Dahsyat, Ini Upaya Yang Dilakukan Barisan Emak Medsos Untuk Menolak SNSD Yang Sudah Sampai Jakarta


Dahsyat, Ini Upaya Yang Dilakukan Barisan Emak Medsos Untuk Menolak SNSD Yang Sudah Sampai Jakarta

#TOLAKSNSD Apa yang telah kami lakukan dan hasilnya:

Begitu membaca seliweran berita media mainstream di timeline (29/07), saya lumayan lama tercenung. Separah ini negara kita? Maka jelang Maghrib itu membuat draft petisi. Sambil terus berdzikir.

Petisi diluncurkan pada 29/07.

Pada Subuh esok harinya, jumlah yang menandatangi masuk angka ribuan. Hari itu saya mulai menerima teror SONE baik via twitter, ig, atau inbox fb.

Triawan Munaf mengklarifikasi bahwa SNSD diundang dalam rangka countdown Asian Games....

Hanya saja Triawan lupa kalau dalam konpers, dia dan Mensesneg juga sudah menjelaskan bahwa countdown Asian Games adalah bagian dari rangkaian acara HUT RI 72 yang diselenggarakan sebulan penuh (cek video utuhnya).

Eniwei, cacian dan makian menjadi-jadi dari SONE (dan sepertinya buzzer kotak-kotak juga). Termasuk dari salah satu alumni Fikom Unpad lulusan 2016 yang di media sosialnya mengatai saya dosen tong kosong nyaring banget, lebih delulu dari dua yang lain (Bu Elly dan Uni Zara), lebih rude dan membuat dia malu banget karena sama-sama berasal dari Fikom Unpad.

Pada hari kedua, penandatangan petisi tembus angka 10 ribu.

Sepekan petisi sudah masuk angka 15ribuan. Banyak yang bertanya, apalagi nih setelah petisi? Saya selalu mencoba menyampaikan update dan blast di medsos tentang petisi ini. What next?

Maka terbentuklah Aliansi Perempuan Cinta Pertiwi, diketuai Savia Hunon Daramita, mantan kpoper yang merasa seram melihat keadaan ini. Walau mantan kpoper, setelah punya anak perempuan, dia merasa mulai senewen melihat perkembangan ke sini-sininya.

Dari situ bergerak di berbagai kota, koordinasi, mencari celah bisa bertemu siapa saja, membuat surat-surat, mengumpulkan dana untuk mencetak petisi seribu lebih halaman yang berbiaya lebih sejuta. KPPA, Kemensos, Sesneg, DPR. Gerilya mengirimkan petisi dan surat-surat permohonan audiensi.

DPR reses, hanya bisa menerima audiensi setelah 22 Agustus, kata Aspri.

Bekraf malah mengajak bertemu 9 Agus. Yang hadir adalah yang sedang di Jakarta. Triawan tetap berkeras undangan pada SNSD tidak bisa dibatalkan. Setelah pertemuan, media-media dikirimkan pers release. Beberapa menurunkan berita (nanti saya update media mana yang memuat pers release ini).

Karena Bekraf tetap berkeras, maka cari cara lain.

Saya mencari kontak ke Kedubes Korea Selatan di Jakarta karena Triawan menyebut hubungan baik dua negara sebagai resiko pembatalan ini. Sejujurnya membaca catatan pertemuan, logika yang disampaikan Triawan mirip logika SONE Indonesia.

DPR masih reses. Aleg belum bisa diajak komunikasi.

Sambil itu, berusaha mencoba memberikan jawaban pada Koreaboo yang menuding siapapun yang menolak kedatangan SNSD sebagai radikal dsb. Sayangnya, twitter yang saya tujukan pada mereka tak dijawab sedikit pun. Lebih 20 cuitan, bertepuk sebelah tangan. Hak jawab saya dihilangkan begitu saja. Ah, sudahlah ya.

Saya lalu berusaha intens komunikasi dengan sekretaris Kedubes Korsel dan diberikan nomor telepon KCC Indonesia. Sambil kontak dengan rekan periset dari Korsel, mencari celah bicara dengan media berkualitas di Korea Selatan.

Tadi pagi Kemensos memberikan waktu bertemu. Intinya, kekuatiran kami juga kekuatiran pihak Kemensos. APCP ditawari bertemu dengan Mensos langsung.

Dan ini sudah dua hari sebelum tanggal penampilan SNSD. Mereka sudah sampai di Indonesia. Panitia mengatakan mereka dipastikan akan tampil Jumat ini.

Sementara yang di Jakarta bekerja, saya berusaha maksimal melakukan bagian saya. Termasuk menulis surat resmi ke Kedutaan Korsel cc KCC Indonesia via bagian media Kedutaan.

Juga akhirnya terkonek pada Aleg dan menyampaikan protes ibu-ibu dan bapak-bapak semua.

Beliau kaget dan heran karena sedari awal DPR sudah melarang Bekraf dkk mengundang artis luar negeri.

Saya sampaikan juga betapa rakyat merasa babak belur dan seperti ditinggalkan wakil rakyat di parlemen.... rakyat (saya dan ibu-ibu BEM...Barisan Emak Medsos) merasa pontang-panting sendiri menyelamatkan generasi muda ini.

Beliau meyakinkan tidak demikian adanya. Sudah sedari awal DPR melarang undangan pada artis luar negeri. Maka saya berikan semua file dan catatan komunikasi.

Saya sampaikan, kami siap menunggu arahan. Bola diberikan pada wakil rakyat. Kami, kita, siap menunggu apalagi yang harus dilakukan.....

Demi apa?

Ini tidak sekedar penampilan dua gadis Korea berkain kebaya -jika benar Triawan berhasil memakaikan pakaian nasional pada SNSD....demikian niatnya dulu disampaikan pada tim APCP (09/08).... Ini tentang nilai yang hendak disampaikan dan diwariskan pada anak cucu di Bulan Kemerdekaan.

Baru saja, rekan sesama periset asal Korsel membalas lagi imel saya dan mengatakan, sulit baginya mencarikan reporter Korea yang fasih berbahasa Inggris. Dia paham dengan kekuatiran saya dan mengerti dari mana kekuatiran itu berasal. Dia juga tertarik ingin mengetahui bagaimana akhirnya kisah ini.

Ya Rabb....ampuni segala kekurangan kami.....Ampuni kami...ampuni kami dan mereka.[www.tribunislam.com]

Sumber : Maimon Herawati

Sebarkan...