Heboh Foto Siswi Berjilbab di Sebuah Ibadah Natal

Heboh Foto Siswi Berjilbab di Sebuah Ibadah Natal

Sebuah foto persiapan ibadah pra natal di Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GIPG) Gorontalo tiba-tiba menjadi viral. Kegiatan yang berlangsung pada 7 Desember tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.


Itu setelah beredarnya foto persiapan pra natal yang menampilkan siswi berjilbab. Informasi yang dirangkum Gorontalo Post (Jawa Pos Group), siswi berjilbab tersebut berasal dari SMP Negeri 1 Tibawa.

Ada tujuh orang siswa yang ikut ambil bagian dalam kegiatan pra natal yang berlangsung di GPIG Nazaret Isimu itu. Para siswa tersebut tampil dengan membawakan lagu khas Gorontalo.

“Kebetulan mereka sering ikut lomba. Maka dari panitia meminta kesediaan anak-anak untuk mengisi acara perayaan Pra Natal,” ungkap Panitia Pelaksana Tony Tenggor.

Menurut Tony, pihaknya sengaja menampilkan kesenian khas Gorontalo agar kesenian—khususnya musik asli—Gorontalo bisa diketahui luas oleh masyarakat. Termasuk umat kristiani.

“Untuk identitas mereka menggunakan jilbab itu tujuannya untuk menunjukkan keberagamaan,” tegas Tony.

Pria yang juga kepala sekolah di Tibawa itu menegaskan, pelaksanaan pra Natal dengan turut menampilkan para siswa muslim bukan kali pertama dilaksanakan. Tahun-tahun sebelumnya juga pernah dilakukan.

“Tahun kemarin kita hadirkan tarian anak-anak SD yang semuanya menggunakan jilbab,” ujarnya.

Sementara itu beredarnya penampilan siswi berjilbab di media sosial menimbulkan tanggapan beragam. Beberapa di antaranya mengaku bangga dengan indahnya kebersamaan yang ditunjukkan masyarakat Gorontalo. Terutama menyangkut toleransi beragama sekaligus contoh sikap saling menghargai.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo, Abdurrahman Abubakar Bahmid, mengaku sangat terkejut sekaligus menyayangkan kejadian tersebut.

“Sangat menyayangkannya. Ini hal yang melanggar syariat dan falsafah di Gorontalo,” tegas Bahmid.

Sesuai dengan Fatwa yang dikeluarkan MUI pada 7 Maret 1981, terang Bahmid, bahwa mengikuti upaca Natal bersama bagi umat Islam itu hukumnya haram dan dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. Meski demikian, Bahmid meminta agar ditelusuri terlebih dahulu apakah ada unsur pemaksaan didalamnya.

“Kalau ada unsur pemaksaan, bisa dilaporkan kepada pihak yang berwajib,” tegasnya.

Bila peristiwa itu benar-benar terjadi, terlebih jika ada unsur pemaksaan, maka selaku Ketua MUI Provinsi Gorontalo, Bahmid meminta kepada kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo untuk memberikan sanksi kepada kepala sekolah tersebut.

"Toleransi dalam akidah dan ibadah itu bukan terlibat dalam perayaan ibadah agama lain, tapi dengan memberikan kesempatan dengan damai pelaksaan ibadah mereka. Kita tidak boleh menghalangi atau mengganggu,” pungkasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : jawapos.com

Sebarkan...