Ini yang Dikatakan Perwakilan Bela Ulama Setelah Beraudiensi dengan Kapolda Kalbar


Ini yang Dikatakan Perwakilan Bela Ulama Setelah Beraudiensi dengan Kapolda Kalbar

Lebih dari satu jam perwakilan massa aksi 205 atau Aksi Bela Ulama beraudiensi langsung dengan Kapolda Kalbar Brigjend Pol Erwin Triwanto, di Coffee Morning Room Mapolda Kalbar, Sabtu (20/5) sore.



Pertemuan yang mempertemukan 13 perwakilan aksi massa dengan Kapolda Kalbar tersebut tertutup untuk awak media.

Setelah pertemuan, perwakilan tim audiensi, Habib Abdurrahman, mengatakan, pihaknya menuntut dua point kepada Kapolda Kabar.

Ia memaparkan kedua point tersebut yaitu mendesak pihak kepolisian untuk segera memperoses secara hukum Gubernur Kalbar Cornelis atas laporan yang telah diajukan Tim Advokat Bela Ulama secara resmi kemarin, Jumat (19/5) di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Kalbar. Cornelis dilaporkan atas dugaan ujaran kebencian pada pidatonya di Kabupaten Landak beberapa waktu lalu.

“Terus terang, di Indonesia, tidak ada seorang Gubernur yang memproklamirkan dirinya sebagai Provokator, baru Gubernur Kalbar ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, agar aparatur kepolisian harus netral terhadap siapapun. Setiap orang dimata hukum harus diperlakukan sama.

“Siapapun dia, pejabat kah, aparat kah, apapun latar belakangnya, kalau mereka coba-coba menodai Pancasila, merusak NKRI, kalau mereka coba-coba menghina simbol agama kami, diantaranya Al-Qur’an dan Ulama, siapapun dia, kami akan tempuh jalur hokum,” paparnya.

Ia menjelaskannya, tuntutan yang kedua adalah, agar pihak kepolisian tidak mengulangi pengusiran ulama sebagaimana kejadian di Bandara Internasional Supadio Pontianak. Karena sejauh ini, sudah dua kali ulama yang menjadi simbol agama Islam tersebut mengalami pengusiran di tanah Kalimantan Barat.

“Kami tidak ingin kembali terjadinya pengusiran terhadap ulama, karena itu simbol agama kami, kami minta ulama diamankan, bukan diusir,” tegasnya.

“Kami minta keadilan, kami tidak mau anarkis, kami masih hormat dan patuh akan hukum, kami masih hormat terhadap polisi,” sambungnya.

Ia menegaskan, pihaknya tidak memusuhi dayak, karena banyak diantara mereka yang memeluk agama Islam. Dan dayak yang nonmuslim pun baik akhlaknya.

“Bahkan santri kami di pesantren pun banyak yang bersuku dayak, kami sayang, kami cinta kepada mereka, apalagi TNI Polri kami Cinta dan sayang kepada TNI Polri,” sebutnya.

Massa Aksi Bela Ulama di Mapolda Kalbar tersebut membubarkan diri tepat pukul 16.00, sampai berita ini diturunkan kondisi masih aman dan kondisif.[www.tribunislam.com]

Sumber : thetanjungpuratimes.com

Sebarkan...