Malam Kesaksian: Mengurai Benang Kusut Tragedi Pencurian Amplifier


Malam Kesaksian: Mengurai Benang Kusut Tragedi Pencurian Amplifier

13 hari lamanya, kumandang azan tak terdengar dari Mushola Al-Hidayah. Sejak kasus pengeroyokan yang berujung pada pembakaran seorang pria di Pasar Muara Bakti, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Selasa, 1 Agustus 2017 lalu, perangkat pengeras suara (amplifier) di musholla tersebut jadi barang bukti di Mapolres Bekasi.


Sebagaimana ramai diberitakan, seseorang bernama Muhammad Al-Zahra (MA) alias Zoya dikeroyok dan dibakar warga di depan sebuah mushola dekat Pasar Muara Bakti. Lokasinya sekitar 5 kilometer dari Mushola Al-Hidayah yang jadi tempat peristiwa.

Kiblat.net berupaya mengurai benang kusut dan simpang siur opini yang bertebaran di media sosial. Namun upaya itu tak mudah. Para saksi mata di sekitar tempat kejadian perkara tidak ada yang mau buka mulut. Alasannya beragam. Ada yang tak mau lagi berurusan dengan polisi, ada pula yang tak mau kasus ini terus berkepanjangan.

Kiblatnet menghubungi seorang kawan yang tinggal di Babelan dan memintanya agar bersedia mengantar untuk menjumpai saksi kunci kasus ini. Ialah Rojali, marbot Mushola Al-Hidayah. Sang kawan pun mengaku tak tahu pasti di mana alamat Al-Hidayah sehingga harus menghubungi kawan-kawannya di daerah Bekasi ‘bawah’.

“Temen abang ini wartawan ya. Kalo saya kagak kenal abang dan tau dia wartawan tadinya mah saya gak berani nganterin,” kata sang pengantar kepada kawan saya. Maklum, beberapa hari belakangan, penyidik dari Polres Bekasi tengah gencar mencari sejumlah orang yang diduga menjadi pelaku pengeroyokan dan pembakaran almarhum MA. Sejumlah gawai para remaja sekitar kampung Muara pun diperiksa untuk mencari video rekaman kejadian naas itu.

Rumor dan Opini Sesat

Ketika langit telah gelap, bintang gemintang nampak sebagian. Akhirnya, Kiblatnet berhasil tiba di Mushola Al Hidayah, Kampung Cabang 4, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan pada Ahad, 13 Agustus 2017. Meski berjalan malam hari, perjalanan ke lokasi masih memakan waktu sekitar 40 menit dari Pondok Pesantren Attaqwa Ujungharapan. Sebuah pesantren tradisionalis yang sangat popular di wilayah Bekasi Utara.

Kepada Kiblat.net, Rojali menuturkan belakangan ini situasi agak mencekam. Sejak kasus pembakaran menjadi viral di media sosial, ia jadi terpojok. Beredar sebuah gambar yang menuding bahwa Rojali-lah provokator yang menyebabkan almarhum MA dikejar dan dikeroyok warga.

Sebuah gambar yang meresahkan dan menyudutkan saksi kunci tragedi pencurian amplifier beredar di media sosial.
Sebuah gambar yang meresahkan dan menyudutkan saksi kunci tragedi pencurian amplifier beredar di media sosial.
Ia juga mendengar desas-desus bahwa akan ada serangan dari orang Cikarang ke wilayah Babelan. Almarhum MA memang berasal dari Cikarang, sekitar belasan kilo dari lokasi kejadian. Kendati demikian, ia tetap sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah SWT. “Saya tawakkal saja sama Allah, bisa apalagi saya?”

Kabar burung akan adanya serangan itu sampai juga ke telinga tokoh masyarakat Babelan, Ustadz Aang Khunaefi. Menurutnya, banyak informasi yang masuk dari para laskar santri dan masyarakat. Namun, ia berupaya untuk menenangkan warga agar tak mudah termakan rumor yang meresahkan. “Saya yakin warga Babelan tak mudah termakan isu semacam itu. Kita sampaikan lewat pengajian kepada masyarakat bahwa situasi sudah kondusif. Yang kita ingin kan begitu.”

