FPMI Jabar Temukan 6 Kejanggalan Penganiyaan Terhadap Ulama dan Aktivis Islam

FPMI Jabar Temukan 6 Kejanggalan Penganiyaan Terhadap Ulama dan Aktivis Islam

Masyarakat sedang diresahkan dengan kabar penganiyaan ulama yang terjadi di Jawa Barat baru-baru ini. Dua kasus penganiayaan menimpa ulama terjadi di Cicalengka dan Bandung.


Kasus pertama menimpa KH Sang Umar Basri. Kiai pengasuh Ponpes Al-Hidayah ini selamat dan menjalani perawatan setelah diserang usai salat Subuh ketika sedang berzikir di masjid.

"Kasus kedua, menimpa Komandan Komando Brigade Persis, Ustadz Prawoto. Kejadian di Cigondewah, Bandung itu mengakibatkan Ustadz Prawoto meninggal dunia dengan luka di kepala dan tangan," kata Koordinator Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam [FPMI] Jawa Barat Mashun Sofyan dalam keterangan tertulisnya kepada voa-islam.com, Selasa (06/02).

Penganiyaan ulama di Jawa Barat ini kata Sofyan patut dicurigai karena persoalan ini memiliki alur cerita yang menimbulkan banyak pertanyaan. Motifnya banyak memiliki kesamaan. Kami mencoba mengkaji dan menemukan setidaknya 6 kejanggalan.

"Kejanggalan Pertama, peristiwa penganiayaan terjadi dalam selang waktu yang dekat, yakni kurang dari sepekan. Diawali penyerangan terhadap KH Umar Basri, Sabtu (27/01) lima hari berikutnya menyusul Ustadz HR Prawoto dianiaya pada hari Kamis (01/02)," ujarnya.

"Kejanggalan Kedua, kedua kejadian tersebut berlangsung di waktu yang sama yakni saat subuh. Kejanggalan Ketiga, yang menjadi korban adalah ulama, sosok panutan umat. KH Umar Basri dikenal sebagai kiai pengasuh Ponpes Al Hidayah dan Ustadz Prawoto dikenal sebagai Komandan Brigade Persis Pusat. Kejanggalan Keempat, lokasi kejadian terletak di Jawa Barat. Sebagaimana diketahui, tidak  lama lagi provinsi terbesar di Indonesia ini akan menyelenggarakan Pilgub pada bulan Juni 2018 sehingga isu sensitif bisa menjadi ‘alat’ permainan menuju pilgub. Sebagian pihak juga bertanya mengapa penganiyaan ulama baru-baru ini hanya terjadi di Jawa Barat, bukan di daerah lain," paparnya.

Kejanggalan Kelima, masih menurut Sofyan, kedua pelaku penganiyaan tersebut disebut sebagai orang gila, walaupun sebagian pihak ada yang mempertanyakan apakah pelakunya benar-benar orang gila atau orang gila terlatih yang sedang menjalankan misi tertentu.

"Kejanggalan Keenam, kedua pelaku berusaha melukai bagian kepala korban dengan begitu brutal. Wajah KH Umar Basri itu berdarah-darah pasca kejadian, namun beliau masih selamat, sedangkan Ustadz Prawoto mengalami luka berat dibagian kepala akibat hantaman linggis hingga beliau meniggal dunia," pungkasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : voa-islam.com

Sebarkan...