Era Ahok Beralih ke Djarot, Dulu Mereka Korban Penggusuran, Sekarang Bersiap-siap jadi Korban Pengusiran


Era Ahok Beralih ke Djarot, Dulu Mereka Korban Penggusuran, Sekarang Bersiap-siap jadi Korban Pengusiran

Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) M Rico Sinaga mengecam rencana pengusiran terhadap 6.514 warga terdampak penggusuran yang menunggak sewa rusunawa.


"Dulu mereka menjadi korban penggusuran, sekarang mereka sedang bersiap-siap menjadi korban pengusiran karena menunggak sewa rusun. Kasihan mereka yang sudah miskin makin miskin," kata Rico di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (21/8).

Rico mengungkapkan, kebijakan Gubernur Djarot Saiful Hidayat yang berencana melakukan pengusiran terhadap 6.514 warga korban penggusuran merupakan tindakan yang tidak beradab dan sangat jahat.

"Djarot tidak manusiawi padahal dia berasal dari parpol yang mengaku milik wong cilik. Lantas kenapa dia tega menyakiti wong cilik," ujar Rico.

Rico mengharapkan Djarot mengkaji ulang rencana pengusiran warga yang menunggak sewa rusunawa tersebut.

"Djarot harus memikirkan dampak negatif dari pengusiran," cetus Rico.

Pengusiran warga rusunawa itu berpotensi membuat angka kejahatan di ibukota meningkat. Mereka juga bisa menjadi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) baru atau terjun ke dunia prostitusi.

"Dampak pengusiran ini tentu akan menjadi bom waktu bagi pemerintahan Anies-Sandi yang mulai berkuasa pada Oktober mendatang," tegas Rico.

Rico menuturkan, pada saat Pemprov DKI Jakarta dipimpin Fauzi Bowo (Foke), dirinya pernah mengusulkan agar warga yang tinggal di kawasan terlarang, salah satunya Kampung Pulo, Jakarta Timur, untuk digusur yang kemudian penghuninya direlokasi ke rusun.

"Foke waktu itu bilang, menggusur untuk selanjutnya direlokasi ke rusun itu masalah sepele. Tapi yang harus dipikirkan setelah mereka tinggal di rusun," terang Rico.

Menurut Rico, kala itu Foke menyebutkan, eks korban penggusuran yang tinggal di rusun bakal menemui sederet persoalan baru. Mulai dari pola hidup, mata pencaharian dan lainnya.

Misalnya, seorang warga yang selama bertahun-tahun menjadi pemulung tentu tidak mudah mencari pekerjaan baru ketika menempati rusun. Belum lagi lokasinya yang jauh dari tempat awal dia tinggal.

"Mencari pekerjaan baru tidak gampang, apalagi peluang kerja sempit. Sementara pas tinggal di rusun mereka juga harus memikirkan bayar sewa. Padahal buat makan saja repot," pungkas Rico.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meminta para penghuni rusunawa untuk bekerja.

Dia juga mengingatkan agar mereka tidak selalu mengharapkan bantuan dan tinggal di rusun secara gratis.

Djarot pun menyinggung soal penghuni rusun yang mampu membeli rokok, tapi tak mampu membayar uang sewa rusun.

"Beli pulsa bisa, beli bensin bisa, beli rokok bisa, masa kewajiban untuk membayar sewa iuran untuk merawat, memfungsikan rumah susun enggak mampu," ujar Djarot di Balai Kota DKI Jakarta.

Djarot mempersilakan warga yang tak lagi ingin tinggal di rusun untuk keluar dari huniannya. Dia tidak ingin penghuni rusun hanya berdiam diri dan tidak berusaha.

"Barangkali punya tempat yang lain, ada kontrakan yang lebih murah, silakan. Mereka yang tinggal di situ (rusun) kan tidak bisa ongkang-ongkang, hidup itu kan juga harus berjuang, enggak bisa semuanya gratisan," kata dia.

Djarot telah memerintahkan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta untuk mengeluarkan penghuni rusun yang tak membayar uang sewa.

Berdasarkan data Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, hingga saat ini ada 3.008 warga umum dan 6.514 warga terdampak penggusuran yang menunggak sewa rusun hingga mencapai sekitar Rp 32 miliar.

Dinas Perumahan akan mengeluarkan warga umum yang menunggak selama tiga bulan berturut-turut.[www.tribunislam.com]

Sumber : umatuna.com

Sebarkan...