Ungkap Kekerasan Etnis di Rohingya saat Pidato, Politisi Budha Myanmar Ini Ditangkap

Ungkap Kekerasan Etnis di Rohingya saat Pidato, Politisi Budha Myanmar Ini Ditangkap

Polisi Myanmar pada hari Kamis (18/1/2018) menangkap seorang anggota parlemen Buddha Rakhine karena membeberkan kekerasan etnis, media pemerintah dan partainya mengatakan, setelah sebuah kerusuhan mematikan menyoroti ketegangan yang mendidih di negara yang bermasalah tersebut.


Kekerasan meletus saat kemarahan meningkat setelah pembatalan sebuah upacara lokal di Mrauk U, sebuah kota yang berjarak beberapa lusin kilometer dari pusat tindakan keras militer terhadap komunitas Muslim Rohingya di negara tersebut.

Media yang didukung negara melaporkan bahwa tuduhan diajukan terhadap anggota majelis rendah Aye Maung setelah sebuah pidato pada hari Senin (15/1/2018) di mana politisi nasionalis itu menyerang pemerintah dengan pidatonya, dan mengatakan karena pemerintah menganggap Rakhine adalah “budak” bahwa ini adalah “waktu yang tepat” bagi masyarakat untuk melancarkan perjuangan bersenjata.

“Dr Aye Maung ditangkap dan dibawa dari rumahnya sekitar pukul 13:00 waktu setempat siang ini,” kata sekretaris jenderal Partai Nasional Arakan Tun Aung Kyaw, kepada AFP.

Arakan adalah nama lain untuk Rakhine.

Polisi menyalahkan para pemrotes karena memulai kekerasan hari Selasa dengan melempar batu, masuk ke kantor administrasi dan mengangkat bendera Negara Bagian Rakhine.

Aye Maung, anggota parlemen pertama yang ditangkap sejak konstitusi yang didukung militer Myanmar diadopsi pada tahun 2008, didakwa atas tindakan Asosiasi yang melanggar hukum, dan mendapat hukuman maksimal tiga tahun.

Kekerasan tersebut mendorong sebuah kelompok pejuang etnis Rakhine di negara tersebut untuk menjanjikan pembalasan “serius” atas kematian para pemrotes.

Rakhine diakui oleh pemerintah sebagai kelompok etnis namun sering dipinggirkan di bawah sistem yang lebih memilih etnis dominan Bamar (orang Burma).

Massa Budha dilaporkan membantu militer Myanmar dalam melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran terhadap Muslim Rohingya – 655.000 orang yang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus – dalam pembantaian yang oleh PBB dikutuk sebagai pembersihan etnis.

Kerusuhan Selasa terjadi bersamaan dengan sebuah penandatanganan kesepakatan repatriasi yang sangat dikritik antara Myanmar dan Bangladesh untuk mulai mengirim pengungsi kembali.

Pengamat sekarang khawatir konflik sekarang bisa memasuki fase baru.

“Ini bisa beresiko menjadi penangkal petir Rakhine dan situasinya bisa meningkat,” kata analis politik Richard Horsey kepada AFP.[www.tribunislam.com]

Sumber : jurnalislam.com

Sebarkan...