Bush, Amerika dan Kelahiran Gerakan Minahasa Merdeka


Bush, Amerika dan Kelahiran Gerakan Minahasa Merdeka

Sekelompok orang mengancam akan mendirikan negara Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara. Ancaman merdeka disampaikan menyusul kecewakan terhadap putusan hakim yang memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Bahkan, ada beberapa di antaranya yang mengibarkan bendera Minahasa Raya. Berkembangnya isu Minahasa Merdeka ini pun menjadi viral di media sosial dan media massa.

Namun perlu diingat deklarasi Minahasa Merdeka ini bukan pertama kali terjadi. Pada September 2006 lalu, sekelompok orang di Minahasa juga mendeklarasikan gerakan  kemerdekaan tersebut.

"Dolfie Maringka pada 25 September 2006 mendeklarasikan pendirian Gerakan Minahasa Merdeka sebagai respons atas eksekusi tiga warga Kristen yang terbukti terlibat dalam pembunuhan di Sulawesi Tengah," tulis Sven Kosel dalam artikelnya yang dimuat di buku "Christianity in Indonesia Perspectives of Power" dan mengutip laman Sulutlink.

Deklarasi Gerakan tersebut dilakukan sekitar dua bulan jelang kehadiran Presiden AS George W. Bush. Pada November 2006. George W Bush yang datang ke Indonesia menjadi topik hangat di nusantara, saat berkunjung le Minahasa, kedatangan presiden AS itu langsung mendapatkan banyak kritik dan empati. Berbagai aksi baik dukungan dan penolakan dari kelompok seperti FPI, Hizbut Tahrir dan lainnya.

Saat itu, kedatangan Bush  tak hanya diributkan soal demo-demo tandingan. Namun kekuatan-kekuatan supranatural, seperti Ki Gendeng Pamungkas yang getol menyantet untuk mencelakai Presiden Amerika, menjadi topik hangat menjelang kedatangan pemimpin dunia itu.

Menariknya, pada hari hampir bersamaan dengan Ki Gendeng Pamungkas mulai menyantet Bush, ternyata pasukan adat Tanah Minahasa yang getol dikenal Brigade Manguni (BM), telah lebih dulu membentengi Presiden Amerika itu dari pengaruh-pengaruh kekuatan jahat.

Upacara adat untuk menangkal kekuatan-kekuatan magis dan jahat itu, ternyata digelar sebanyak dua kali di hari "H" kedatangan George W Bush ke Indonesia. Bisa dibilang hal tersebut merupakan sambutan dan perlindungan yang diberikan pemuka adat.

Berbagai tulisan poster seperti "Welcome Mr Bush" , "God Be With You" dan "I love you Bush, Welcome to Manado, Jerrusalem in Indonesia" dibentangkan saat kedatangan George W Bush. Dolfie Maringka yang merupakan pendiri gerakan Minahasa Merdeka diketahui merupakan salah satu penggerak utama kampanye pendukung Bush.

Bila kembali menarik benang merah ke belakang, gerakan kemerdekaan di Minahasa sudah pernah terjadi di masa lampau yang juga dikenal dengan "Permesta" (Perjuangan Rakyat Semesta). Gerakan itu meletus di Tanah Minahasa sekitar 60 tahun yang lalu.  Saat itu, di Minahasa dilanda sebuah Perang Saudara, selama empat tahun (1958-1961). Waktunya memang sangat singkat, tapi sekitar 15 ribu nyawa melayang.

Banyak yang menyebut gerakan "Permesta" hanyalah tumpangan oleh Amerika Serikat untuk menimbulkan kekacauan di Indonesia pada saat itu. Cara Amerika menumpang, dengan mengadu domba dan memberi janji. Janji semakin dipercaya setelah Amerika memberi bantuan. Mulai dari persenjataan perang, termasuk pesawat tempur, dan penasehat militer.

Keterlibatan AS itu tidak permanen. Ikut berubah, begitu politik global berubah. Bantuan dihentikan dan Amerika sampai sekarang tetap bersikap seolah-olah bersih dalam keterlibatan di "Perang Saudara Permesta".

Pemerintah Indonesia belum bersikap tegas terhadap Gerakan Minahasa Merdeka. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengingatkan, setiap warga negara Indonesia tidak boleh menuntut kemerdekaan. Meski begitu, ia akan lebih mengedepankan pendekatan secara bijak. Hal itu lantaran ia menduga, tuntutan referendum Minahasa merdeka hanya sebuah sikap spontan saja.

"Nggak boleh. Deklarasi nggak boleh. Kita akan lakukan tindakan persuasif dulu pada saudara-saudara di sana. Ini kan negara NKRI, harus kita pertahankan.  Kita lakukan langkah-langkaj persuasif kepada saudara-saudara kita untuk mengimbau, mungkin mereka hanya reaksi spontan saja, emosional," kata Tito usai mengisi kuliah umum bertema 'Peran dan Fungsi Polri Dalam Mengawal Serta Menjaga Keutuhan NKRI' di sela Muktamar ke-XIX PMII di Asrama Haji Kota Palu, Senin (15/5) malam Wita

Menurut Tito, hendaknya setiap masyarakat bersama-sama menjaga keutuhan negara Indonesia. Karena itu, ia tidak ingin konflik antarmasyarakat terjadi di Indonesia.

"Saya mengimbau masalah primordialisme kesukuan, keagamaan, kekerasan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Karena para pemimpin pendiri bangsa kita dari 1928 sampai 1945 sudah menepikan, meminggirkan perbedaan itu jadi bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa," kata Tito.

Meski begitu, Tito berjanji untuk menindak mereka yang benar-benar ingin memisahkan diri dari NKRI. "Kami akan lakukan langkah-langkah tegas," kata Tito.[www.tribunislam.com]

Sumber : republika.co.id

Sebarkan...