Sebut Ateis Dibolehkan, MUI Kecam Deputi UKP-PIP



Ustad Fahmi Salim Zubair, Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam pernyataan Deputi Bidang Pengkajian dan Materi, Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Anas Saidi.

"Pernyataan (Anas) sangat tidak pantas dan menabrak norma-norma agama. Saya ingin mengatakan bahwa banyak sekali lembaga-lembaga yang didirikan presiden ini ternyata mubazir dan tidak bisa dikelola dengan baik," ujar Fahmi kepada Harian Terbit di Jakarta, Kamis (14/9/2017) malam.

Alumni S2 Ilmu Tafsir dari Universitas Kairo, Mesir ini menjelaskan pembinaan ideologi Pancasila yang mestinya sejalan dengan nilai-nilai agama, ternyata bertolak belakang.

"Ada orang di UKP-PIP mengeluarkan pernyataan yang blunder dan bertentangan dengan ajaran agama. Padahal agama itu dilindungi oleh Pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa itu sudah menunjukkan what view Pancasila itu Islam, dari nilai-nilai Islam, Tuhan yang dianut oleh bangsa yang beragama, bangsa yang religius, tuhan itu Esa," paparnya.

Fahmi menerangkan seluruh umat beragama di Indonesia dilindungi oleh Pancasila, dan jangan tertipu oleh orang-orang yang berkhianat pada Pancasila.

"Artinya bangsa Indonesia ini percaya berlandaskan kepada kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada Tauhid, Pancasila ini beragama. Sekarang ada pihak-pihak yang ingin menyeret Pancasila, seolah-olah Pancasila ini membenarkan atheisme, kalau sudah membenarkan atheisme, murtad, ini selangkah lagi bisa membenarkan komunisme. Ini harus hati-hati, kita harus hati-hati dengan manuver-manuver seperti ini," ulasnya.

Ditambahkan lagi, "Jangan sampai Pancasila diseret ke arah bandul sekularisme, liberalisme, atheisme dan komunisme. Jelas kok what view Pancasila itu Islam, jangan ada pihak mana pun yang mencabut Pancasila dari akar-akar ideologi Islam," pungkas Fahmi.

Sementara itu Ustad Rahmat mengatakan, jangan melupakan cara-cara penganut komunis yang lihai menyusup ke berbagai ini. "Jangan melupakan sejarah, komunis sudah terbukti menyusup. Pandai memuji dan pada saat diberi peluang, mereka berkhianat serta haus kekuasaan," ujarnya.

Ateis Boleh

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Drs. Anas Saidi mengemukakan bolehnya seseorang menganut Ateis alias tidak bertuhan. Ia berdalih dengan mengutip potongan ayat Al-Qur’an bahwa tidak ada paksaan dalam agama.

“Orang Ateis itu boleh, laa ikrooha fiddien (tidak ada paksaan di dalam agama). Tuhan saja tidak memaksa, yang tidak boleh ketika mereka memprovokasikan anti-agama,” ujarnya di hadapan wartawan seusai acara Simposium Nasional Pemuda Indonesia di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Rabu (30/08).

Pria yang dikenal sebagai peneliti bidang filsafat, agama, dan sosiologi itu menambahkan bahwa sejauh ruang sosial tidak diganggu oleh ideologi apapun, maka murtad (keluar dari Islam.red) pun tidak masalah.

“Sejauh ruang sosial itu tidak diganggu oleh ideologi apapun maka tidak masalah. Masalahnya adalah ketika (ruang sosial) terganggu. Orang mau murtad kan boleh,” ujarnya.

“Yang dipersoalkan ketika menjadi Ateis adalah jika menyerang orang yang berkeyakinan terhadap Tuhan, seperti PKI dulu misalnya,” kata Guru Besar Universitas Negeri Malang itu menambahkan. [www.tribunislam.com]

Sumber : beritaislam24h.info

Sebarkan...