MUI: Hanya Muslim Yang Boleh Masuk 2 Tanah Haram



Kabar mengenai seorang lelaki Yahudi bernama Ben Tzion yang kedapatan menyambangi masjid suci umat Islam tidak lama ini mengundang banyak perhatian warganet. Melalui akun media sosial miliknya, pria bernama Ben Tzion ini menunjukkan beberapa foto dirinya sedang berada di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.



Meskipun dalam beberapa lansiran ia mengaku masuk ke negara-negara Islam dengan cara yang legal, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid, mengatakan bahwa pria tersebut seharusnya dapat menghormati prinsip-prinsip yang ada di agama Islam.

Dihubungi kumparan melalui sambungan telepon pada Kamis sore (23/11), Zainut menjelaskan bahwa pria tersebut seharusnya mengetahui etika yang berlaku di tempat yang ia kunjungi. Sebab, apa yang ia lakukan sudah masuk ke permasalahan penghormatan terhadap agama lain.

“Harusnya dia mengetahui tentang etika yang harus dipatuhi setiap orang. Ini persoalan penghormatan terhadap agama orang lain. Kita pun akan menghormati agama orang lain ketika itu menjadi aturan dalam agama itu. Seharusnya yang bersangkutan juga dia menghormati prinsip-prinsip agama yang dianut oleh orang islam,” jelas Zainut.

Zainut memaparkan hal tersebut seharusnya tidak terjadi. Menurutnya, untuk dapat masuk ke wilayah suci umat Islam seperti kota Mekkah dan Madinah terdapat beberapa tahapan pemeriksaan, termasuk mengenai status agama seseorang.

“Itu kan tanah Haram, artinya mereka yang boleh masuk di wilayah tanah Haramain, Mekkah Madinah, hanya diperbolehkan Muslim. Faktanya memang untuk masuk wilayah itu ada cek poinnya. Jadi setiap orang yang masuk di situ dicek tentang status agamanya,” ujar Zainut.

“Nah, ini sampe kecolongan itu di mana letak salahnya,” tanya Waketum MUI.

Menanggapi soal kegeraman umat Islam yang sempat terlihat di kolom komentar akun Instagram bernama @ben.tzion tersebut. Menurut nya, cukup wajar jika Muslim merasa kecewa dengan apa yang pria tersebut lakukan, karena ia tidak mengindahkan nilai-nilai yang ada pada agama Islam.

“Kalau misalnya ada semacam kekecewaan atau misalnya pernyataan semacam ‘bully’, saya kira itu wajar. Umat islam kecewa terhadap tingkah laku yang bersangkutan itu, karena dia tidak mengindahkan nilai-nilai di dalam ajaran islam,” kata Zainut.[www.tribunislam.com]

Sumber : eramuslim.com

Sebarkan...