Kesaksian

Ada beberapa kesaksian penting dari Rojali yang bisa menjelaskan duduk permasalahan kasus pencurian amplifier ini. Kronologisnya, setelah setengah jam melaksanakan shalat ashar berjamaah bersama putranya, saat itulah almarhum MA muncul. MA memarkir sepeda motor Honda Revo berkelir merah di depan mushola. Sementara Rojali saat itu berada di tempat wudhu melihat MA yang kemudian masuk ke dalam mushola. Rojali ingat betul saat itu terduga membawa tas ke dalam ruangan shalat.

Walau kecil dan tak terlihat megah, Mushola Al-Hidayah ini memiliki pendingin ruangan dan berkaca gelap. Sehingga kondisi pintu selalu tertutup dan bagian dalam mushola tak terlihat dari luar. Rojali tak melihat apa yang dilakukan  MA di dalam, ia berhusnuzan, mungkin MA seperti para musafir lain yang menumpang shalat, meski menaruh sedikit rasa curiga.

Mushola Al-Hidayah Kampung Huripjaya, Babelan. Lokasi tempat hilangnya amplifier.
Mushola Al-Hidayah Kampung Huripjaya, Babelan. Lokasi tempat hilangnya amplifier.
Beberapa saat kemudian, Rojali melihat pintu mushola dibiarkan terbuka dan tak ada orang lagi di dalam. Ia curiga tapi tak sadar ada sesuatu yang hilang. Rojali baru tahu amplifier mushola tersebut hilang dari salah seorang jemaah bernama Haji Zainul. Ia masuk ke ruangan amplifier karena hendak mengecek kondisi pengeras suara untuk digunakan acara haul yang sedianya akan digelar malam itu juga.

Menyadari amplifier di mushola hilang, Haji Zainul langsung pasrah. “Yah udah gak bakal ketemu ini mah.” Tapi Rojali masih menolak menyerah. Pasalnya, ia sudah menyebar undangan ke banyak orang untuk menghadiri acara haul di mushola. Ia mengambil sepeda motor dan berdoa semoga pencurinya bernasib apes dan berpapasan di jalan.

Doa Rojali rupanya manjur. Setelah berputar ke sejumlah arah, di wilayah Sukatenang ia mengenali seseorang yang melaju dari arah yang berlawanan. “Saya lihat itu dia. Masih ingat sama muka dan sepeda motornya.” Sontak, Rojali melambaikan tangan mencoba menghentikan kendaraan yang dikemudikan almarhum MA. “Mas.. mas.. sebentar, mas.” Tapi MA langsung melajukan kendaraannya mencoba kabur.

Karena melarikan motornya dengan kencang, MA terjatuh ketika melewati sebuah tanjakan. Motornya pun ikut rubuh. Di situlah MA berlari. “Saya gak kejar. Silahkan tanya masyarakat di situ,” kata Rojali. Rojali lebih ingin membuktikan apakah amplifier itu ada pada MA atau bukan. Rojali membuka tas MA yang diikat dengan balutan plastik-plastik tebal, dan di situlah ia menemukan amplifier milik mushola-nya.

“Saya kenal betul secara mutlak. Ini ampli saya, tandanya ada kotoran burungnya.” Saat itu Rojali mengecek barang miliknya, saat itu pula ada warga yang bertanya kepada Rojali. “Ada apa ini pak?” Rojali pun menjelaskan bahwa ia kehilangan amplifier. Warga sekitar pun berkerumun. Sebagian ada yang mengejar dan meneriakkan kata ‘maling’.

Ini Ampli Siapa?

Namun apakah kotoran burung jadi satu-satunya bukti bahwa amplifier yang dibawa oleh MA adalah milik mushola Al-Hidayah?

Kapolres Kabupaten Bekasi Kombes Asep Adi Saputra menjelaskan, salah satu amplifier yang ditemukan di tas MA memiliki ciri identik dengan amplifier Musala Al-Hidayah. “Fakta ya, ampli itu di chasing-nya ada kotoran burung. Karena musalanya enggak sempurna di atapnya, burung itu suka mengeluarkan kotoran yang jatuh di antaranya ke chasing tersebut,” ucap dia.

Dalam olah TKP dan barang bukti dilakukan pencocokan nomor serei dan bukti kuitansi yang dimiliki Rojali. Hasilnya sesuai.

