Komunitas Muslim Osaka, sarana silaturahim dan belajar ilmu Agama warga negara Indonesia di Osaka, Jepang


Komunitas Muslim Osaka, sarana silaturahim dan belajar ilmu Agama warga negara Indonesia di Osaka, Jepang

Redaksi Tribun Islam menerima email dari Abdul Rohman Supandi, mahasiswa PhD Osaka University tentang kegiatan yang diadakan Komunitas Muslim Osaka, yang merupakan kumpulan muslim Indonesia yang berada di Jepang. Berikut artikel nya:



Sejak Jepang menjadi salah satu negara yang ramah terhadap muslim dengan membangun lokasi wisata, fasilitas umum (seperti bandara), dan institusi pendidikan, yang moslem friendly, hampir setiap daerah di Jepang kini telah ramai oleh muslim dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini pun kemudian diikuti oleh ketertarikan masyarakat Jepang terhadap Islam, hingga kini beberapa warganegara Jepang telah menjadi mualaf.


Di Osaka, yang merupakan salah satu kota besar di Jepang, kini lebih dari 200 muslim dari Indonesia tinggal di dalamnya, baik sebagai pelajar, tenaga kerja, wirausahawan, hingga permanent resident yang kemudian membentuk komunitas Muslim Osaka (MO), yang berpusat di kawasan sekitar kampus Osaka University. Tinggal di Jepang tidak menyurutkan semangat muslim asal Indonesia di Osaka untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim, termasuk menambah pengetahuan tentang agama dan membangun ukhuwah diantara sesama muslim. Untuk itu, setiap bulannya MO mengadakan pengajian sebagai sarana silaturahim dan belajar ilmu agama. Kegiatan ini pun menjadi spesial karena selalu menyediakan makanan halal khas Indonesia, yang menjadi solusi dari sulitnya mendapatkan makanan halal siap saji dan rindu dengan makanan khas Indonesia.

Gambar 1. Poster kegiatan.

Secara khusus, mengawali kepengurusan yang baru, pada tanggal 12 November lalu, di luar pengajian rutin yang biasa dilaksanakan, MO mengadakan kegiatan sharing dengan tema “Sains dalam perspektif Islam dan Al-qur`an” yang bertempat di International house (Osaka University), bersama salah satu peneliti muda berprestasi Indonesia, Dr. Eng. Asep Bayu D. Nandiyanto, lulusan Doktor dari Hiroshima University yang kini merupakan salah seorang dosen di UPI Bandung. Kegiatan ini digagas untuk menumbuhkan kesadaran bahwa agama merupakan dasar lahirnya ilmu pengetahuan dan pegangan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dr. Eng. Asep Bayu D. Nandiyanto diharapkan dapat berbagi wawasan dan pengalaman beliau di bidang penelitian dan sains yang juga perhatian dalam bidang agama, serta menjadi inspirasi bagi muslim Indonesia yang tinggal di Osaka atas prestasinya. Suatu kebetulan yang sangat disyukuri, kegiatan ini pun dihadiri oleh Prof. Hermawan Kresno Dipojono, Pembina YPM Salman ITB yang sedang melakukan kerjasama penelitian di Osaka University. Tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan cerita pengalaman beliau, seketika Prof. Hermawan pun diminta kesediaanya untuk menjadi Narasumber.

Gambar 2. Penyerahan sertifikat penghargaan (kiri) dari Ketua PPI Osaka-Nara kepada Dr. Eng. Asep Bayu dan (kanan) dari Ketua Muslim Osaka kepada Prof. Hermawan K. Dipojono.

Kehadiran Prof. Hermawan ini mengejutkan Dr. Asep Bayu yang merupakan lulusan S1 teknik kimia, fakultas teknik industri (FTI) ITB, dimana saat itu Prof. Hermawan sebagai Dekannya. Cerita mengesankan pun disampaikan oleh salah satu peserta yang hadir, yang ternyata merupakan salah satu alumni aktivis di Masjid Salman ITB.

“Benar itu Prof. Hermawan? Subhanallah, dunia terasa sempit sekali bisa bertemu beliau di sini. Padahal waktu di ITB rasanya sulit mendapatkan kesempatan duduk bersama beliau. Alhamdulillah”, ucap Satria yang kini sedang menjalani research student di Osaka University.

Selain itu, kegiatan ini pun sangat disyukuri oleh salah satu peserta lainya, “Alhamdulillah, bisa bertemu dengan teman di sini”, ucap Teguh Setia Anugeraha, sahabat dari Dr. Eng. Asep Bayu, yang kini menjadi salah satu staff di Konsulat Jendral Republik Indonesia di Osaka, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada pengurus MO yang telah mengundang sahabatnya tersebut.

Pada diskusi ini, Dr. Eng. Asep Bayu menyampaikan bahwa Islam adalah suatu agama yang sempurna dan paripurna, mengatur segala urusan manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Termasuk dalam bidang sains dan teknologi, cakupan islam membahas hingga ke akar-akarnya tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayangnya, sebagian masyarakat khususnya remaja saat ini, justru lebih memilih untuk memisahkan antara ilmu pengetahuan yang bersifat duniawi dan agama, terlebih ketika saat ini melihat negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim lebih berjaya atas sains dan teknologinya. Padahal faktanya menunjukkan bahwa ilmuwan muslim telah mempelajari ilmu sains lebih dulu sebelum abad ke-7 Masehi, lebih khususnya saat masa keterpurukan Persian Gondeshapur pada tahun 638 M, oleh bani Umayah yang menjadi penanda awalnya tradisi islam yang berintelektual.

