Megawati Ngaku Berpolitik Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad Saw



Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa politik dan pendidikan merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sebab, keduanya saling memengaruhi.

Presiden ke 5 RI itu mengatakannya ketika menyampaikan pidato ilmiah berjudul Politik Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan pada rapat senat terbuka Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (27/9) dengan agenda penganugerahan gelar doktor honoris causa (Dr HC) bidang politik pendidikan kepada ketua umum PDI Perjuangan itu. Menurutnya, ada pesan penting di balik keputusan UNP memberikan gelar Dr HC untuknya.

“Universitas Negeri Padang telah membuat keputusan akademis yang membuka kembali cakrawala bahwa politik dan pendidikan adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan. Politik menghasilkan sistem pendidikan, pendidikan mempengaruhi kehidupan politik,” ujarnya dalam pidato ilmiah yang disiarkan melalui video streaming di internet, seperti dilansir JPNN.

Rapat senat terbuka yang dipimpin Rektor UNP Prof Ganefri itu juga dihadiri Wakil Presiden RI 2009-2014 Boediono, Menko PMK Puan Maharani, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menristekdikti M Nasir, Menkumham Yasonna H Laoly, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, Wakapolri Komjen Syafrudin dan Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan. Sejumlah mantan menteri di era pemerintahan Megawati semasa menjadi presiden juga hadir.

Megawati lantas mengutip pendapat Bung Karno tentang politik, yakni cara mededikasikan diri kepada orang banyak. “Maksudnya memiliki cita-cita dan tujuan abadi yang tidak berorientasi pada diri sendiri,” ucapnya.

Tokoh kelahiran Yogyakarta, 23 Januari 1947 itu juga menyinggung tentang pentingnya mengusung politik berwajah kemanusiaan. Menurutnya, politik humanis berarti menggunakan politik sebagai alat untuk mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia.

Menurut Megawati, politik humanis itu pula yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW. Dia juga menyitir sabda Nabi Muhammad tentang khairunnas anfa’uhum linnas yang berarti sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia lain.

“Itulah keyakinan dan jalan politik yang saya pilih, baik sebagai muslim maupun seorang politisi,” tuturnya.

Karena itu Megawati menegaskan, kebahagian sebagai politikus bukanlah pada saat dekat dengan kekuasaan. “Namun saat kita menangis dan tertawa bersama rakyat,” lanjutnya.

Menurut Megawati, mazhab politik humanis pasti berseberangan dengan prinsip homo homini lupus atau manusia sebagai serigala bagi sesama yang dipopulerkan filsuf Thomas Hobbes. Dalam politik praktis, katanya, perilaku para aktor politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan merupakan hal yang sering terlihat.

“Politik pendidikan seperti apa yang akan diproduksi oleh mereka yang ingin berkuasa dengan menghalalkan segala cara? Masyarakat seperti apa yang akan lahir dari politik pendidikan semacam itu? Tentu, kita tidak akan pernah membiarkan siasat politik keji tersebut direproduksi di bumi Indonesia,” tegasnya.

Megawati pada bagian akhir pidatonya menyatakan, ilmu hanya akan menjadi ilmu jika bermanfaat bagi kemanusiaan. “Pengetahuan tidak untuk pengetahuan. Pengetahuan untuk berjuang. Berjuang untuk tanah air, untuk bangsa dan untuk perikemanusiaan,” pungkasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : harokah.com

Sebarkan...