Ramai Tuduhan Anti-Pancasila, Ternyata Buya Hamka Lantang Mengatakan Anti-Pancasila


Ramai Tuduhan Anti-Pancasila, Ternyata Buya Hamka Lantang Mengatakan Anti-Pancasila

HATI SANUBARI TIDAK PERNAH BERDUSTA

Oleh: Nicko Pandawa

Sepulang kuliah, mampir ke toko buku bekas dekat kampus. Tak disangka nemu buku "Debat Dasar Negara; Islam dan Pancasila", yang menghimpun pidato-pidato para politisi dari kubu Islam pada sidang Konstituante tahun 1957 dulu.


Jika hari ini sedang ramai tuduhan anti-Pancasila, justru para founding fathers dari golongan Islam akan membusungkan dada dan lantang mengatakan bahwa "akulah anti-Pancasila!"

Penolakan golongan Islam saat itu bukan tanpa dasar. Mereka menilai bahwa Pancasila yang lahir dari bengkel otak-nya Sukarno, Yamin, dkk secara historis dan normatif bertentangan dengan syari'at Islam.

Walaupun ada sila ketuhanan dalam Pancasila, namun M. Natsir menganggap bahwa sejatinya asas Pancasila bukanlah ketuhanan, namun "la diniyyah", netral agama. Mirip dengan konsep ateis agnostik yang mengakui Tuhan namun menegasikan agama, apalagi syari'at Islam. Jatuhnya sudah pasti sekulerisme.


Sukarno, sang perumus Pancasila, pernah mengatakan bahwa Pancasila (lima sila) sesungguhnya bisa diperas lagi menjadi trisila (tiga sila), bahkan menjadi ekasila (satu sila), yaitu gotong-royong. Nyatanya, pemerasan Pancasila menjadi ekasila yang gotong-royong menjadikan sila ketuhanan menghilang. Atas dasar ini, K.H. Isa Anshary menyimpulkan HARAM hukumnya bagi umat Islam menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

Kemudian, betapa anti-Pancasila-nya Buya Hamka ketika mengatakan, "sungguh saudara ketua, Pancasila itu belum pernah dan tidak pernah dikenal, tidak populer dan belum pernah terdengar! ... Dan api yang nyala di dalam dada ini sampai sekarang, saudara ketua, bukanlah Pancasila, tetapi Allahu Akbar!"

Buya Hamka pun sering mengajukan pernyataan retoris. Dia berkata, "jika saya tanyakan pada hati ini, kepada salah seorang pembela Pancasila, apakah yang terasa dalam hatinya ketika putranya yang dicintai tewas dan diantarkannya ke pusara, Pancasila-kah atau Allahu Akbar? Niscaya dia akan menjawab: 'Allahu Akbar!'"

Jika ditilik kembali, betapa anti-Pancasila-nya para pendahulu kita.

Namun itu bukan masalah bagi mereka, karena –meminjam bahasa Buya Hamka– yang namanya hati sanubari tidak pernah berdusta, saudara![www.tribunislam.com]

Sumber : mujahid212.com

Sebarkan...