Ironis, Refleksi May Day,Buruh Lokal vs Buruh Ilegal Asal China


Ironis, Refleksi May Day,Buruh Lokal vs Buruh Ilegal Asal China

1 Mei menjadi hari yang sakral bagi kaum buruh. Tanggal itu merupakan Hari Buruh Internasional (May Day) yang selalu diperingati dengan aksi demo besar-besaran. Di hari itu, ribuan buruh akan berdemo, baik di Jakarta maupun di daerah-daerah.



4 Tahun setelah 1 Mei dijadikan hari libur Nasional, perjuangan buruh dianggap belum berhasil. Praktik kerja outsourcing, pemberangusan serikat buruh, sistem kerja kontrak yang tak berkesudahan, sistem jaminan sosial yang belum merata, sistem pengupahan yang selalu tidak mencukupi karena tingginya kebutuhan hidup masih menjadi isu yang diangkat kaum buruh setiap May Day.

Namun selain kesejahteraan, keberadaan pekerja ilegal asal China juga menjadi sorotan kaum buruh. Hal ini lantaran di sejumlah daerah ditemukan adanya buruh ilegal asal China. Para pekerja ilegal itu bekerja dalam proyek-proyek yang digarap oleh perusahaan China.

Salah satu kasus yang membetot perhatian publik adalah pekerja ilegal asal China di Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang, Buleleng, Bali. Di Tempat tersebut pernah ditemukan ratusan pekerja asal China yang diduga ilegal. Beberapa kali lokasi tersebut disidak petugas.

Minggu lalu, petugas Imigrasi Singaraja kembali menemukan 7 pekerja ilegal. Mereka pun langsung dideportasi ke negara asalnya. "Dari pemeriksaan selama ini, ketujuh WNA itu, terbukti tidak memiliki dokumen ketenagakerjaan sah dan hanya mengantongi visa kunjungan biasa (visa on arrival)," ungkap Kepala Kantor Imigrasi Singaraja, Victor Manurung, Selasa (4/4) lalu.

Tak cuma di PLTU Celukan Bawang, Imigrasi Pekanbaru juga pernah memulangkan paksa belasan pekerja ilegal ke China. Di beberapa tempat juga sudah sering para pekerja Ilegal itu dipulangkan. Namun hingga kini masih saja ditemukan adanya pekerja asing tanpa izin. Lalu mengapa hal ini terjadi?

Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dede Yusuf menyebut ada berbagai alasan menjamurnya pekerja ilegal asal China di Tanah Air, salah satunya aturan bebas visa. "Bebas visa menjadi faktor merangsang banyaknya orang asing yang masuk, termasuk dari China. Pemerintah harus memperbanyak fungsi pengawasan dan penjagaan yang ketat," ujar Politikus Partai Demokrat ini kepada merdeka.com dalam sambungan telepon, Jumat (28/4) lalu.

Menurut mantan Wakil Gubernur Jawa Barat ini, pekerja legal asal China diperkirakan mencapai 20 ribu. Namun yang ilegal alias tidak berizin ditaksir lebih banyak dari itu. "Yang ilegal itu bisa tiga kali lipat dari yang legal. Kalau yang legal 20 ribu, maka yang ilegal tinggal dikalikan tiga," terangnya.

Menurut Dede, masifnya pekerja China mencari makan di Tanah Air tak bisa dilepaskan dari masuknya perusahaan penanaman modal asing (PMA). Perusahaan asal China itu mendapat proyek-proyek dari Pemerintah Indonesia tetapi mereka juga membawa tenaga kerja dari negaranya.

"Jadi dalam ketika perusahaan dari China itu menang proyek mereka membawa tenaga kerja dari negaranya. Kenapa karena pengangguran di sana itu mencapai 5 persen. Jumlah penduduk mereka 1 miliar, 5 persennya itu 50 juta. Nah pengangguran sebanyak itu mau dikemanakan, akhirnya ketika ada proyek-proyek PMA, tenaga kerja mereka dibawa. itulah yang terjadi di Indonesia," ujarnya.

Lalu bagaimana soal gaji yang diterima para pekerja ilegal asal China? Menurut Dede, dari informasi yang dia terima, para pekerja itu mendapat upah tiga kali lipat dari pekerja lokal. Namun yang mereka terima di Indonesia hanya sepertiganya saja.

"Jadi gaji mereka yang dua per tiga itu dikirim ke negara atau keluarga mereka di sana. Sisanya yang satu pertiga diterima mereka yang bekerja di sini," ujarnya.

Ketua Harian Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Syukur Sarto menyebut, organisasinya selama ini keras menentang masuknya pekerja ilegal. Dia pun meminta pemerintah serius mengawasi masuknya serbuan pekerja ilegal itu.

"Pengangguran di kita sendiri masih banyak mengapa harus dari negara luar. Seolah orang kita ini tidak dihargai. Kita dari dulu keras menolak itu," ujar Syukur kepada merdeka.com kemarin.

Menurutnya, para pekerja ilegal asal China itu juga tidak memiliki kualitas di atas tenaga kerja Indonesia. Syukur bahkan menyebut mereka lebih buruk dalam hal kerja.

"Karena mereka dapat proyek di sini (Indonesia) harusnya yang dipekerjakan yang orang lokal. Toh kualitas kita juga masih menang dibanding pekerja asal China itu. Dan jumlah mereka itu jutaan, bukan hanya puluhan atau ratusan ribu," ujarnya geram.

Namun soal serbuan tenaga ilegal asal China itu dibantah Menteri Tenaga Kerja dan Imigrasi Hanif Dhakiri. Hanif justru mengatakan tenaga kerja Indonesia yang menyerbu China dan negara-negara lain. Hal itu bisa dilihat dari jumlah tenaga kerja asal negara-negara tertentu dan jumlah tenaga kerja Indonesia di negara tersebut. Hanif menyebut pekerja asal China jumlahnya fluktuatif sekitar 14.000-16.000 orang dalam satu tahun. Setiap tahun, tenaga kerja China di Indonesia jumlahnya hanya sekitar 20-22 persen.

"Di Indonesia pekerja asing cukup ketat aturannya. Ada syarat kompetensi dan alih teknologi. Intinya, hanya pekerja yang memiliki skill saja yang boleh masuk. Selama mereka legal dan tak melanggar aturan asing, tak masalah, ujar Hanif.

Jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia saat ini mengalami penurunan yang cukup besar dari tahun 2011 hingga 2013, yaitu dari 77.303 hingga menjadi hanya 68.957 TKA. Sementara, tahun 2013-2015 jumlah TKA cenderung stabil di angka 69 ribu.

Perhitungan tersebut berdasarkan jumlah IMTA (Izin Mempekerjakan Tenaga Asing) yang dikeluarkan pemerintah, tepatnya Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing (PPTKA), Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI.

Jumlah rata-rata TKA di Indonesia per tahun 70 ribu atau 0,027 persen rata-rata TKA terhadap penduduk Indonesia. Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan angkatan kerja Indonesia yang mencapai 158 juta orang pada tahun 2016, atau 0,05 persen rata-rata terhadap angkatan kerja Indonesia. Data 30 Juni 2016, jumlah total tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia sebesar 43.816 ribu orang asing. [www.tribunislam.com]

Sumber : merdeka.com

Sebarkan...