Setali Tiga Uang dengan Menag, Jimly Asshiddiqie Sebut LGBT bukan Tindak Kejahatan


Setali Tiga Uang dengan Menag, Jimly Asshiddiqie Sebut LGBT bukan Tindak Kejahatan

Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menghormati keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan uji materi pasal kesusilaan dalam KUHP.


Menurutnya, keputusan MK harus dihormati sekalipun terdapat kontroversi dalam putusan itu. "Jadi lima yang menjadi putusan dan empat menggambarkan ada jalan pikiran yang hidup di masyarakat kita dan terwakili oleh empat hakim itu dan harus dihormati karena itu kenyataan hidup yang ada pada kita," kata Jimly seusai menghadiri seminar prospek Indonesia di MGK Kemayoran, Jakarta, (16/12).

Jimly menganggap lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) merupakan penyakit, bukan bagian dari tindak pidana. Karena itu, negara, termasuk seluruh masyarakat Indonesia, punya tanggung jawab untuk menyembuhkan penyakit LGBT tersebut.

"LGBT itu menyimpang dari ukuran umum dan bukan tindak pidana, tapi itu penyakit yang harus disembuhkan dan ini tanggung jawab negara dan tanggung jawab kita semua untuk membantu."

Jimly melanjutkan, jika dilihat secara objektif, tidak ada manusia yang ingin menyimpang, apalagi terlahir dalam keadaan dua fisik. Dia yakin, semua manusia yang dilahirkan ke dunia ingin menjalani kehidupan mereka secara normal. "Jadi tidak boleh juga menganggap itu kejahatan, orang dia tidak mau lahir dalam keadaan begitu," ucap Jimly.

Pengamat hukum tata negara Irmanputra Sidin menambahkan, keluarnya putusan MK yang menolak gugatan pemohon dalam perkara Putusan Nomor 46/PUU-XIV/2016 jangan diartikan MK seolah melegalkan LGBT. Hal ini perlu diluruskan karena bisa menimbulkan kesalahpahaman yang fundamental.

Irmanputra beranggapan pengujian pasal tersebut memiliki argumentasinya sendiri karena alasan untuk menolak bisa terbangun bahwa permohonan itu ialah kebijakan kriminalisasi terhadap sebuah perbuatan yang sebelumnya bukan kriminal.

"Guna menentukan perbu-atan itu kriminal atau tidak, ada pada konstruksi bangunan prinsip daulat rakyat, bukan pada rekayasa hakim di peng-adilan," ujar Irmanputra.

Menurut Irmanputra, argumentasi itu akan bersandar pada asas legalitas sehingga MK bisa saja menolaknya karena menganggap bahwa pemaknaan dalam lapangan hukum pidana seperti itu bukan kewenangan MK.

Solusi Islam terhadap LGBT

Fenomena pasangan gay yang semakin merajalela di dunia menjadi perhatian kita khususnya sebagai orangtua dalam mendidik buah hati kita agar tidak tergelincir pada jerat dosa. Islam memerintahkan agar anak diperlakukan dan dididik sejak dini dengan memperhatikan jenis kelaminnya beserta hukum syara’. Anak juga harus diberikan pemahaman untuk menjauhi perilaku berbeda dengan jenis kelaminnya. Islam melarang laki-laki bergaya atau menyerupai perempuan, dan perempuan bergaya atau menyerupai laki-laki.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. al-Bukhari).

Tidak hanya itu, semua perbuatan LGBT yang haram itu sekaligus dinilai sebagai tindak kejahatan/kriminal (al-jarimah) yang harus dihukum. Hukuman untuk homoseks adalah dalam Islam sebenarnya sangat keras, hukuman mati, tak ada khilafiyah di antara para fuqoha khususnya para shahabat Nabi SAW seperti dinyatakan oleh Qadhi Iyadh dalam kitabnya Al-Syifa` menyangkut ini. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya.” (HR Al Khamsah, kecuali an-Nasa`i).

Hanya saja para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  berbeda pendapat mengenai teknis hukuman mati untuk gay. Menurut Ali bin Thalib RA, kaum gay harus dibakar dengan api.

Menurut Ibnu Abbas RA, harus dicari dulu bangunan tertinggi di suatu tempat, lalu jatuhkan gay dengan kepala di bawah, dan setelah sampai di tanah lempari dia dengan batu. Menurut Umar bin Khaththab RA dan Utsman bin Affan RA, gay dihukum mati dengan cara ditimpakan dinding tembok padanya sampai mati. Memang para shahabat Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam  berbeda pendapat tentang caranya, namun semuanya sepakat gay wajib dihukum mati. (Abdurrahman Al-Maliki, Nizham Al-Uqubat, hal. 21).

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) adalah perbuatan yang diharamkan Islam, sekaligus merupakan tindakan kriminal yang harus dihukum tegas. Semoga kita bisa menjaga keluarga kita dari racun dan musibah ini. Wallahu A’lam Bis-Shawaab.[www.tribunislam.com]

Sumber : cnnindonesia.com, hidayatullah.com



Sebarkan...