Sebelum diungkapkannya sains, setiap kejadian seperti munculnya letupan ketika zat tertentu dicampurkan, seringkali dikaitkan dengan mistis atau sejak ditemukannya emas dalam bebatuan memunculkan anggapan bahwa semua batu dapat menjadi emas.

Terkait hubungan antara Islam dengan sains di dalam Al-Qur’an, beliau menyampaikan Firman Allah dalam Al-qur`an (Q.S. Al-Ahzab ayat 62). Ayat tersebut menyatakan bahwa bahwa alam ini tersusun secara teratur, berpola dan telah ditetapkan hukum-hukumnya yang tidak berubah. Islam juga mengajarkan bahwa alam semesta ini dapat diprediksi dan menjadi bahan pembelajaran jika kita meneliti dengan tekun dan arif. Ilmu pengetahuan yang dijalankan secara berkesinambungan dengan agama akan melahirkan moralitas.

Gambar 3. Foto bersama antara pemateri dengan peserta
Di dalam catatan sejarah, banyak sekali ilmuwan muslim yang telah memberikan sumbangsihnya pada dunia ilmu pengetahuan pada berbagai bidang. Sebut saja Khalid bin Yazid bin Muawiyah (635-704 M), muslim pertama yang mempelajari kimia, Jabir ibn Hayyan (750-803), dikenal sebagai “The Father of Modern Chemistry”, Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi, dinobatkan sebagai bapak aljabar, Abu Ja’far Al-Ghafiqi, (1165 M), orang pertama yang merumuskan komposisi dan dosis obat, serta Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Ad-Din bin Al-Baithar Al-Malaki, terkenal karena do’anya yang terkabul agar ia memohon kepada Allah SWT agar jangan dicabut nyawanya sebelum ia menemukan 1000 obat dari tanaman.

Namun, kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan seolah hilang ditelan Bumi, tak menyisakan cerita setelah jatuhnya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad oleh bangsa Mongol. Tidak hanya sejarahnya yang terlupakan, namun itupun telah membalikkan keadaan dimana tidak ada lagi ilmuwan muslim yang kemudian menjadi tokoh dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Meski sempat terhibur oleh munculnya dua orang Muslim yang memperoleh penghargaan Nobel, yaitu Abdus Salam (1979 noble physics) dan Ahmad Zewail (1999 noble chemistry).

Pada akhir presentasinya, beliau menyampaikan betapa pentingnya menjadi seorang ilmuwan yang berpegang teguh terhadap agama, yang akan membimbingnya untuk selalu menjadi ilmuwan yang jujur, peduli dan bermanfaat bagi individu lain dan lingkungan, serta berorientasi akhirat yang akan melahirkan banyak karya ilmu pengetahuan sebagai amal. Hal ini pula yang diharapkan menjadi motivasi bagi muslim khususnya warga negara Indonesia untuk menjadi ilmuwan berprestasi dan berpengaruh di level Internasional, sehingga berguna bagi bangsa dan negara.

Mengisi waktu yang tersisa, Prof. Hermawan dengan senang hati berbagi pengalaman beliau dalam meniti karirnya yang juga sangat berkaitan erat dengan agama. Beliau percaya, bahwa ayat-ayat Al-qur`an memiliki makna yang luar biasa, baik menjadi penenang dan obat hati, juga menyimpan banyak sekali sumber-sumber Ilmu pengatahuan. Dengan berpegang pada Al-qur`an, seseorang akan terbimbing dengan baik, sehingga menjadi pribadi yang mulia dan bermanfaat bagi orang lain. Beliau pun terus berpesan kepada peserta untuk senantiasa meningkatkan hafalan Al-qur`an sejak usia muda dan juga sering mengikuti kajian-kajian keislaman.

Tidak hanya berbagi pengalaman, Beliaupun selalu memotivasi peserta untuk menjadi pribadi yang memiliki cita-cita tinggi, menjadi orang besar, hingga kemudian bisa menjadi orang yang berguna dalam bidang apa pun yang sedang ditekuni dan dimanapun berada. Karena menurut beliau, mengabdi pada negara, tidak hanya dengan berada di Indonesia, tetapi juga di Negara lain dengan terus mengharumkan nama Indonesia di Dunia Internasional dan kemudian menjadi jembatan terjalinnya hubungan kerjasama antara Indonesia dengan berbagai Institusi baik pendidikan, dunia kerja, bahkan pemerintahan di negara lain.
Gambar 4. Pemateri dan peserta menikmati hidangan masakan khas Indonesia
Setelah ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Prof. Hermawan, acara ini kemudian diakhiri dengan foto dan makan siang bersama dengan menu khas Indonesia. Banyak sekali pesan dan kesan dari peserta, seperti yang diungkapkan oleh bapak Sam toro yang telah tinggal di Jepang selama 20 tahun, ia merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan para tokoh Ilmuwan Indonesia yang berprestasi, berpegang teguh terhadap agama, dan peduli terhadap kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Kegiatan-kegiatan seperti ini pun diharapkan sering dilakukan oleh MO untuk memfasilitasi Muslim Indonesia untuk meningkatkan ilmu, bersilaturahim, dan makan makanan halal khas Indonesia.[www.tribunislam.com]



Sebarkan...