Selain itu, saksi kunci kasus ini, Rojali juga mempunyai bukti kuat bahwa amplifier itu milik Mushola Al-Hidayah. “Yang mutlak Rojali juga bawa kuitansi pembelian dengan kode produksi yang sama dengan ampli itu,” kata Asep. Polisi menemukan tiga unit amplifier di dalam tas MA. Satu amplifier diyakini polisi merupakan milik Mushola Al-Hidayah, sementara mereka pun masih menyelidiki darimana asalnya dua amplifier lainnya yang ditemukan di tas MA.

Menariknya, di dalam tas MA, selain 3 buah amplifier, aparat kepolisian hanya menemukan sebuah tang potong. Tak ada perlengkapan lain layaknya tukang servis keliling. Ketiga amplifier tersebut disebut punya kemiripan karena satu sama lain kabelnya terlihat bekas potongan tang.

Kendati demikian, warga di lingkungan MA tinggal masih tak percaya jika pria tersebut melakukan pencurian amplifier. Dalam tabligh akbar solidaritas keluarga MA pada Ahad (13/08) di Islamic Center Bekasi, sebuah lembaga kemanusiaan IDC mengundang H. Darta, Ketua DKM Mushola Baiturrahman, tempat biasa MA menjalankan ibadah sholat berjamaah.

H. Darta, tokoh masyarakat di lingkungan sekitar tempat almarhum MA menetap bersaksi bahwa almarhum kerap shalat berjamaah ke masjid.
H. Darta, tokoh masyarakat di lingkungan sekitar tempat almarhum MA menetap bersaksi bahwa almarhum kerap shalat berjamaah ke masjid.
Darta menyebut, almarhum orang baik dan kerap sholat berjamaah “Dia orangnya baik-baik, dia kerjaanya cuma ngerakit ampli dan salon. Dia kalau mau mengetes amplinya, izin ke warga lainnya,” ungkapnya.

Setiap tragedi mungkin punya banyak versi. Tapi siapa yang paling kuat menghadirkan bukti, barangkali dialah yang patut kita percayai. Kepada Kiblat.net, Rojali pun menunjukkan sisa potongan kabel dan ruangan tempat penyimpanan amplifier yang kini kosong. Dengan keras ia mengutuk dan mengecam tragedi pembakaran kepada almarhum MA. Dalam ajaran Islam, hukuman dengan cara membakar tak pernah dibenarkan. Bahkan ada ancaman yang sangat keras pada pelakunya.

Rojali menunjukkan potongan kabel amplifier yang telah raib di Musholla Al-Hidayah pada Ahad, (13/08).
Rojali menunjukkan potongan kabel amplifier yang telah raib di Musholla Al-Hidayah pada Ahad, (13/08).
Tentu saja Rojali memaafkan kejadian itu. “Mungkin saja saat itu dia sedang khilaf.” Rojali pun sebenarnya punya keinginan untuk menjumpai keluarga korban. Namun ia masih khawatir ada perasaan marah dari pihak keluarga. Sebab opini yang beredar saat ini seolah Rojali masih disalahkan.

Walaupun pernah ada kesepakatan antara pihak keluarga dengan aparat kepolisian agar kasus ini tak dilanjutkan, tekanan opini dari sosial media akhirnya mendorong aparat bergerak. Pada Rabu 9 Agustus 2017, aparat bahkan membongkar makam MA dan melakukan otopsi terhadap jenazahnya.

Sejatinya, Rojali dan seluruh warga Babelan tak pernah berharap kasus semacam ini terjadi. Tragedi ini seolah memunculkan banyak persoalan yang terpendam. Ada persoalan kemiskinan yang menunjukkan bobroknya sistem pemerintahan. Ada persoalan hukum yang dipandang tak pernah memenuhi rasa keadilan sehingga masyarakat main hakim sendiri, juga kinerja aparat yang lamban menangani persoalan. Simpati dan bantuan kepada korban tetap layak dihaturkan. Tapi fakta sebenarnya harus diungkap. Tak boleh ditutupi sehingga kemudian malah menimbulkan persoalan baru.

Sepanjang hidupnya, Rojali tak pernah bersumpah. Namun dalam kasus yang melibatkan hilangnya nyawa seorang Muslim, Rojali tak mau main-main. “Seandainya hukum positif tidak mampu menghukum saya lantaran saya tidak bisa memberikan kesaksian berdasarkan fakta, biarlah Allah yang mengazab saya.”[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Sebarkan...