Diklaim ISIS, Begini Sosok Penyerang Konser Musik di Las Vegas


Diklaim ISIS, Begini Sosok Penyerang Konser Musik di Las Vegas

Stephen Paddock, pria berusia 64 tahun dikenal sebagai seorang penjudi besar yang rajin membeli sebuah rumah di sebuah komunitas pensiun Nevada. Pria itu diidentifikasi sebagai penyerang di konser musik country yang menewaskan sedikitnya 59 orang dan melukai lebih dari 520 orang.


“Dia adalah orang kaya dan dia suka bermain video poker dan dia suka pergi ke kapal pesiar,” kata saudarnya, Eric Paddock kepada wartawan dari depan pintunya di Orlando, Florida, Senin (02/10/2017).

“Dia tidak pernah menarik pistolnya, itu tidak masuk akal,” imbuh Eric sembari mengungkapkan kalau saudaranya memang memiliki beberapa pistol yang dia simpan di brankas, mungkin sebuah senapan panjang, tapi tidak ada senjata otomatis.

Polisi mengatakan telah menemukan 34 senjata milik Stephen, dimana 16 darinya ditemukan dalam kamar hotel dan 18 di rumahnya di Mesquite, sebuah kota kecil yang populer dengan para pegolf dan penjudi. Beberapa darinya adalah senjata otomatis atau senapan semi otomatis yang dimodifikasi secara ilegal menjadi senapan mesin.

Eric menyebut saudaranya sebagai orang yang damai. “Dia pindah kembali ke perbukitan gurun merah Nevada karena perjudian legal di sana dan dia membenci hawa yang lembab di Central Florida,” ujarnya.

“Dia tidak ada hubungannya dengan organisasi politik dan organisasi keagamaan manapun,” kata Eric Paddock.

Stephen Paddock rupanya tinggal di Mesquite bersama kekasihnya, yang saat kejadian berada di Tokyo. Polisi Las Vegas mengatakan bahwa mereka berusaha mewawancarainya saat dia kembali. Pihak berwenang mengatakan bahwa dia tidak memiliki hubungan dengan serangan tersebut.

Ayahnya Seorang Perampok

Ayah mereka adalah Patrick Benjamin Paddock, seorang perampok bank yang berada dalam daftar orang paling dicari Federal Bureau of Investigation (FBI) di tahun 1960an. Riwayat hidup Patrick pada dasarnya tidak diketahui oleh anak-anaknya.

Sementara itu menurut keterangan polisi Las Vegas, Stephen Paddock sendiri tidak memiliki catatan kriminal. Dalam beberapa pekan terakhir, Stephen malakukan transaksi perjudian senilai puluhan ribu dolar. NBC News melaporkan, tidak jelas apakah dia menang atau kalah.

Catatan publik menunjukkan bahwa Stephen kerap berpindah-pindah di Amerika Barat dan Tenggara: Florida, beberapa tahun di California, beberapa tahun di wilayah lain Nevada. Pada awal tahun 2015, ia membeli rumah dua lantai sederhana di kompleks para pensiunan di tepi Mesquite yang berdebu, yang berada di perbatasan Nevada dengan Arizona.

“Rumah itu bagus dan bersih dan tidak ada yang biasa,” kata Quinn Averett, juru bicara kepolisian Mesquite kepada wartawan pada hari Senin. FBI mengatakan Paddock tidak memiliki hubungan dengan kelompok militan internasional.

Sebelum pindah ke Mesquite, Nevada, dia tinggal di kota lain bernama Mesquite di Texas, tempat dia bekerja sebagai manajer sebuah kompleks apartemen bernama Central Park. The Washington Post melaporkan bahwa Stephen juga bekerja sebagai akuntan dan memiliki investasi real estate.

Pasca serangan, melalui media Amaq ISIS memberikan klaim bahwa serangan itu dilakukan oleh anggotanya. “Serangan Las Vegas dilakukan oleh seorang tentara ISIS dan dia melakukannya sebagai tanggapan atas seruan untuk menargetkan negara-negara koalisi,” kata media itu merujuk pada koalisi pimpinan AS yang memerangi kelompok itu di Timur Tengah.

Hal sama pernah dinyatakan kelompok itu saat terjadi penyerangan di sebuah kasino di Manila, dimana lebih dari 30 orang tewas. Polisi Manila menggambarkan serangan itu sebagai usaha perampokan yang gagal. Pria bersenjata tak dikenal itu bunuh diri mati setelah menembaki perwira bersenjata dan menyebabkan malapetaka di kasino.

“Dia berbaring di tempat tidur, menutupi dirinya dengan selimut tebal dan menyiram bensin,” kata Ronald dela Rosa, kepala polisi nasional kepada wartawan. “Senapan mesin dan pistol berkaliber kecil diamankan dengan penyerang,” imbuh Dela Rosa.

Jika klaim-klaim tersebut palsu, maka akan secara efektif menghancurkan kredibilitas media propaganda ISIS. Dimana setiap serangan langsung mendapat respon dan langsung mendapat pernyataan dari organisasi pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi tersebut. Selain spekulasi bahwa klaim dari media itu dapat dimanipulasi.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...