Hukum Diinjak-injak, Prof Suteki: Apakah Indonesia Sudah Segawat ini?


Hukum Diinjak-injak, Prof Suteki: Apakah Indonesia Sudah Segawat ini?

Saudaraku sebangsa setanah air, apakah Indonesia ini sudah segawat inikah?

Saya ahli hukum tapi dipelosok desa, tidak termasuk RING-RING KEKUASAAN JAKARTA. Entah saya berada di RING berapa? Umat Islam menurutku sudah termasuk bersabar menghadapi semua ini. Tidak bisakah semua mengendalikan diri. Apakah setiap laporan perbuatan yg diduga tindak pidana mesti harus diteruskan hingga menjadikan pelaku sebagai TERSANGKA? TERDAKWA? lalu TERPIDANA. Sementara ada pelaku lain yg secara nalar melakukan yg mirip, tetapi masih melenggang santai seokah tidak tersentuh. Materi hukum kita sudah berisi hukum yang PROGRESIF tetapi tidak diukung oleh PENEGAK HUKUM PROGRESIF. Lihatlah apa yang tejadi di Pemerintahan, di DPR di MK. Lalu apa kurangnya?



Pengalaman ini menunjukkan bahwa: tidak cukup
1. Substansi hukum yg rigid
2. Struktur kelembagaan yg handal
3. Budaya hukum yang baik…tapi ternyata butuh:

PEMIMPIN YANG AMANAH! BERANI MEMBELA KEADILAN DAN KEBENARAN bukan PEMIMPIN yang justeru berlindung dibalik ketiak LEGITIMASI ATURAN yang seringkali meluluhlantakan aspek kemanusiaan. Pemimpin yg biasa KHIANAT tdk bisa diharapkan mampu membuat HUKUM itu tegak.

HUKUM ITU UNTUK MANUSIA
BUKAN…
HUKUM UNTUK HUKUM
APALAGI…
MANUSIA UNTUK HUKUM

Hasil copas ini saya sajikan sebagai langkah konfirmasi apakah hal ini benar, lalu bagaimana kita menyikapi realitas yg tertulis dalam tulisan ini.

COPAS:
SYARWAN HAMID: TENTUKAN WAKTUNYA… UNTUK ARENA BHARATAYUDA.

Kemarin saya hadir di sidang Asma Dewi sebagai *Ahli Bidang Intelijen*, seperti yg saya lakukan pada sidang Alfian Tanjung di Surabaya bulan lalu.

Ini lah tuduhan thd Asma Dewi, a/l, terhadap Postingan *Cina akan hancurkan Indonesia lwt Tenaga Kerjanya*… bahwa *Di Malaysia diajarkan bahasa Jawa Kuno, sedang di Indonesia dipilih bahass Cina*… ttg adanya *Vaksin palsu dari Cina, tapi pemerintah malah mendirikan pabrik Vaksin dari Cina*…

Dengan komentarnya terhadap pernyataan itu AD ditangkap, ditahan dan diadili dgn tuduhan Pasal-pasal Kebencian (kepada Cina). Sidang sudah berjalan sampai pada penjelasan Ahli.

Saya berpendapat bahwa selama masa pemerintahan ini, perlakuan yg diberikan kepada Warga Tionghoa (Cina), terutama Pengusahanya, sangat berlebihan. Segala urusan sangat dipermudah.Lihatlah hampir semua aset dan lahan besar dimiliki oleh mereka. Ini telanjang di depan mata, tak usah saya rinci lagi (di Riau hampir semua perkebunan besar milik mereka). Konon katanya ada yg memiliki total 5 juta hektar…

Disamping itu, siapa yg paling besar melarikan uang Indonesia (BLBI, Edy Tanzil, dll).

Terkait dengan itu semua, plus perkiraan logis masa depan Bangsa (spt Tibet, Zambia, Kamboja dan yg sdh jadi benar Singapur),yg berpotensi mendera Negri tercinta ini, tak layakkah warga Indonesia mencemaskannya ?????

Amboi, ekspresi kecemasan itu yg diperlihatkan oleh seorang Asma Dewi, karena Pemerintah yg terkesan “sayang sekali kepada Cina”. Dia dituduh dan langsung ditahan karena “menyebarkan kebencian”. Luar biasa Pasal Karet Penyebar kebencian yang melebihi UU Anti Subversi 1963, telah menjadi pisau yg melibas aktivis yg kritis.

Saya mau bertanya kepads Adinda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Chotibul Imam, Hariman Siregar dan Tokoh-tokoh muda lainnya, inikah NKRI yg kita cintai??!! Akan diam sajakah kalian/kita??!! Atau sekedar mengomel saja cukupkah??!!

Begitu pula kepada kader 212… tak perlukah kita berkumpul lagi di Monas dgn kekuatan lebih besar utk mendesak Pemerintah agar tdk se-wenang2 terus??!! (Ingat Imam besar kita tak dapat pulang karena ancaman penahanan).

Sekali ini harus serius, _*it now or never*_! *Tentukan waktunya*, mari kita “pasang badan di Monas” lagi. Jika perlu sebagai *Arena Bharata Yudha* dan cukup dgn senjata *bambu runcing* saja.

Bravo Saudaraku! Untuk masa depan anak-cucu kita!!

Syarwan[www.tribunislam.com]

Sumber : dakwahmedia.co

Sebarkan...