Densus 88 di Bagian Ini


Mabes Polri mengklaim sudah melakukan penyelidikan melalui Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) terkait kematian Muhammad Jefri. Dari hasil penyelidikan, polisi mengklaim anggota Densus 88 tak melakukan pelanggaran.


Divisi Propam Mabes Polri mengatakan telah melakukan penyelidikan terkait kematian Jefri. Mereka menyatakan tidak ada pelanggaran disiplin dan atau kode etik profesi Polri yang dilakukan oleh anggota Densus 88.

“Meninggalnya tersangka teroris MJ alias AU pasca dilakukan penangkapan oleh anggota Densus akibat serangan jantung dan tidak ada tanda-tanda kekerasan,” kata Sekretaris Biro Paminal Divisi Propam Polri, Kombes Agung Wicaksono dalam konferensi pers di Mabes Polri, Kamis, (15/2/2018).

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis forensik RS Polri Kramat Jati, Arif Wahyono, menyebut memegang sumpah dokternya dalam melakukan autopsi. Ia menyebut hasil pemeriksaan laboratorium menyebut Jefri mengidap sakit jantung menahun.

“Agak susah, nggak bisa diprediksi sejak kapan (mengidap sakit jantung). Pada saat penyerahan jenazah bahwa yang bersangkutan mengidap penyakit ini,” ucap Arif.

Pihak Rumah Sakit Polri telah menyerahkan jenazah Jefri pada hari Jumat, 9 Februari 2017 pukul 16.15 WIB. Penyerakan dilakukan kepada pihak keluarga yang berasal dari Lampung dan pihak istri dari Indramayu. Jenazah kemudian dimakamkan di pemakaman Kapuran, Kelurahan Pasar Madam, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung pada 10 Februari 2018.

Sementara, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mempertanyakan tanggung-jawab Kepolisian dalam kasus kematian Muhamad Jefri alias MJ saat berada di bawah penguasaan Tim Densus 88. MJ ditangkap atas dugaan terlibat dalam kasus Terorisme, di mana saat ditangkap MJ diketahui dalam keadaan sehat. Selain itu, menurut pihak keluarga, penangkapan terhadap yang bersangkutan juga tidak disertai dengan surat perintah penangkapan dan penahanan.

“Kami juga meyayangkan penjelasan mengenai kematian MJ baru disampaikan oleh Polri pada 15 Februari 2018 atau satu minggu setelah kematian MJ setelah media massa memberitakan peristiwa ini,” kata Koordinator Badan Pekerja KontraS, Yati Andriyani melalui pernyataan tertulis, Jumat (16/02/2018).

“Dalam penjelasan yang disampaikan Polri mengenai kasus ini, kami menilai masih terdapat ketidakjelasan informasi dari Polri dan potensi kecacatan dalam operasi pemberantasan terorisme oleh Tim Densus 88,” imbuhnya.

Yati menambahkan dalam kasus kematian Muhammad Jefri tidak dijelaskan secara terbuka bagaimana penanganan terhadap para Terduga Terorisme atau dugaan tindak pidana lainnya saat berada dibawah penguasaan Tim Densus 88. Selain itu juga tak ada keterangan tentang perlakuan terhadap mereka yang memiliki penyakit atau riwayat penyakit yang dapat mematikan, seperti serangan jantung atau lainnya. Termasuk juga metode pendekatan atau penggalian informasi yang dilakukan seharusnya dilakukan terhadap terduga pelaku tindak pidana yang memiliki penyakit atau riwayat penyakit yang mematikan.

“Jika benar yang bersangkutan meninggal karena serangan jantung, maka patut dipertanyakan tindakan Tim Densus yang seperti apa yang membuat MJ mengalami serangan jantung karena sebagaimana diketahui serangan jantung dapat terjadi akibat dipicu oleh kondisi dan situasi tertentu,” ujar Yati.

Jikapun benar yang Jefri meninggal karena serangan jantung, maka KontraS menilai rangkaian peristiwa yang menjadi alasan serangan jantung itu terjadi harus didalami. Penyebab serangan jantung tersebut dapat terjadi saat tengah berada di bawah penguasaan Densus 88 juga harus diuangkap.

“Hal ini harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan jika terbukti serangan jantung terjadi karena adanya kelalaian berupa perlakuan yang tidak patut terhadap terduga tindak pidana yang memiliki riwayat atau indikasi penyakit tertentu,” tandas Yati.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...