Hari Moekti: Bencana Terbesar Itu Bencana Politik, Saat Bajingan Jadi Pemimpin


Hari Moekti: Bencana Terbesar Itu Bencana Politik, Saat Bajingan Jadi Pemimpin

Mantan rocker era tahun 90an, Hari Moekti yang kini akrab disapa Ustad Hari Moekti mengatakan bencana yang kerap melanda negeri Ini merupakan imbas dari perbuatan tangan manusia itu sendiri.


“Banyaknya bencana yang terjadi di Negri ini itu buah dari tangan manusia itu sendiri,” Kata Hari Moekti saat memberikan tausiah di Technopark Cimahi, Sabtu, (04/11/27).

Menurutnya bencana alam seperti longsor, dan banjir merupakan akibat tangan-tangan manusia yang menebang hutan berlebihan, terlebih lagi pohon tersebut ditebang justru bukan untuk kepentingan anak negeri, namun untuk asing. Apalagi pohon itu ditebang bukan untuk anak negeri, namun untuk asing,” tambahnya.

Manatan Rocker yang kini bergelut dengan syiar Islam ini menambahkan, bencana besar menurutnya bukanlah bencana longsor atau banjir, namun bencana ahlak yang menerpa generasi saat ini.

“Bencana yang besar adalah remaja hari ini bangga dengan kemaksiatan, bangga kalau ciuman dengan kabogoh (pacar), padahal dia sedang bermaksiat, dan yang paling parah lagi adalah LGBT” tuturnya.

Ia menambahkan bencana lain yang juga bencana besar adalah ketikan ekonomi mulai dikuasai oleh asing, seperti industri dikuasai asing dan tidak berimbas pada warga, justru anak negeri menjadi budak di Negeri sendiri.

“Bencana lain adalah bencana ekonomi, ketika industri dikuasai, kedelai dikuasai hingga akhirnya merugi,” tandasnya.

Namun baginya bencana paling dasyat adalah bencana politik, sebobrok apapun moral pelaku politik tersebut jika dia punya banyak uang maka gampang saja untuk menaikan elektabilitasnya lewat media yang dia inginkan, sehingga ketika menjadi pemimpin maka seenak hatinya ngomong dan membuat kebijakan.

Sehingga hal seperti inilah yang menjadikan negeri rusak, akibat dipimpin oleh orang-orang yang bermoral bobrok.

“Bencana yang lebih dahsyat lagi yaitu bencana politik, asal banyak uangnya meskipun bajingan dia muncul di TV, hingga akhirnya setelah jadi pemimpin dia seenaknya berbuat,” pungkasnya.

Menurutnya manusia yang baik adalah manusia yang mau berhijrah dari satu tempat yang buruk menuju tempat yang baik, dari malas ibadah jadi rajin ibadah, dari hukum kufur menuju hukum yang Allah ridhoi.

Sehingga manusia yang baik adalah hijrah dari perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, malas ibadah jadi rajin ibadah, bodoh jadi pintar, Itulah mereka Al-Muhajirin.

Itulah yang dinamakan hijrah sesungguhnya, berpindah dari hukum kufur kepada hukum Allah’ dari kemaksiatan jadi taat pada Allah. Tukasnya. [][www.tribunislam.com]

Sumber : islampos.com

Sebarkan...