Pengamat: “Phobia Islam itu 100 Persen Anti Pancasila dan Anti NKRI!”


Pengamat: “Phobia Islam itu 100 Persen Anti Pancasila dan Anti NKRI!”

Aksi Simpatik 5 Mei 2017 oleh sementara pihak dianggap sebagai gerakan yang ingin menekan hakim jelang putusan kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).


Tak hanya itu, hampir setiap aksi yang digalang Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) hampir selalu dikait-kaitkan dengan tudingan makar terhadap Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Terkait semakin derasnya tudingan makar di balik aksi umat Islam, anggota DPR-RI Komisi I Fraksi Partai Golkar, Yayat Biaro, menegaskan bahwa siapapun yang phobia Islam berarti seratus persen anti Pancasila dan anti NKRI.

“Phobia Islam itu 100 persen anti Pancasila anti NKRI. Sila tuan renungkan semua tulisan Alm Ir. Soekarno. Bapak Proklamator RI. Jasmerah,” tegas Yayat di akun Twitter @yayatbiaro.

Secara khusus Yayat juga mengomentari Aksi 55 dan aksi kirim karangan bunga di Jakarta. “Maafkan rakyat kecil yang tak mampu hamburkan ratusan ribu untuk kirim karangan bunga ke Polda. Mereka punya cara lain untuk bersyukur,” tulis @yayatbiaro.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengomentari tuntutan Umat Islam melalui Aksi Simpatik 55, yang menuntut tambahan vonis hukuman untuk Ahok dalam sidang kasus dugaan penistaan agama.

Djarot bahkan meminta seluruh pihak yang tidak menyukai Ahok untuk berlapang dada, apapun vonis hakim.

Politisi PDI Perjuangan tersebut pun mengimbau agar pihak yang memaksa agar hakim menjatuhkan hukuman yang berat pada Ahok, untuk membiarkan hakim menjalankan tugasmya secara benar.
Hakim harus memiliki independensi dan tidak ada satupun yang bisa melakukan intervensi atau mempengaruhi keputusan hakim dalam menerapkan keadilan. “Biarkan hakim betul-betul mempunyai independensi dan rasa keadilan untuk memutuskan apapun,” kata Djarot seperti dikutip tribunnews (03/05). -intelijen[www.tribunislam.com]

Sumber : kabarviral.id

Sebarkan...