Biadab! Cegah Warga Rohingya Kembali, Myanmar Pasang Ranjau di Perbatasan



Menurut laporan dari dua sumber pemerintah Bangladesh di ibukota Dhaka, otoritas Myanmar dalam tiga hari terakhir ini telah mulai memasang ranjau darat di sisi daerah mereka yang berbatasan dengan Bangladesh. Dikatakan bahwa ladang ranjau itu untuk mencegah kembalinya warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekejaman para Buddhist dan militer Myanmar.
Pada hari Rabu (06/09), Bangladesh rencananya akan mengajukan nota protes secara resmi atas keberadaan ladang ranjau tersebut karena terlalu dekat dengan perbatasan. Demikian menurut sumber pemerintah yang memiliki akses langsung di lapangan itu kepada Reuters dengan syarat anonim.

Serangkaian aksi kekerasan dan brutalisme terbaru oleh aparat terhadap warga minoritas di negara bagian Rakhine menyebabkan sedikitnya 400 orang tewas, sementara sekitar 125.000 warga Rohingya lainnya mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis kemanusiaan terbesar.

“Mereka memasang ranjau darat di wilayah mereka di sepanjang pagar kawat berduri di antara tiang-tiang pembatas lainnya,” kata narasumber kepada Reuters. Keduanya mengatakan Bangladesh mengetahui adanya ranjau-ranjau darat tersebut dari bukti-bukti fotografis, termasuk informasi dari para informan.

“Tentara kami melihat sekitar tiga hingga empat kelompok sedang bekerja di dekat pagar kawat berduri. Mereka terlihat seperti menanam sesuatu ke dalam tanah. Kemudian kami mengkonfirmasi laporan tersebut kepada agen-agen intel bahwa mereka memang memasang ranjau,” imbuhnya.

Tidak dijelaskan apakah kelompok-kelompok orang yang bekerja itu mengenakan seragam atau tidak, namun mereka menambahkan sangat yakin bahwa orang-orang itu bukan warga Rohingya.  Di pihak lain, menteri urusan perbatasan di Rakhine, Phone Tint, langsung bereaksi dan mengatakan kepada Al Jazeera, “Kami tidak melakukannya.”

Komandan penjaga perbatasan Bangladesh bernama Manzurul Hassan Khan mengatakan telah terjadi dua ledakan keras pada hari Selasa (05/09) yang terdengar dari arah Myanmar. Sebelumnya, dua bunyi ledakan lainnya juga terjadi pada hari Senin yang kemudian memicu spekulasi bahwa militer Myanmar memang telah memasang ranjau.

Seorang bocah laki-laki kehilangan kaki kirinya setelah terkena ledakan pada hari Selasa (05/09) kemarin di dekat perbatasan sebelum kemudian dilarikan ke rumah sakit di Bangladesh untuk mendapatkan pertolongan. Sementara seorang anak lainnya mengalami luka ringan. Demikian keterangan Hassan Khan yang curiga bahwa itu adalah ledakan ranjau.

Namun lagi-lagi pihak militer Myanmar menyangkal laporan-laporan soal ranjau darat. Juru bicara pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, Zaw Htay, dengan sinis mengatakan kepada Reuters pada hari Senin, “Dimana terjadi ledakan, siapa yang bisa ke sana, dan siapa yang menanam ranjau. Siapa bisa memastikan yang menanam ranjau-ranjau itu bukan teroris?”

Myanmar dan Bangladesh diketahui memiliki perbatasan darat yang ditandai dengan pagar kawat berduri sepanjang 217 kilometer.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...