MUI: Menutup Aurat Adalah Pembeda Manusia dengan Hewan


Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Muhammad Cholil Nafis mengungkapkan bahwa seorang wanita yang menutup aurat berarti martabatnya terjaga. Pasalnya, menutup aurat merupakan identitas seorang Muslim.



“Menutupi Aurat itu melindungi martabat sekaligus adalah identitas bagi umat Muslim. Namun tak boleh menganggap sesat apalagi kafir kepada orang lain karen tak menutup aurat atau tak berjilbat. Yang tidak menutup aurat itu masiyat kepad Allah. #Aurat,” cuitnya di akun Twitter pada, Senin (27/11/2017).

Ia menjelaskan, menutup aurat adalah fitrah manusia. Karena yang membedakan manusia dengan binatang adalah berpakaian. Selain itu, berpakaian juga bertujuan untuk menjaga aurat laki-laki dan perempuan.

“Tak ada makhluk di darat dan di laut yg wajib berpakaian kecuali manusia.#Aurat,” sambungnya.

Sementara itu, ia menjelaskan aurat manusia telah dijelaskan dalam Al-Qur’an di surat Al-A’raf ayat 22. Sementara di dalam Kitab Faydhul Qadir menyebut definisi aurat, sesuatu yang tak baik dan malu untuk diperlihatkan.

“Aurat Perempuan saat shalat adalah seluruh tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangannya. lihat kitab al-Umm: 2/85-86 juga kitab al-Tamhid: 3/363. Meskipun ulama beda pendapat tentang telapak kaki apakah wajib ditutupi saat shalat, namun Jumhur ulama mewajibkan tutup,“ tuturnya.

“Aurat wanita di luar shalat di depan orang lain (bukan mahram) atau di depan umum ada beberapa pendapat, tapi dapat diringkas jadi 2. Pertama, aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya adalah aurat, bahkan wajib menutup wajahnya jika akan terjadi fitnah, kecuali lansia. Dan pendapat kedua, aurat perempuan semua badannya dan wajahnya secara keseluruhan, baik wajah maupun tangannya. Apalagi bagi pemudi wajib menutupi wajahnya,“ sambungnya.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa aurat perempuan di depan mahram yang sepatut ditampakkan seperti pakaian di dalam rumah, yaitu tangan, wajah bahkan rambut kepala boleh terlihat. Dan aurat perempuan di depan perempuan lain hanya sebatas lutut hingga pusar.

“Ulama masih menekankan aurat pada kepantasan yang dapat dilihat seasama jenis. Sehingga yang wajib ditutup bukan hanya itu tapi juga bagian lain yg dianggap tabu oleh pandangan masyarakat,“ katanya.

Lanjut Cholil, aurat laki-laki di antara pusar hingga lutut, baik di dalam shalat dan di luar shalat.

“Aurat saat shalat lebih diperhatikan batadannya darpd di luar shalat. Manuru Imam Abu Hanifah: pusar dan lutut bukan aurat bagi laki-laki,“ katanya.[www.tribunislam.com]

Sumber : eramuslim.com

Sebarkan...