Kesaksian Relawan ACT Tentang Kondisi Ghouta Terkini


Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah memberangkatkan relawan ke Ghouta. Para relawan mengungkapkan, kondisi Ghouta kian mencekam. Serangan rezim melalui udara dan darat dilontarkan siang maupun malam. Semua itu diceritakan oleh Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur.


“Meski Dewan Kemananan PBB, Sabtu 24 Februari lalu, memutuskan agar diberlakukan genjatan senjata, Asad dan kelompok pendukungnya, nampaknya tidak mendengarkan mereka. Sejak keputusan dan seruan tersebut, senjata kimia masih terus digunakan menyerang rakyatnya,” ungkap Syukur saat melakukan jumpa pers di Kantor ACT, Gedung Menara 165, Jakarta Timur, Senin (26/02/2018)

Selain itu, informasi relawan kemanusiaan dari White Helmets juga menjadi catatan penting bagi ACR. Sejak Ahad pagi (25/02/2018) dilaporkan ada 8 daerah yang menjadi titik serangan rezim Suriah di Ghouta seperti: Douma, Haresta, Sifonia, Kafr Batna, Hammuriya, Sakba, Beyet Sava dan Marj. Korban jiwa terus berjatuhan baik itu tewas, luka hingga keracunan.

“Dewan Kemanan PBB dengan suara penuh, keluarkan keputusan pemberlakuan gencatan senjata. Mengaku sangat terlambat untuk melakukan ini, PBB juga menyeru agar blokade terhadap Ghouta dibuka dan bantuan kemanusiaan bisa dibawa masuk ke Ghouta secara aman, tanpa hambatan dan berkesinambungan,” desaknya.

PBB juga mendesak gencatan senjata selama 30 hari. Selain itu, blokade di Suriah tak luput jadi sorotan. Ada 4 daerah yang kini menjadi perhatian PBB lantara diblokade rezim Suriah. Banyak rakyat yang terjebak dan tak dapat mengungsi. Rezim Suriah didesak untuk mencabut blokade tersebut.

“Ghouta, ‘tanah surga’ yang menjadi daerah kebun dan sawah bagi Damaskus. Sepanjang sejarah dikenal dengan kehijauan, sungai, pohon buahan dan tamannya.Kini seolah menjadi kuburan bagi hampir 400 ribu warganya,” ungkap Syukur.

“Sebagian besar warga saat ini tinggal di bunker-bunker di bawah tanah, demi melindungi diri dari serangan udara dan darat yang berkelanjutan,” lanjutnya.

Blokade telah memperparah kondisi. Akses bantuan menjadi terhambat. Syakur menuturkan, begitu banyak nyawa yang terenggut, baik akibat racun, peluru terhimpit reruntuhan bangunan atau mati perlahan lantaran tak ada makanan dan obat-obatan.

“Berhari, berbulan, bertahun, serangan bengis dari algojo-algojo pembunuh Asad, terus merenggut nyawa orang-orang lemah, orangtua, wanita dan anak-anak di depan mata seluruh dunia. Perjanjian Astana yang menetapkan Ghouta sebagai kawasan gencatan-senjata pun tidak berarti apa-apa untuk Asad. Rumah sakit bahkan ditargetkan secara khusus,” ungkapnya.

Semenjak diberlakukannya blokade, kondisi Ghouta terus memburuk. Stok makanan menipis, akses medis diperlusit, bahan pangan langka dan obat-obatan sangatlah mahal. Selama 2017 saja, bantuan PBB hanya berhasil masuk dua kali saja yaitu bulan Oktober dan Desember.

“Dalam 5 hari belakangan, rezim menyerang 22 sentra kesehatan, masjid dan rumah yatim. Di kawasan krisis yang makin parah ini, ribuan korban luka harus segera dievakuasi mendapatkan pengobatan. Ratusan korban lainnya sangat kritis,” ungkapnya.

Menurut data SNHR (Syrian Network for Human Rights), sejak serangan 14 Oktober 2017 silam hingga 24 Februari 2018, Asad tewaskan 1121 sipil. 281 adalah anak-anak dan 171 wanita. Adapun jumlah korban sejak maraknya perlawanan rakyat Maret 2011, SNHR mencatat 12.763 korban jiwa. Dimana 1463 adaah anak-anak dan 1127 wanita. Ghouta terpapar 46 kali serangan senjata kimia. Sedangkan menurut koalisi nasional oposisi Suriah, sejak 2012 hingga sekarang, lebih dari 23 ribu sipil terbunuh. Lebih 32 pusat kesehata diluluh lantakan.

Sejak gerakan perlawanan rakyat 2011, Ghouta menjadi salah-satu pusat perlawanan dan memiliki posisi strategis karena kedekatannya dengan ibukota Damaskus. Karena itu, kawasan ini diblokade oleh Asad sejak April 2013. Kawasan ini acap diserang dengan meriam atau roket.

Ada dua kelompok oposisi di Ghouta. Faylakurrahman yang berafiliasi ke FSA, dipimpin oleh Abdunnasir ┼×amir seorng kolonel yang memisahkan diri dari tentara Suriah. Kedua, Jaisyul Islam, kelompok oposisi rakyat terbesar di Ghouta Timur. Afiliasi kepada gerakan Jabhah Al Islamiyah. Mereka memiliki banyak roket yang kadang ditembakkan ke Damakus, yang menjadi dalih Asad memborbardir Ghouta.

Kawasan yang dikepung ini, hanya miliki dua jalur akses keluar. Pertama check point Wafidin di Douma. Di satu sisi dikuasai rejim, di sisi lain dikuasai Jaisyul Islam. Satu lagi, seperti di Gaza, terowongan yang memanjang ke kawasan lain di Damaskus. Terowongan ini belakangan ditutup oleh rezim.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...