Akhir Zaman, Narasi yang Menggelisahkan Barat


Akhir Zaman, Narasi yang Menggelisahkan Barat

Menanggapi pemanggilan Polri kepada Ustadz Zulkifli M. Ali (18/01/2018), Wakil Ketua DPR-RI Fahri Hamzah punya sudut pandang unik yang tidak banyak disorot pengamat. Menurutnya, pemanggilan dai yang dikenal dengan materi akhir zaman tersebut akibat polisi menganggap ceramah akhir zaman adalah narasi terorisme.

Anggapan itu muncul, menurut Fahri, akibat polisi menggunakan cara pandang Barat pasca peristiwa 911 sebagai frame dalam banyak hal terkait Islam dan terorisme. Frame inilah yang kemudian membuat polisi seolah terjerembab dalam kubangan Islamophobia.

Sayangnya, kedalaman pengetahuan Polisi tentang seputar terorisme tidak dibarengi pemahaman yang utuh dan baik tentang Islam. “Di Polri kita banyak ahli terorisme gak paham agama Islam. Akhirnya lihat kulit tanpa mengenal isi. Berantakan jadinya,” begitu kata Fahri sebagaimana dimuat sebelumnya oleh Kiblat.net.

Barat, terutama pengamat dan praktisi kontra-terorisme, memang rajin menelaah diksi-diksi khas Islam yang, menurut mereka, menjadi bibit pemahaman radikalisme. Sebut saja soal khilafah, daulah dan, dalam kasus terkait Ustadz Zulkifli, akhir zaman.

Di antara pandangan Barat tentang narasi akhir zaman dan keterkaitannya dengan aksi jihad, disajikan dalam jurnal yang diterbitkan Tony Blair Institute for Global Change. Judulnya Inside the Jihadi Mind; Understanding Ideology and Propaganda (Oktober 2015).

Jurnal Tony Blair Institute

Dalam jurnal tersebut tema akhir zaman (end of days) disebut sebagai narasi yang sering diucap kelompok jihad, selain soal keimanan (creedal values) serta harga diri dan solidaritas (honour and solidarity).

Narasi akhir zaman memiliki pengaruh yang sangat kuat karena didasarkan pada salah satu rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir (kiamat). Ayat-ayat Al-Quran berulang kali mengingatkan tentang hari tersebut. Sedangkan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menyibak tanda-tanda akhir zaman, yang hari demi hari semakin terlihat dan terasa dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks perang ideologi, narasi akhir zaman juga memiliki sifat unik sekaligus “berbahaya,” setidaknya di kalangan pemikir Barat. Narasi ini bersifat menghibur umat Islam, bahwa kekalahan yang mereka alami hari ini bagian tak terelakkan dari takdir atau kuasa Tuhan.

Namun pada saat yang sama, narasi akhir zaman menjanjikan kemenangan akhir ada di tangan kaum Muslimin. Poin ini menjadi pembakar semangat dan motivasi umat Islam untuk terus mengobarkan perlawanan (jihad).

Di tengah tekanan demi tekanan yang menghempaskannya dalam keterpurukan, umat Islam melihat berbagai tanda-tanda akhir zaman yang presisi dengan nubuwat Nabi Muhammad SAW bermunculan. Nubuwat yang sama juga menjanjikan akhir zaman bagi kemenangan bagi umat Islam. Di situlah spirit untuk mengejar kemenangan terus menyala.

Di sisi lain, dekatnya akhir zaman membuat umat Islam menyadari kehidupanya di dunia tidak akan lama lagi. Selepas kehidupan di dunia, mereka akan memasuki fase kehidupan kekal di akhirat, dan hanya mengenal surga atau neraka.

Karena itu, mereka berusaha keras agar akhir kehidupan di dunia ini happy ending (khusnul khatimah). Satu-satunya cara meraih khusnul khatimah adalah dengan mengorbankan segala yang dimiliki untuk kemuliaan agama (Islam).

Spirit dan rasa percaya diri yang menghasung umat Islam untuk menyongsong masa depan itu terasa jomplang bila dibandingkan dengan ideologi Barat. Mereka tidak memiliki konsep yang jelas tentang akhir zaman—Bibel justru mengabarkan nasib sial Bani Israel di akhir zaman. Padahal, siapapun pasti akan hanyut oleh waktu di bawa ke ujung kehidupan dunia.

Ke-jomplang-an itu akhirnya menimbulkan kepanikan. Israel mewujudkan kepanikan itu dengan rajin menanam pohon Gharqad, pohon yang berpihak kepada mereka dalam perang akhir zaman. Sementara kalangan pemikir strategis Barat berusaha mereduksi pemahaman umat Islam yang benar terhadap akhir zaman.

Nah, kembali ke persoalan dalam negeri kita. Agar kepanikan itu tidak merembet ke institusi kepolisian kita, ada baiknya Polisi lebih sering membuka forum-forum kajian tentang akhir zaman dengan menghadirkan ulama-ulama yang ikhlas.

Insya Allah, langkah ini sangat efektif membantah anggapan Fahri di atas tentang Polri yang “Melihat kulit tanpa mengenal isi, akhirnya jadi berantakan” akibat kurangnya tenaga ahli dalam memahami ajaran Islam secara otentik dengan frame yang jujur.

Penulis: Tony Syarqi[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...